Ilustrasi Obligasi/Surat Berharga. (IDN Times/Aditya Pratama)
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Suminto, mengatakan, penerbitan Panda Bond akan dilakukan setelah pertemuan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan para investor di Beijing.
Namun, dia belum mau membeberkan secara rinci besaran maupun target yang ingin dicapai dari penerbitan surat utang berdenominasi yuan tersebut. Dia juga membenarkan adanya rencana kunjungan Menteri Keuangan ke Inggris untuk bertemu investor global. Dalam pertemuan tersebut, Purbaya akan berdialog dengan investor yang selama ini menempatkan dana pada obligasi berdenominasi dolar Amerika Serikat dan euro.
“Kalau di London kan semua investor besar ada di sana dan kami memang secara reguler melakukan investor update,” kata dia.
Data Kementerian Keuangan, yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun berada di level 6,68 persen per 3 Juni 2026. Angka tersebut relatif stabil dibandingkan beberapa bulan sebelumnya, meskipun pasar global masih dibayangi ketidakpastian. Adapun dari Mei sampai Juni cenderung flat di Rp60,67 triliun, saat ini naik sedikit ke Rp60,68 triliun, tetapi relatif stabil.
Selain itu, selisih yield (spread) Surat Berharga Negara (SBN) terhadap obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) juga dinilai masih terkendali. Karena yield spread SBN terhadap US Treasury tenor 10 tahun relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah negara berkembang lainnya. Hal ini mencerminkan risiko negara (country risk) Indonesia yang masih terjaga.
Dari sisi permintaan investor, lelang SBN sepanjang tahun ini juga menunjukkan hasil yang solid. Bid-to-cover ratio lelang SUN tercatat rata-rata 1,8 kali, sementara Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) mencapai 2,6 kali.