Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Putusan Mahkamah AS soal Tarif: Berkah Sementara bagi Asia Tenggara?

Putusan Mahkamah AS soal Tarif: Berkah Sementara bagi Asia Tenggara?
ilustrasi penduduk lokal Indonesia (unsplash.com/Fikri Rasyid)
Intinya Sih
  • Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif impor era Trump, menurunkan beban hingga 10 persen bagi negara Asia Tenggara dan memberi napas lega sementara bagi eksportir regional.
  • Indonesia dan Malaysia menghadapi dilema antara manfaat pengecualian tarif dan tekanan politik domestik terkait perjanjian perdagangan yang dinilai lebih menguntungkan pihak AS.
  • Vietnam dan Thailand menikmati peluang ekspor lebih besar, sementara ASEAN memperkuat koordinasi regional untuk menghadapi ketidakpastian kebijakan perdagangan global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pernah kebayang kalau keputusan sebuah pengadilan di Amerika Serikat bisa berpengaruh ke perekonomian negara-negara di Asia Tenggara? Itulah yang terjadi belakangan ini setelah Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif impor yang pernah diberlakukan oleh Presiden Donald Trump.

Bagi banyak negara di Asia Tenggara, putusan ini terasa seperti angin segar di tengah tekanan ekonomi global. Namun, ada sisi lain yang perlu dipahami juga. Keputusan ini memicu perdebatan di kalangan pelaku usaha, pemerintah, bahkan analis ekonomi.

Yuk, simak poin-poin pentingnya supaya kamu bisa melihat gambaran besarnya.

1. Napas lega sementara bagi eksportir regional

ilustrasi bendera Amerika Serikat
ilustrasi bendera Amerika Serikat (unsplash.com/Aditya Vyas)

Dilansir CNA, putusan Mahkamah Agung AS menyatakan bahwa penggunaan wewenang menurut International Emergency Economic Powers Act untuk menetapkan tarif tinggi tanpa persetujuan Kongres adalah tidak konstitusional. Akibatnya, tarif tinggi yang sebelumnya mencapai lebih dari 19 persen sementara diturunkan menjadi 10 persen untuk hampir semua negara Asia Tenggara selama 150 hari. Penurunan ini memberi ruang bernapas bagi eksportir di kawasan untuk bergerak cepat.

Professor Lawrence Loh, seorang akademisi dari National University of Singapore Business School, mengatakan bahwa keputusan ini memang memberikan keringanan sementara, tapi kepastian masih jauh dari kuat karena pemerintahan AS bisa menggunakan dasar hukum lain untuk memberlakukan tarif baru. Kamu perlu tahu kalau dalam dunia perdagangan internasional, aturan bisa berubah dengan cepat sesuai dinamika politik dan ekonomi global. Jadi, meski ekspor bisa meningkat sekarang, jangka panjangnya tetap belum jelas.

2. Indonesia dan Malaysia di persimpangan kepentingan

ilustrasi Kuala Lumpur, Malaysia
ilustrasi Kuala Lumpur, Malaysia (unsplash.com/Hongwei FAN)

Beberapa negara seperti Indonesia dan Malaysia sudah menandatangani perjanjian timbal balik perdagangan dengan AS, dengan beberapa pengecualian tarif untuk produk tertentu. Misalnya, Indonesia mendapat pengecualian untuk minyak sawit, sedangkan Malaysia untuk semikonduktor. Tapi ini disertai komitmen membuka pasar untuk produk AS dengan syarat yang cukup luas.

Bhima Yudhistira, pendiri Center of Economic and Law Studies, menyatakan bahwa perjanjian ini dinilai kontroversial karena dianggap memberi keuntungan besar ke AS sementara bagi beberapa pihak dalam negeri dianggap mengurangi ruang manuver ekonomi nasional. Para kritikus di kedua negara bahkan mengusulkan renegosiasi atau peninjauan kembali kesepakatan tersebut. Kamu bisa melihat kalau kebijakan ini bukan hanya soal ekonomi, tapi juga sentimen politik dan kedaulatan nasional yang ikut diperdebatkan publik.

