Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rupiah Diprediksi Tembus Rp18 Ribu Hari Ini, Apa Saja Faktornya?

Rupiah Diprediksi Tembus Rp18 Ribu Hari Ini, Apa Saja Faktornya?
ilustrasi rupiah (unsplash.com/Mufid Majnun)
Intinya Sih
  • Rupiah diprediksi menembus Rp18 ribu per dolar AS setelah sebelumnya ditutup di level terendah sepanjang masa, yakni Rp17.966,5 per dolar.
  • Permintaan tinggi terhadap dolar AS dan daya tarik yield US Treasury menjadi faktor utama pelemahan rupiah, ditambah faktor musiman seperti meningkatnya aktivitas haji.
  • Ketidakpastian ekonomi global serta kredibilitas fiskal dalam negeri yang dinilai kurang kuat turut memperburuk sentimen pasar terhadap rupiah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah diprediksi menyentuh level Rp18 ribu per dolar Amerika Serikat (AS) hari ini, Kamis (4/6/2026). Pada penutupan perdagangan kemarin, Rabu (3/6), kurs rupiah ditutup melemah hingga 127,5 poin atau 0,71 persen ke Rp17.966,5, level terendah sepanjang masa.

Analis pasar keuangan, Ibrahim Assuaibi memprediksi nilai tukar rupiah terhadap dolar ASbergerak di rentang Rp17.960-18.030 hari ini.

Sebenarnya, apa saja faktor yang menyebabkan kurs rupiah terus melemah terhadap dolar AS, meski Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate menjadi 5,25 persen?

1. Permintaan dolar AS terus meningkat

Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)

Menurut Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M Rizal Taufikurahman permintaan dolar AS masih sangat tinggi, sehingga menyebabkan penguatan nilai terhadap mata uang lain, termasuk rupiah.

“Bond-nya Amerika, Amerika US Treasury itu masih lebih menarik, itu juga mempengaruhi, bond juga mempengaruhi,” kata Rizal saat ditemui di Jakarta.

Selain menjadi incaran pelaku pasar karena yield US Treasury yang menarik, banyaknya aktivitas di bulan Mei turut mendorong penguatan dolar AS, seperti ibadah haji.

“Kemudian yang ketiga, ini kan musiman. Jadi musiman dalam makna ternyata di bulan Mei, Juni ini permintaan terhadap dolar juga tinggi. Banyak aktivitas katakanlah kalau haji,” ucap Rizal.

2. Ketidakpastian perekonomian dunia mengerubungi

ilustrasi rupiah (unsplash.com/Mufid Majnun)
ilustrasi rupiah (unsplash.com/Mufid Majnun)

Rizal mengatakan, pelaku pasar juga memperhatikan pengelolaan fiskal di dalam negeri, yang dinilainya kurang kredibel. Menurutnya, belanja fiskal harus ditujukan kepada sektor-sektor produktif.

“Belanja fiskal juga harus betul-betul ke sektor-sektor produktif yang benar-benar menciptakan ekonomi produktif yang bisa membuat nilai tambah. Jadi kalau program-program katakanlah yang selama ini tidak menghasilkan, itu alangkah lebih dievaluasi,” kata Rizal.

Dia menekankan, kredibilitas dalam pengelolaan anggaran menjadi titik krusial yang dilihat pelaku pasar. Jika hal itu tidak dijalankan, sentimen negatif makin mengerubungi rupiah.

“Model tata kelola program atau belanja-belanja seperti itu harus betul-betul apakah tata kelola diperbaiki atau juga target sasarannya diperbaiki. Karena ini sangat sensitif, market melihat hal-hal yang berkaitan dengan kredibilitas fiskal. Termasuk juga kredibilitas kelembagaan juga berkaitan dengan keuangan ya,” ujar Rizal.

Dia berharap, pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan entitas lain yang terkait bisa menjaga independensi dan kredbilitas saat membuat langkah untuk penguatan nilai tukar rupiah.

“Itu harus dipisahkan antara conflict of interest politik atau market, polisi itu betul-betul harus dijaga. Dan itu harus bebas dari itu. Nah itu harus dibangun,” kata Rizal.

Share Article
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More