Potret Rekonstruksi Infrastruktur Pascabanjir Sumatraa oleh BUMN

- PT Brantas Abipraya memimpin rekonstruksi pascabanjir di Sumatra dengan fokus pada normalisasi sungai dan penguatan tebing untuk memperkuat infrastruktur menghadapi bencana.
- Rekonstruksi di Sumatra Barat mencakup 10 wilayah, bekerja sama dengan Kementerian PU agar setiap proyek sesuai kebutuhan masyarakat terdampak.
- Pengerukan sedimentasi dilakukan di beberapa lokasi di Sumatra Utara dan Sumatra Barat guna mengembalikan kapasitas aliran sungai serta menekan risiko banjir berulang.
Jakarta, IDN Times - Proses rekonstruksi pascabanjir bandang di Sumatra yang terjadi pada akhir 2025 masih berlangsung hingga saat ini.
Di Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) dan Sumatra Utara (Sumut), proses rekonstruksi salah satunya dilakukan oleh PT Brantas Abipraya (Persero), BUMN yang bergerak di sektor karya. Begini potret perkembangannya.
1. Brantas Abipraya lakukan normalisasi alur sungai hingga penguatan tebing

Dalam proses rekonstruksi ini, Brantas Abipraya memperbaiki infrastruktur yang rusak, khususnya untuk normalisasi alur sungai dan penguatan struktur tebing.
“Setiap pembangunan yang kami laksanakan dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana ini merupakan bagian dari komitmen Brantas Abipraya untuk menghadirkan infrastruktur yang lebih siap menghadapi bencana, sekaligus mendukung percepatan pemulihan kehidupan masyarakat di wilayah terdampak,” kata Sekretaris Perusahaan PT Brantas Abipraya (Persero), Dian Sovana dikutip Kamis, (9/7/2026).
2. Rekonstruksi di Sumbar dilakukan di 10 wilayah

Di Provinsi Sumatra Barat, penanganan dilakukan pada 10 wilayah, yaitu Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam, Kabupaten Lima Puluh Kota, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat, Kota Bukittinggi, Kota Payakumbuh, Kota Pariaman, dan Kota Padang.
“Kami bekerja sama dengan Kementerian PU untuk memastikan setiap pekerjaan, mulai dari normalisasi alur sungai hingga perkuatan tebing, benar-benar menjawab kebutuhan warga di lapangan,” ujar Dian.
3. Sedimentasi yang mengganggu aliaran sungai dikeruk

Pembukaan alur sungai dilakukan melalui pengerukan sedimentasi guna mengembalikan kapasitas aliran sungai sekaligus mengurangi risiko banjir.
Pekerjaan itu dilaksanakan di Desa Rantobi, Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara, serta di Batang Bayang, Batang Lengayang, dan Batang Palangai, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat.
4. Kembalikan harapan masyarakat

Menurut Dian, membangun kembali bukan sekadar memperbaiki yang rusak, tetapi juga mengembalikan harapan, memperkuat ketahanan, dan menyiapkan masa depan Indonesia yang lebih tangguh menghadapi bencana.
“Kami ingin masyarakat di Sumatera Barat dan Sumatera Utara merasakan bahwa pemulihan ini nyata, bukan hanya perbaikan fisik, tetapi juga pemulihan rasa aman dan keberlangsungan aktivitas sehari-hari. Ini adalah bagian dari cara kami melayani sepenuh hati untuk Indonesia yang lebih tangguh,” ujar Dian.




















