Menurut analis pasar keuangan, Ibrahim Assuaibi, penguatan rupiah terhadap dolar AS sore ini didorong oleh berbagai aspek. Dia melihat adanya sentimen negatif pada dolar AS karena Iran dan Oman akan mencapai kesepakatan terkait pengaturan lalu lintas di Selat Hormuz.
“Yang berpotensi menyediakan mekanisme untuk meredakan gangguan pelayaran,” kata Ibrahim dalam keterangannya.
Selain itu, Iran juga memberikan peringatan keras pada AS apabila menyerang fasilitas dan infrastruktur minyak dan gas (migas)-nya.
Iran dengan siap akan menyerang fasilitas dan infrastruktur migas milik AS di wilayah Teluk.
Di sisi lain, pelaku pasar merespons positif optimisme BI terkait ketahanan Indonesia dari aspek eksternal, mengingat posisi cadangan devisa per Agustus 2026 naik menjadi 146,5 miliar dolar AS atau Rp2.593 triliun.
“Keyakinan tersebut didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta potensi aliran masuk modal asing. BI menyebut persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik menjadi faktor pendukung aliran modal asing ke Indonesia,” ujar Ibrahim.