Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Kebiasaan Finansial yang Sering Dipengaruhi Gaya Hidup

5 Kebiasaan Finansial yang Sering Dipengaruhi Gaya Hidup
Ilustrasi makan diluar (magnific.com/senivpetro)
  • Rutinitas makan di luar atau memesan makanan dapat menguras porsi pendapatan jika dilakukan sering, terutama dengan tambahan minuman, camilan, dan biaya lain.
  • Mengikuti tren produk, memilih gaya hidup mahal, serta menjadikan belanja sebagai self-reward berulang bisa mempercepat pengeluaran dan mengurangi anggaran bulanan.
  • Tekanan lingkungan sosial turut memengaruhi pengeluaran; mengenali kebiasaan boros, menetapkan batas anggaran, dan memilih aktivitas sesuai kemampuan membantu menjaga kondisi finansial.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Cara kamu menggunakan uang sering kali berkaitan dengan gaya hidup yang dijalani sehari-hari. Pilihan tempat makan, cara bepergian, hingga kebiasaan mengikuti tren bisa memengaruhi seberapa besar uang yang keluar setiap bulan. Kebiasaan tersebut pun bisa terbentuk secara perlahan dari aktivitas yang sering kamu lakukan.

Hal ini terkadang sulit disadari karena setiap pengeluaran terasa wajar ketika dilakukan. Makan di tempat favorit, menggunakan transportasi tertentu, atau membeli barang yang sedang tren mungkin terlihat seperti keputusan kecil. Ketika dilakukan berulang kali, berbagai kebiasaan tersebut bisa membentuk pola pengeluaran yang cukup besar.

Coba perhatikan kembali bagaimana gaya hidupmu memengaruhi cara menggunakan uang setiap hari. Dengan mengenali kebiasaan yang sering dilakukan, kamu bisa mengetahui pengeluaran mana yang masih sesuai dengan kemampuan finansial dan mana yang perlu dikurangi. Berikut beberapa kebiasaan yang mungkin tanpa sadar dipengaruhi oleh gaya hidupmu.

  1. 1. Sering makan di luar karena mengikuti rutinitas

    Ilustrasi seseorang menikmati makanan di meja makan, menggambarkan aktivitas makan dalam suasana santai.
    Ilustrasi makan (pexels.com/Blue Bird)

    Makan di restoran atau membeli makanan melalui layanan pesan antar bisa menjadi bagian dari rutinitas. Setelah seharian bekerja, kamu mungkin merasa lebih praktis membeli makanan daripada menyiapkannya sendiri. Sesekali melakukan hal ini tentu terasa menyenangkan, terutama ketika kamu sedang lelah atau punya kesibukan lain.

    Kalau dilakukan terlalu sering, pengeluaran untuk makan bisa mengambil porsi yang cukup besar dari pendapatan. Terlebih ketika kamu sering memilih tempat makan dengan harga relatif tinggi atau menambahkan minuman, camilan, dan biaya lainnya dalam satu pesanan. Pengeluaran yang terlihat kecil setiap kali makan bisa terkumpul menjadi jumlah yang cukup besar dalam sebulan.

    Coba perhatikan seberapa sering kamu makan di luar atau memesan makanan dalam satu minggu. Dari sana, kamu bisa menentukan frekuensi yang masih sesuai dengan kondisi keuangan. Kamu tetap bisa menikmati makanan favorit atau makan bersama teman dengan membuat batas pengeluaran yang jelas.

  2. 2. Mengikuti tren barang atau produk terbaru

    Ilustrasi pria tampak samping mengenakan trench coat, berkaitan dengan kebiasaan membeli barang yang sedang tren.
    Ilustrasi membeli barang tren (magnific.com/freepik)

    Tren bisa membuatmu tertarik membeli pakaian, aksesori, gadget, produk kecantikan, atau barang lainnya. Ketika sesuatu sedang ramai digunakan, muncul keinginan untuk memilikinya agar gak merasa tertinggal. Apalagi kalau barang tersebut sering muncul di media sosial atau direkomendasikan oleh banyak orang.

    Kebiasaan mengikuti tren bisa membuat siklus belanja menjadi lebih cepat. Barang yang baru dibeli pun mungkin kembali terasa kurang menarik ketika tren berikutnya muncul. Kalau pola ini terus terjadi, kamu bisa lebih sering mengeluarkan uang untuk mengganti barang yang sebenarnya masih bisa digunakan.

