- Ringgit Malaysia melemah 0,25 persen
- Bath Thailand melemah 0,29 persen
- Yuan China melemah 0,09 persen
- Pesso Filipina melemah 0,25 persen
- Won Korea melemah 0,03 persen
- Dolar Taiwan melemah 0,01 persen
Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp16.780 per Dolar AS

- Mata uang di Asia kompak melemah, mulai dari Rupiah, Ringgit Malaysia, Bath Thailand, Yuan China, Pesso Filipina, Won Korea, hingga Dolar Taiwan
- Faktor penyebab rupiah melemah: Dolar AS mendapat dorongan setelah pernyataan hawkish dari pejabat Bank Sentral AS Thomas Barkin hingga pernyataan hawkish mendorong penguatan dolar AS
- Pelaku pasar menunggu rilis data ekonomi penting dari AS dan Indonesia, Investor cenderung wait and see mengantisipasi serangkaian data ekonomi
Jakarta, IDN Times - Pergerakan nilai tukar atau kurs rupiah ditutup melemah pada akhir perdagangan, Rabu (7/1/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah ke level Rp16.780 per dolar AS per dolar AS.
Rupiah tercatat melemah 22 poin atau 0,31 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
1. Mata uang di Asia kompak melemah
Lebih rinci, rupiah tidak melemah sendirian karena sejumlah mata uang di Asia tercatat melemah.
2. Faktor penyebab rupiah melemah
Pengamat pasar uang Lukman Leong menilai, pergerakan rupiah cenderung datar dengan potensi melemah. Dolar AS mendapat dorongan setelah pernyataan hawkish dari salah satu pejabat Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), Thomas Barkin.
Pernyataan hawkish merujuk pada sikap pejabat bank sentral yang cenderung mendukung kebijakan suku bunga tinggi atau pengetatan moneter guna menekan inflasi. Sikap tersebut mendorong penguatan dolar AS.
"Rupiah diperkirakan akan datar dengan potensi melemah terhadap dolar AS yang rebound oleh pernyataan hawkish pejabat The Fed Barkin," katanya.
3. Pelaku pasar bersikap wait and see
Meski dolar AS menguat, Lukman menyebut, pelaku pasar masih cenderung bersikap menungggu dan mengamati (wait and see). Investor menahan diri sambil menantikan rilis sejumlah data ekonomi penting dari AS dan Indonesia.
"Investor cenderung wait and see mengantisipasi serangkaian data ekonomi penting dari AS dan Indonesia," ujar dia.


















