Laba Bank Mandiri Januari 2026 Tembus Rp4,65 Triliun

- Bank Mandiri mencatat laba bersih Rp4,65 triliun pada Januari 2026, tumbuh 16,25 persen dibanding tahun sebelumnya berkat peningkatan pendapatan bunga bersih sebesar 10,2 persen secara tahunan.
- Penyaluran kredit mencapai Rp1.511,4 triliun atau naik 15,62 persen YoY, mendorong total aset menjadi Rp2.191,9 triliun dan memperkuat peran bank dalam pembiayaan sektor produktif serta UMKM.
- Dana Pihak Ketiga tercatat Rp1.635,5 triliun dengan rasio CASA 73 persen dan Fee Based Income tumbuh 16,1 persen YoY, menunjukkan efisiensi
Jakarta, IDN Times - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatatkan laba bersih sebesar Rp4,65 triliun pada Januari 2026. Realisasi tersebut tumbuh 16,25 persen secara year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp4 triliun.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, mengatakan pertumbuhan laba ditopang peningkatan pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII) sebesar 10,2 persen yoy.
“Pertumbuhan ini menjadi wujud sinergi yang terintegrasi antara strategi bisnis, pengelolaan risiko, dan penguatan ekosistem,” ujar Novita dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (23/2/2026).
1. Penyaluran kredit perbankan capai Rp1.511,4 triliun

Novita menjelaskan dari sisi intermediasi, penyaluran kredit Bank Mandiri mencapai Rp1.511,4 triliun atau tumbuh 15,62 persen secara tahunan. Ekspansi tersebut tetap dijalankan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian. Peningkatan penyaluran kredit tersebut turut mendorong pertumbuhan total aset menjadi Rp2.191,9 triliun atau naik 13,96 persen YoY, mencerminkan ekspansi bisnis yang tetap terjaga kualitasnya seiring penguatan fungsi intermediasi di awal tahun.
Ia menjelaskan ertumbuhan tersebut mempertegas komitmen perseroan dalam menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif, termasuk ekosistem UMKM dan pelaku usaha di berbagai daerah. Langkah ini sejalan dengan peran Bank Mandiri sebagai mitra strategis pemerintah dalam memperkuat struktur ekonomi nasional.
“Pertumbuhan ini menjadi wujud sinergi yang terintegrasi antara strategi bisnis, pengelolaan risiko, dan penguatan ekosistem. Kami memastikan akselerasi yang bertumbuh tetap berjalan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian sehingga memberikan nilai tambah bagi ekonomi kerakyatan,” ujar Novita.
2. DPK Bank Only capai Rp1.635,5 triliun

Di samping itu, struktur pendanaan juga menunjukkan penguatan yang solid. Dana Pihak Ketiga (DPK) secara bank only tercatat sebesar Rp1.635,5 triliun atau tumbuh 17,29 persen YoY, sejalan dengan strategi optimalisasi pendanaan dan penguatan basis nasabah.
Adapun, komposisi dana tersebut didominasi dana murah dengan rasio Current Account Saving Account (CASA) terjaga di level 73 persen, sehingga mendukung efisiensi biaya dana sekaligus memperkuat struktur likuiditas perseroan.
3. Fee Based Income Bank Mandiri capai 16,1 persen

Dari sisi kinerja keuangan, laba bersih secara month to date (MTD) tumbuh positif double digit, didorong oleh peningkatan pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII) sebesar 10,2 persen YoY. Kinerja tersebut turut ditopang penurunan biaya dana atau Cost of Fund (CoF) sebesar 27 basis poin dibandingkan bulan sebelumnya, sehingga posisi CoF pada Januari 2026 terjaga pada level 2,06 persen.
Pada periode yang sama, pendapatan berbasis komisi mencatatkan pertumbuhan yang solid seiring meningkatnya aktivitas transaksi di berbagai lini bisnis.
"Fee Based Income (FBI) recurring Bank Mandiri tumbuh 16,1 persen secara YoY, memperkuat struktur pendapatan yang semakin berimbang dan berkelanjutan. Pertumbuhan tersebut turut mencerminkan peningkatan produktivitas serta efektivitas pengelolaan biaya dalam mendorong kinerja keuangan yang semakin optimal, tercermin dari rasio Cost to Income Ratio (CIR) yang membaik menjadi 37,75 persen, turun 3,44 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang masih berada di atas 40 persen," ungkapnya.


















