Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rupiah Melemah Dikhawatirkan Berdampak ke Inflasi Impor
ilustrasi inflasi (unsplash.com/@joa70)
  • Rupiah melemah ke Rp18.157 per dolar AS pada pukul 14.00 WIB, berisiko menaikkan biaya barang impor, bahan baku, dan barang penolong industri.
  • Ekonom CELIOS menilai imported inflation dapat menaikkan harga domestik dan menekan daya beli; pemerintah diminta tidak menaikkan harga Pertalite serta LPG 3 kg.
  • Bank Indonesia menyatakan akan menjaga stabilitas rupiah sesuai fundamental ekonomi Indonesia, yang dinilai relatif baik dibandingkan negara-negara pembanding.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Ekonom menilai pelemahan nilai tukar rupiah berisiko mendorong kenaikan inflasi barang impor atau imported inflation. Pasalnya, dampak pelemahan rupiah tidak hanya dirasakan pada harga barang jadi impor, tetapi juga bahan baku dan barang penolong yang dibutuhkan industri dalam negeri.

Bila mengacu data Bloomberg hingga pukul 14.00 WIB, pergerakan rupiah berada di level Rp18.157 per dolar AS atau melemah 20 poin atau 0,11 persen.

1. Pelemahan rupiah akan dorong biaya impor semakin mahal

ilustrasi impor barang (pexels.com/Chanaka)

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda mengatakan, pelemahan rupiah akan membuat biaya impor semakin mahal. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga barang di dalam negeri sehingga semakin menekan daya beli masyarakat.

"Artinya, inflasi akan lebih terdorong lagi jika rupiah kita semakin melemah. Dampaknya adalah daya beli masyarakat kita bisa semakin terpukul," ujar Nailul kepada IDN Times, Jumat (30/10/2026).

2. Pemerintah perlu berhati-hati dalam mengambil kebijakan terkait harga energi bersubsidi

Ilustrasi LPG. (IDN Times/Holy Kartika)

Menurutnya, pemerintah perlu berhati-hati dalam mengambil kebijakan terkait harga energi bersubsidi di tengah kondisi rupiah yang masih tertekan. Ia mengingatkan pemerintah agar tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite maupun LPG 3 kilogram (kg) atau gas melon karena kenaikan harga kedua komoditas tersebut berisiko semakin membebani pengeluaran masyarakat.

"Maka, pemerintah tidak boleh menaikkan barang subsidi seperti Pertalite dan gas melon. Jika pemerintah nekat menaikkan keduanya, saya khawatir daya beli masyarakat semakin merosot," katanya.

Lebih lanjut, Nailul menyarankan pemerintah melakukan realokasi anggaran, termasuk anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG), untuk memperkuat pembiayaan subsidi BBM. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan agar pemerintah tetap bisa menahan harga energi bersubsidi sehingga tekanan terhadap daya beli masyarakat tidak semakin besar.

3. BI terus jaga stabilitas rupiah

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti. (IDN Times/Triyan).

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti menegaskan, BI akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia. Menurutnya, kondisi fundamental ekonomi domestik relatif baik dibandingkan dengan negara-negara lain yang menjadi pembanding.

"Kami di Bank Indonesia kan tugasnya menjaga stabilitas rupiah. Jadi, kalau kita lihat pergerakan rupiah, kan memang sangat banyak faktor yang memengaruhi. Tapi, kalau kita lihat dari fundamental ekonomi, sebenarnya dalam kondisi yang relatif oke dibandingkan dengan peer group," kata Destry dalam Rapimnas Kadin 2026, Kamis (29/10).

Curated For You

Editorial Team

Related Article