3. Vietnam dan Thailand: pemenang tak terduga

ilustrasi Ho Chi Minh City, Vietnam
ilustrasi Ho Chi Minh City, Vietnam (unsplash.com/Georgios Domouchtsidis)

Negara seperti Vietnam dan Thailand justru berada di posisi lebih menguntungkan dalam situasi ini. Sebelum putusan Mahkamah Agung, kedua negara sempat dikenai tarif tinggi, masing-masing sekitar 20 persen untuk Vietnam dan 19 persen untuk Thailand. Penurunan tarif menjadi 10 persen memberi peluang bagi perusahaan mereka untuk meningkatkan ekspor dalam jangka pendek.

Pavida Pananond, profesor bisnis internasional di Thammasat Business School, menyampaikan bahwa ketidakpastian tarif dunia telah mendorong banyak pelaku usaha menata ulang rantai pasok global mereka. Negara-negara seperti Vietnam dan Thailand sekarang menjadi alternatif menarik bagi perusahaan yang mencari stabilitas biaya produksi. Kamu bisa lihat bahwa keuntungan yang muncul sekarang bukan hanya soal tarif lebih rendah, tapi juga posisi strategis dalam peta investasi global.

4. Singapura: relatif stabil tapi tetap waspada

ilustrasi warga Singapura (pexels.com/Kenny Foo)
ilustrasi warga Singapura (pexels.com/Kenny Foo)

Singapura gak terlalu terpengaruh langsung oleh putusan ini karena tarifnya sudah 10 persen sebelum perubahan berlaku. Namun, negara ini tetap memperhatikan tren global yang lebih luas. Singapura terkenal sebagai pusat keuangan dan logistik dunia, dan keunggulannya gak hanya bergantung pada tarif perdagangan.

Edward Lee, Kepala Ekonom di Standard Chartered, menjelaskan bahwa keunggulan Singapura mencakup stabilitas institusional, kapabilitas finansial yang kuat, konektivitas global, serta produktivitas sumber daya manusia. Tarif memang penting, tapi faktor-faktor ini lebih menentukan daya saing jangka panjang. Kamu yang mengikuti perkembangan ekonomi global pasti setuju kalau stabilitas lebih penting dibanding keuntungan sesaat.

5. ASEAN sebagai wadah koordinasi regional

ilustrasi ASEAN
ilustrasi ASEAN (freepik.com/www.slon.pics)

Karena ketidakpastian di tingkat global, negara-negara Asia Tenggara kian melihat peran ASEAN sebagai platform untuk berdiskusi dan berkoordinasi. Isu tarif impor dari AS sudah menjadi topik pembicaraan dalam pertemuan regional, dan hal ini diperkirakan akan terus muncul di forum ASEAN mendatang.

Koordinasi semacam ini penting supaya negara-negara anggota bisa mempertahankan posisi tawar bersama dalam hubungan ekonomi dengan luar negeri. Bagi kamu yang mengikuti kebijakan luar negeri, ini menunjukkan bahwa kerja sama regional gak hanya soal diplomasi politik, tapi juga soal stabilitas ekonomi yang memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat di kawasan.

Putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat memang membawa keringanan tarif yang terasa sebagai berkah sementara bagi banyak negara Asia Tenggara. Eksportir mendapat ruang gerak lebih besar dalam jangka pendek, sementara beberapa negara mengalami keuntungan strategis dari perubahan ini. Di sisi lain, ketidakpastian tetap menghantui karena aturan baru bisa muncul sewaktu-waktu.

Indonesia dan Malaysia tengah menghadapi tekanan domestik terhadap perjanjian perdagangan mereka. ASEAN menjadi sorotan sebagai forum yang mungkin bisa membantu negara-negara kawasan menghadapi dinamika global ini bersama-sama. Jadi, meski berkah terasa nyata, tantangan di depan masih terbuka lebar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More