    Sebelum membeli, coba tanyakan kepada diri sendiri apakah barang tersebut memang kamu butuhkan atau sekadar ingin mengikuti tren. Beri jeda sebelum checkout agar kamu punya waktu untuk mempertimbangkan pembelian tersebut. Kalau setelah beberapa hari kamu masih merasa membutuhkannya, barulah pertimbangkan apakah barang tersebut memang sesuai dengan kebutuhan dan anggaranmu.

  3. 3. Terbiasa memilih gaya hidup yang lebih mahal

    Sekelompok teman duduk bersama sambil berbincang santai saat nongkrong di sebuah tempat makan.
    Ilustrasi nongkrong dengan teman (pexels.com/Los Muertos Crew)

    Pilihan gaya hidup seperti tempat nongkrong, jenis transportasi, hingga aktivitas akhir pekan bisa memengaruhi pengeluaran. Ketika sudah terbiasa dengan standar tertentu, mengubah kebiasaan tersebut terkadang terasa sulit. Apalagi kalau aktivitas tersebut sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.

    Kamu mungkin merasa pengeluaran tersebut masih terjangkau karena setiap transaksi terlihat kecil. Namun, kalau dilakukan secara rutin, jumlahnya bisa menjadi cukup besar dalam sebulan. Pengeluaran untuk makan di luar, transportasi, atau kegiatan hiburan bisa bertambah tanpa terasa ketika terus dilakukan dalam frekuensi yang sama.

    Coba sesuaikan gaya hidup dengan kemampuan finansial yang kamu miliki. Kamu tetap bisa menikmati tempat favorit atau melakukan aktivitas yang disukai dengan menentukan batas pengeluaran yang jelas. Sesekali memilih pilihan yang lebih hemat juga bisa membantu menjaga keuangan tetap terkendali tanpa harus menghilangkan hal-hal yang membuatmu senang.

  4. 4. Sering membeli sesuatu sebagai bentuk self-reward

    Ilustrasi perempuan menikmati hamburger sambil duduk di rumah sebagai bentuk self-reward setelah menjalani aktivitas.
    Ilustrasi self-reward (magnific.com/kroshka__nastya)

    Setelah menyelesaikan pekerjaan atau melewati minggu yang melelahkan, membeli sesuatu bisa terasa seperti bentuk penghargaan untuk diri sendiri. Hal ini memang bisa memberikan rasa senang, terutama ketika kamu sudah berhasil melewati tugas atau target yang cukup menguras energi. Sesekali membeli sesuatu yang memang diinginkan tentu boleh dilakukan.

    Namun, kalau setiap pencapaian kecil selalu diikuti pembelian, pengeluaran bisa meningkat tanpa terasa. Apalagi ketika barang yang dibeli sebenarnya gak terlalu dibutuhkan dan hanya memberikan rasa senang untuk sementara. Kalau kebiasaan ini terus berulang, self-reward bisa membuat anggaran bulanan ikut berkurang.

    Coba variasikan bentuk self-reward yang kamu lakukan. Menonton film di rumah, menikmati waktu sendiri, mencoba aktivitas baru, pergi berjalan santai, atau mengambil waktu untuk beristirahat juga bisa menjadi cara menghargai diri tanpa selalu mengeluarkan uang. Dengan begitu, kamu tetap bisa menikmati hasil dari usaha yang sudah dilakukan sambil menjaga pengeluaran tetap sesuai kebutuhan.

  5. 5. Mengeluarkan uang untuk menjaga gaya hidup di lingkungan sosial

    Seorang perempuan berwajah murung menghitung lembaran uang tunai di tangan dengan latar belakang putih, menggambarkan kekurangan uang.
    Ilustrasi menghitung uang (magnific.com/benzoix)

    Lingkungan pertemanan juga bisa memengaruhi kebiasaan finansial. Ajakan makan di tempat tertentu, nongkrong, liburan, atau mengikuti berbagai aktivitas bisa membuat pengeluaran bertambah. Kamu mungkin merasa sungkan menolak karena ingin tetap mengikuti kegiatan bersama. Kalau terlalu sering dilakukan, kondisi keuangan bisa ikut terdampak. Belajar menyesuaikan pilihan dengan kemampuan finansial merupakan bagian dari mengatur uang. Kamu tetap bisa ikut bersosialisasi sambil memilih aktivitas yang sesuai dengan anggaranmu.

    Gaya hidup memang punya hubungan erat dengan cara kamu menggunakan uang. Karena itu, mengatur keuangan juga perlu mempertimbangkan kebiasaan yang sudah menjadi bagian dari rutinitas. Kamu gak harus mengubah gaya hidup secara drastis. Mulai dengan mengenali kebiasaan yang paling banyak menghabiskan uang, lalu tentukan mana yang ingin kamu atur agar kondisi finansial tetap sehat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More