Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Cara Baca Peluang Usaha Ramadan Berdasarkan Trend Tahun Lalu

5 Cara Baca Peluang Usaha Ramadan Berdasarkan Trend Tahun Lalu
ilustrasi Food Truck untuk Food Support (pexels.com/Artam Saranin)
Intinya Sih
  • Artikel membahas pentingnya membaca tren Ramadan tahun lalu untuk menentukan strategi bisnis yang lebih terarah dan efektif di tahun ini.
  • Ditekankan penggunaan data sederhana seperti pola permintaan, perilaku konsumen, serta review pelanggan untuk menemukan peluang produk potensial.
  • Google Trends dan media sosial disebut sebagai alat cepat memantau minat pasar, membantu pelaku usaha menyesuaikan strategi promosi Ramadan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ramadan selalu membawa peluang bisnis baru setiap tahunnya. Namun bukan soal ikut-ikutan jualan takjil atau paket parcel saja, yang penting adalah memahami tren sebelumnya agar keputusan usaha lebih terarah. Analisis kecil dari data dan kebiasaan konsumen bisa bikin perbedaan besar di omzet.

Berikut lima cara yang bisa kamu gunakan untuk membaca peluang usaha Ramadan tahun ini berdasarkan tren tahun lalu. Cara-cara ini bisa kamu terapkan cepat tanpa alat rumit, cukup dengan observasi, data sederhana, dan sedikit kreativitas strategi.

1. Lihat pola permintaan produk musiman tahun lalu

Baca Peluang Usaha Ramadan
ilustrasi bisnis thrift (pexels.com/cottonbro studio)

Mulai dengan menghitung apa yang paling banyak laku tahun sebelumnya. Misalnya takjil tertentu, paket sahur siap saji, atau makanan ringan yang jadi favorit saat buka puasa. Data bisa berasal dari penjualanmu sendiri atau observasi di marketplace.

Pola permintaan ini sering berulang tiap tahun, hanya berbeda di skala. Kalau suatu item stabil laku di berbagai wilayah, itu tanda bahwa konsumen benar-benar butuh produk tersebut. Tren Ramadan tidak hilang begitu saja — kebutuhan dasar tetap sama, hanya variannya yang berubah.

2. Perhatikan tren diskon dan penjualan di marketplace

Baca Peluang Usaha Ramadan
ilustrasi promo akhir tahun (pexels.com/Tamanna Rumee)

Platform seperti Tokopedia, Shopee, atau Bukalapak biasanya menghadirkan data tren kategori yang paling banyak dibeli saat Ramadan tahun sebelumnya. Kamu bisa cek bagian best seller, promo terlaku, atau laman statistik yang mereka sediakan.

Ini membantu melihat pola: apakah produk A naik drastis, atau kategori jasa tertentu melonjak? Data ini memberi gambaran peluang yang masih relevan untuk diambil tahun ini. Trend yang kuat biasanya akan berulang, hanya timing promonya yang perlu disesuaikan.

3. Amati perubahan perilaku konsumen

Baca Peluang Usaha Ramadan
ilustrasi bisnis street food (pexels.com/Pragyan Bezbaruah)

Tahun lalu mungkin orang lebih banyak pesan makanan lewat layanan delivery. Atau justru lebih tertarik paket bukber hemat karena mobilitas terbatas. Hal seperti ini penting dicatat karena bisa berubah akibat faktor sosial dan ekonomi.

Misalnya, kalau tahun lalu tren katering sahur meningkat, sementara tahun ini orang mulai kembali kerja offline, peluang bisa bergeser lagi. Perubahan perilaku ini memberikan insight produk mana yang harus kamu tonjolkan. Tren tidak hanya soal angka, tapi juga konteks konsumen.

4. Pelajari review dan feedback pelanggan

Baca Peluang Usaha Ramadan
ilustrasi cek reputasi toko online (pexels.com/AS Photography)

Review pelanggan di marketplace atau media sosial bisa jadi sumber insight emas. Cek komentar yang sering muncul di produk Ramadan tahun lalu: “kok kurang manis?”, “kok kurang pedas?”, “laluannya kurang cepat?”

Feedback seperti ini menunjukkan gap kebutuhan yang belum terpenuhi. Jadikan itu peluang untuk membuat produk serupa tapi lebih sesuai selera pasar. Tren bukan hanya soal kenaikan penjualan, tetapi soal ekspektasi konsumen yang terus berkembang.

5. Gunakan Google Trends dan media sosial untuk prediksi awal

Baca Peluang Usaha Ramadan
ilustrasi jaga jarak pandang dengan hp (pexels.com/andrea)

Alat seperti Google Trends bisa menunjukkan apa yang dicari orang saat memasuki Ramadan. Misalnya kata kunci “takjil terdekat”, “menu buka puasa”, atau “parcel Ramadan terbaik”. Ini memberi gambaran awal arah minat konsumen.

Selain itu, pantau hashtag di media sosial seperti #Ramadan2026, #MenuBukaPuasa, atau #ParcelLebaran. Apa yang banyak dibicarakan bisa jadi indikator fokus pasar tahun ini. Social listening ringan seperti ini sering kali lebih cepat memberi insight dibanding analisa rumit.

Membaca peluang usaha Ramadan bukan soal tebak-tebakan, tapi soal observasi tren yang sudah terjadi. Dengan data simpel dari tahun lalu, penjualan, pilihan konsumen, dan feedback. Kamu bisa bikin keputusan yang lebih valid.

Ingat, tren berubah tapi pola kebutuhan sering berulang. Tinggal bagaimana kamu menyesuaikannya dengan konteks tahun ini. Dengan strategi yang tepat, Ramadan bukan hanya jadi bulan berkah tapi juga bulan cuan yang terencana matang. Siap mengeksekusi peluangmu tahun ini?

FAQ Seputar Peluang Usaha Ramadan

Mengapa Ramadan dianggap sebagai momen emas untuk berusaha?

Ramadan meningkatkan konsumsi masyarakat, terutama untuk kebutuhan makanan, minuman, fashion, dan perlengkapan ibadah. Pola belanja juga lebih impulsif dan volume transaksi cenderung naik hingga Lebaran.

Apakah peluang usaha Ramadan cocok untuk pemula?

Ya. Banyak usaha Ramadan bisa dimulai dengan modal kecil, waktu terbatas, dan sistem pre-order, sehingga risikonya relatif rendah untuk pemula.

Berapa modal minimal untuk memulai usaha Ramadan?

Modal sangat bervariasi. Usaha takjil rumahan bisa dimulai dari ratusan ribu rupiah, sementara usaha hampers atau katering skala kecil biasanya membutuhkan modal jutaan rupiah.

Jenis usaha apa yang paling laris saat Ramadan?

Usaha yang biasanya paling diminati antara lain:Takjil dan makanan berbukaKatering sahur dan buka puasaKurma, makanan ringan, dan hampersBusana muslim dan perlengkapan ibadahJasa parsel dan bingkisan Lebaran

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More