Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rupiah Kembali Melemah ke Rp17.700 per Dolar AS
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
  • Rupiah dibuka melemah ke Rp17.700 per dolar AS, turun 33 poin atau 0,19 persen dibanding penutupan sebelumnya di pasar spot Jumat, 22 Mei 2026.
  • Dolar AS menguat karena data ekonomi seperti klaim pengangguran dan PMI manufaktur menunjukkan kinerja lebih baik dari ekspektasi, menandakan ekonomi Amerika masih solid.
  • Dalam negeri, ketidakpastian kebijakan ekspor dan aksi jual investor asing menekan rupiah serta IHSG, meski permintaan terhadap Surat Berharga Negara tetap kuat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
16 Mei 2026

Klaim pengangguran awal AS untuk pekan yang berakhir pada tanggal ini turun menjadi 209 ribu dari sebelumnya 212 ribu, menunjukkan pasar tenaga kerja masih ketat.

Mei 2026

Data Preliminary S&P Global PMI Manufaktur AS naik menjadi 55,3 dari sebelumnya 54,5, menandakan sektor manufaktur tetap solid.

22 Mei 2026

Rupiah dibuka melemah ke Rp17.700 per dolar AS di pasar spot. Pada akhir sesi, Indeks Dolar AS naik 0,17 persen menjadi 99,26. Investor asing mencatat penjualan bersih sebesar 30,82 juta dolar AS dan IHSG turun 3,54 persen ke level 6.096.

Juni mendatang

Pelaku pasar mengantisipasi pengumuman MSCI yang akan datang dan melakukan peralihan aset menjelang periode tersebut.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Nilai tukar rupiah melemah ke posisi Rp17.700 per dolar AS pada awal perdagangan pasar spot, mencatat penurunan 33 poin atau sekitar 0,19 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
  • Who?
    Pergerakan ini melibatkan pelaku pasar valuta asing dan investor, dengan analisis dari ekonom Josua Pardede yang menjelaskan faktor eksternal dan domestik yang memengaruhi nilai tukar rupiah.
  • Where?
    Perdagangan berlangsung di pasar valuta asing domestik Indonesia, dengan pengamatan terhadap pergerakan mata uang Asia lainnya melalui data Bloomberg di Jakarta.
  • When?
    Pelemahan terjadi pada Jumat, 22 Mei 2026, saat pembukaan perdagangan pagi hari di pasar spot.
  • Why?
    Pelemahan dipicu oleh penguatan dolar AS akibat data ekonomi Amerika Serikat yang positif serta meningkatnya ketidakpastian kebijakan ekspor dalam negeri yang memengaruhi sentimen investor.
  • How?
    Dolar AS menguat karena indikator tenaga kerja dan manufaktur membaik, sementara investor domestik melakukan penjualan aset dan antisipasi kebijakan baru sehingga menekan nilai rupiah di kisaran Rp17.600–Rp17.725 per dolar AS.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Hari ini uang rupiah jadi lemah lagi, nilainya jadi tujuh belas ribu tujuh ratus kalau ditukar satu dolar Amerika. Katanya karena uang dolar Amerika sedang kuat, soalnya kerjaan dan pabrik di sana bagus. Beberapa uang negara lain juga naik dan turun. Di sini orang-orang masih menunggu aturan baru soal jual barang ke luar negeri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Meskipun rupiah melemah, artikel ini menunjukkan adanya ketahanan dalam instrumen keuangan domestik, terlihat dari permintaan Surat Berharga Negara yang tetap kuat. Hal ini menandakan kepercayaan investor terhadap stabilitas pasar obligasi Indonesia. Selain itu, variasi pergerakan mata uang Asia mencerminkan dinamika regional yang sehat dan beragam dalam merespons kondisi global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka melemah pada level Rp17.700 per dolar AS pada perdagangan Jumat (22/5/2026)

Berdasarkan Bloomberg, rupiah dibuka melemah 33 poin atau 0,19 persen dibandingkan penutupan kemarin.

1. Rincian mata uang di Asia yang bergerak variatif

Daftar mata uang di Asia bergerak variatif dengan rincian:

  • Bath Thailand melemah 0,12 persen

  • Ringgit Malaysia melemah 0,04 persen

  • Yuan China menguat 0,02 persen

  • Rupee India menguat 0,65 persen

  • Pesso Filipina menguat 0,08 persen

  • Won Korea melemah 0,24 persen

  • Dolar Taiwan menguat 0,14 persen

2. Alasan dolar AS menguat

Ekonom, Josua Pardede, mengatakan, penguatan dolar AS dipicu oleh sejumlah indikator ekonomi AS yang lebih baik dari ekspektasi pasar, terutama dari sektor tenaga kerja dan manufaktur.

“Klaim pengangguran awal AS untuk pekan yang berakhir pada 16 Mei 2026 turun menjadi 209 ribu dari sebelumnya 212 ribu dan lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 210 ribu,” ujar Josua dalam riset hariannya, Jumat (22/5/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih ketat. Selain itu, data Preliminary S&P Global PMI Manufaktur AS juga naik menjadi 55,3 pada Mei 2026 dari sebelumnya 54,5. Angka tersebut melampaui ekspektasi pasar sebesar 53,8 dan menandakan sektor manufaktur AS tetap solid di tengah ketidakpastian global.

Dengan adanya pandangan ekonomi AS masih tangguh sehingga mengurangi ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral AS, The Fed. Meski demikian, penguatan dollar AS sempat tertahan setelah muncul optimisme terkait potensi kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran.

“Pada akhir sesi, Indeks Dollar AS sedikit naik sebesar 0,17 persen menjadi 99,26,” kata dia.

3. Kebijakan dalam negeri terkait tata kelola ekspor mempengaruhi investor

Menurut Josua, dari sisi domestik, rupiah terdepresiasi akibat meningkatnya ketidakpastian kebijakan di dalam negeri. Investor mulai mengantisipasi kebijakan baru terkait tata kelola ekspor yang akan memusatkan transaksi ekspor beberapa komoditas di bawah badan usaha milik negara (BUMN). Selain itu, pelaku pasar juga melakukan peralihan aset menjelang pengumuman MSCI pada Juni mendatang.

Dia mencatat, investor asing membukukan penjualan bersih sebesar 30,82 juta dolar AS yang turut menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga turun 3,54 persen ke level 6.096. Sementara itu, rupiah melemah 0,28 persen menjadi Rp 17.654 per dolar AS.

Josua memperkirakan, pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini akan berada di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.725 per dolar AS.

Di sisi lain, permintaan terhadap Surat Berharga Negara (SBN) tetap kuat meski rupiah melemah. Menurut Josua, kondisi itu kemungkinan dipengaruhi realokasi aset investor dari pasar saham ke pasar obligasi.

Editorial Team