Data pekerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan, laporan laba yang mengecewakan dari perusahaan teknologi besar, dan kekhawatiran yang meningkat atas ekonomi China telah memicu aksi jual global pada saham, minyak, dan mata uang berimbal hasil tinggi dalam seminggu terakhir.
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan investor cenderung mencari keamanan uang tunai di tengah situasi yang tidak menentu saat ini.
“Aksi jual berlanjut pada hari Senin, dengan imbal hasil Treasury AS turun lebih jauh, indeks saham di zona merah, dan dolar melemah,” ujarnya.
Penurunan imbal hasil Treasury sudah dimulai sejak minggu lalu, ketika Federal Reserve (Fed) mempertahankan suku bunga kebijakan dalam kisaran 5,25 persen hingga 5,50 persen, sementara Ketua Fed, Jerome Powell membuka kemungkinan penurunan suku bunga pada bulan September.
Ekspektasi untuk penurunan suku bunga meningkat setelah data pada Jumat pekan lalu menunjukkan lonjakan tingkat pengangguran.
Pada Senin kemarin, kontrak berjangka dana Fed mencerminkan hampir 100 persen peluang adanya pemotongan suku bunga sebesar 50 basis poin pada pertemuan bank sentral di September, menurut CME FedWatch.