Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rupiah Nyaris Rp18 Ribu per Dolar AS, Hipmi: Dunia Usaha dalam Tekanan

Rupiah Nyaris Rp18 Ribu per Dolar AS, Hipmi: Dunia Usaha dalam Tekanan
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
Intinya Sih
  • Nilai tukar rupiah melemah hingga mendekati Rp18 ribu per dolar AS, menimbulkan tekanan besar bagi pelaku usaha di berbagai sektor.
  • Pengusaha menahan kenaikan harga karena konsumsi belum pulih, namun jika pelemahan berlanjut, biaya produksi bisa diteruskan ke konsumen.
  • Analis memprediksi rupiah masih berpotensi melemah akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kalangan dunia usaha mengakui tekanan terhadap aktivitas produksi kian berat seiring pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dalam beberapa waktu terakhir, rupiah terus terdepresiasi dan mencatat level terlemah baru.

Pada pembukaan perdagangan hari ini, rupiah berada di level Rp17.897 per dolar AS. Pelemahan berlanjut hingga siang hari, ketika mata uang Garuda menyentuh Rp17.938 per dolar AS, menandakan tekanan terhadap rupiah masih belum mereda.

"Pelemahan rupiah yang sudah mendekati Rp18 ribuper dolar AS tentu menjadi tekanan serius bagi dunia usaha. Kondisi saat ini tidak bisa dianggap biasa," kata Sekretaris Jenderal BPP Hipmi Anggawira saat dihubungi, Rabu (3/6/2026).

1. Dunia usaha dalam fase menahan beban

ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)

Anggawira menjelaskan, pengusaha saat ini belum memiliki ruang yang cukup untuk meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen. Pasalnya, konsumsi rumah tangga belum sepenuhnya pulih sehingga kenaikan harga berisiko menurunkan permintaan.

"Dunia usaha saat ini sedang menahan beban. Biaya produksi naik karena kurs melemah, tetapi pengusaha tidak bisa serta-merta menaikkan harga kepada konsumen karena risikonya permintaan turun," kata Anggawira.

2. Jika pelemahan terus berlanjut, dunia usaha akan naikkan harga barang

ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)

Anggawira menjelaskan, untuk sementara, pelaku usaha masih mengandalkan berbagai langkah efisiensi, seperti menekan margin keuntungan, menunda ekspansi, dan melakukan renegosiasi kontrak.

Namun apabila pelemahan rupiah berlangsung lama, tekanan biaya diperkirakan akan mulai diteruskan ke harga barang dan jasa secara bertahap.

"Tetapi kalau pelemahan rupiah berlangsung terlalu lama, tekanan biaya ini pada akhirnya sulit ditahan dan bisa mulai diteruskan ke harga konsumen secara bertahap," tegasnya.

3. Rupiah masih akan melemah hingga penutupan perdagangan

ilustrasi rupiah
ilustrasi rupiah (pixabay.com/IqbalStock)

Analis mata uang, Lukman Leong mengatakan, nilai tukar rupiah berpotensi melanjutkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali memicu kekhawatiran pasar global. Eskalasi konflik di kawasan tersebut juga mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan minat investor terhadap aset-aset aman (safe haven) seperti dolar AS.

"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS oleh eskalasi baru di timteng memicu kekuatiran akan harapan damai dan melonjakan harga minyak dunia. Range Rp17.800-Rp17.900 per dolar AS," ucapnya.

Share Article
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati

Related Articles

See More