Venezuela Kaya Cadangan Minyak, Kenapa Produksinya Bisa Seret?

- Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, namun produksinya anjlok drastis dari 3,5 juta menjadi kurang dari 1 juta barel per hari akibat krisis politik dan ekonomi.
- Pemecatan massal tenaga ahli PDVSA serta sanksi ekonomi Amerika Serikat memperparah keruntuhan industri minyak, membuat Venezuela bergantung pada ekspor murah ke China.
- Nasionalisasi aset dan ketidakpastian politik pasca penangkapan Maduro menimbulkan dua kemungkinan: pemulihan produksi jika stabil, atau penurunan tajam bila konflik berlanjut.
Jakarta, IDN Times - Venezuela saat ini memegang status sebagai pemilik cadangan minyak terbukti terbesar di dunia dengan total 303 miliar barel. Jumlah ini mencakup 17 persen dari total cadangan global, bahkan melampaui koleksi minyak milik Arab Saudi.
Namun, kejayaan di atas kertas itu berbanding terbalik dengan realitas lapangan. Saat ini, Venezuela hanya mampu memproduksi kurang dari 1 juta barel per hari, atau tak sampai 1 persen dari output dunia.
Angka tersebut merosot tajam jika dibandingkan masa keemasan akhir 1990-an yang sanggup menembus 3,5 juta barel per hari. Kehancuran industri ini ditengarai akibat rentetan keputusan politik yang keliru, sanksi internasional, hingga problem teknis pada infrastruktur mereka.
1. Eksodus tenaga ahli hingga dampak sanksi AS

Dilansir Investopedia, krisis mulai memuncak saat aksi mogok kerja massal melanda perusahaan minyak negara, PDVSA, pada periode 2002-2003. Dampaknya, sekitar 20 ribu pekerja atau 40 persen dari total staf dipecat.
Berdasarkan laporan Forbes, kebijakan tersebut membuang para insinyur dan manajer kompeten yang sebenarnya menguasai teknologi pengolahan minyak mentah berat khas Venezuela.
U.S. Energy Information Administration menyebutkan bahwa pembersihan elemen profesional tersebut, yang kemudian diganti dengan staf berdasarkan loyalitas politik, telah melumpuhkan operasional tingkat tinggi perusahaan hingga saat ini.
Kondisi itu diperparah dengan sanksi ekonomi Amerika Serikat yang dimulai sejak 2005. Pada 2017, di bawah kepemimpinan Donald Trump, AS memutus akses Venezuela ke pasar modal. Akibatnya, investor kabur dan Venezuela terpaksa menjual minyaknya ke China melalui "armada bayangan" dengan harga diskon yang sangat murah.
Laporan pemerintah AS pada 2021 mencatat produksi minyak Venezuela anjlok 47 persen sebelum sanksi 2019, dan kembali jatuh 59 persen hanya dalam 18 bulan setelahnya.
2. Infrastruktur terbengkalai dan nasionalisasi aset

Kebijakan nasionalisasi oleh mantan Presiden Hugo Chávez sejak 2006 juga membuat raksasa minyak seperti Exxon Mobil dan ConocoPhillips angkat kaki pada 2007. Saat ini, praktis hanya Chevron yang masih bertahan dan menopang seperempat produksi nasional.
Imbas dari minimnya investasi dan pemeliharaan, kualitas jaringan pipa minyak Venezuela menurun drastis. PDVSA memperkirakan butuh dana sekitar 8 miliar dolar AS hanya untuk memperbaiki pipa agar produksi bisa kembali ke level tahun 1990-an.
Bahkan, Pusat Pemurnian Paraguaná yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia kini dilaporkan hanya beroperasi pada kapasitas 10 persen.
3. Nasib di tangan Trump masih abu-abu

Pasca penangkapan Presiden Nicolás Maduro oleh militer AS pada 3 Januari lalu, arah industri minyak negara ini kian tidak menentu. Trump sempat mengklaim AS akan mengambil alih pengelolaan energi Venezuela dan menyuntikkan dana miliaran dolar.
Namun, klaim tersebut mendapat penolakan keras dari Wakil Presiden Delcy Rodríguez yang kini ditunjuk sebagai presiden sementara. Ia menegaskan bahwa Venezuela tidak akan mau kembali menjadi koloni atau budak kekuatan asing.
Analis dari JPMorgan memprediksi dua skenario utama:
Skenario Stabil: Jika sanksi dicabut dan politik stabil, produksi bisa melonjak ke angka 1,4 juta barel per hari dalam dua tahun. Skenario Konflik: Jika gejolak politik berlanjut, produksi justru terancam anjlok hingga setengahnya akibat gangguan pada fasilitas-fasilitas vital milik PDVSA.


















