Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa Itu Risk-On dan Risk-Off? Ini Bedanya dalam Dunia Investasi
ilustrasi memantau pasar (magnific.com/standret)
  • Risk-on terjadi saat investor optimistis dan berani memburu imbal hasil lebih tinggi pada saham, komoditas, atau kripto, terutama ketika ekonomi tumbuh, ketidakpastian mereda, atau suku bunga lebih rendah.
  • Risk-off muncul ketika kekhawatiran resesi, konflik, inflasi, atau masalah keuangan meningkat; investor mengurangi aset berisiko dan mengalihkan dana ke obligasi pemerintah, emas, atau dolar AS.
  • Sentimen risk-on dan risk-off memengaruhi aliran dana lintas aset, tetapi bukan sinyal harga pasti; pergerakan tetap dipengaruhi fundamental, suku bunga, kebijakan, dan kondisi tiap industri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pasar keuangan tidak selalu bergerak berdasarkan data ekonomi atau kinerja perusahaan. Perubahan sikap investor dalam menghadapi risiko juga dapat menggerakkan harga berbagai aset. Kondisi ini biasanya digambarkan dengan istilah risk-on dan risk-off.

Risk-on terjadi ketika investor lebih berani mengambil risiko untuk mendapatkan keuntungan lebih tinggi. Sementara itu, risk-off muncul ketika investor mulai mengurangi risiko karena melihat kondisi pasar semakin tidak pasti. Perubahan sentimen tersebut dapat memengaruhi saham, obligasi, emas, dolar AS, hingga aset kripto. Yuk, simak penjelasan lebih lengkapnya di bawah ini!

1. Risk-on menunjukkan investor sedang berani mengambil risiko

ilustrasi mengamati pasar cryptocurrency (pexels.com/Anna Tarazevich)

Investor cenderung berada dalam kondisi risk-on ketika mereka optimistis terhadap perekonomian dan prospek keuntungan. Mereka dapat meningkatkan investasi pada saham, terutama pada perusahaan yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi. Aset seperti Bitcoin dan komoditas juga bisa mendapat aliran dana karena investor lebih bersedia menghadapi perubahan harga.

Kondisi ini dapat muncul ketika ekonomi tumbuh dengan baik, ketidakpastian menurun, atau suku bunga mulai lebih rendah. Imbal hasil dari aset yang relatif aman menjadi kurang menarik, sehingga investor mencari peluang dengan potensi keuntungan lebih besar. Permintaan yang meningkat kemudian dapat mendorong harga aset berisiko naik.

2. Risk-off terjadi saat investor mulai menghindari risiko

ilustrasi market yang turun (freepik.com/standret)

Risk-off menggambarkan kondisi ketika investor menjadi lebih berhati-hati terhadap pasar. Kekhawatiran terhadap resesi, konflik geopolitik, inflasi, atau masalah keuangan dapat membuat investor mengurangi kepemilikan aset berisiko. Mereka lebih memilih menjaga modal daripada mengejar keuntungan yang lebih tinggi.

Dana dapat berpindah ke aset yang dianggap lebih aman, seperti obligasi pemerintah, emas, atau dolar AS. Jika tekanan jual terjadi secara bersamaan, saham dan aset berisiko lainnya dapat mengalami penurunan. Namun, tidak semua aset akan bergerak dengan pola yang sama karena setiap pasar memiliki faktor penggeraknya sendiri, termasuk kebijakan suku bunga dan perkembangan ekonomi global.

3. Sentimen investor bisa memengaruhi banyak jenis aset

ilustrasi melakukan evaluasi portofolio (pexels.com/Jakub Zerdzicki)

Perubahan dari risk-on ke risk-off dapat terlihat pada beberapa pasar sekaligus. Saat investor bersikap optimis, saham dan aset berisiko biasanya lebih diminati, sedangkan permintaan terhadap aset safe haven dapat berkurang. Sebaliknya, ketidakpastian yang meningkat dapat membuat investor mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Kita dapat melihat beberapa indikator untuk membaca perubahan sentimen tersebut. Pergerakan saham, yield obligasi pemerintah, dolar AS, dan emas dapat memberikan gambaran mengenai arah aliran dana. Bitcoin juga perlu diperhatikan karena aset ini terkadang bergerak searah dengan saham ketika investor sedang meningkatkan atau mengurangi eksposur terhadap risiko. Perubahan volume transaksi dan arus dana juga dapat memperkuat gambaran mengenai sentimen pasar.

4. Risk-on dan risk-off bukan sinyal harga naik atau turun

ilustrasi grafik pergerakan harga (pexels.com/Hanna Pad)

Risk-on dan risk-off hanya menggambarkan sikap investor terhadap risiko. Kondisi risk-on tidak berarti semua aset pasti naik, sedangkan risk-off tidak berarti seluruh aset akan turun. Harga tetap dipengaruhi oleh faktor lain, seperti laporan keuangan, kebijakan pemerintah, suku bunga, dan kondisi masing-masing industri.

Karena itu, kita sebaiknya tidak menggunakan kedua istilah tersebut sebagai sinyal beli atau jual secara langsung. Sentimen pasar lebih berguna untuk memahami mengapa investor memindahkan dana dari satu aset ke aset lainnya. Dengan melihat sentimen bersama kondisi fundamental, kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih lengkap mengenai pergerakan pasar.

Risk-on menunjukkan keberanian investor dalam mengambil risiko, sedangkan risk-off menunjukkan menurunnya keinginan untuk berinvestasi secara agresif. Kedua istilah ini membantu kita memahami perubahan aliran dana di pasar keuangan. Namun, sentimen tersebut tetap perlu dilihat bersama faktor ekonomi dan fundamental sebelum mengambil keputusan investasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article