Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Isu Perang AS-Iran Bikin Pasar Waswas, Rupiah Loyo di Akhir Pekan

2 min read
Isu Perang AS-Iran Bikin Pasar Waswas, Rupiah Loyo di Akhir Pekan
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
  • Rupiah ditutup melemah 10 poin ke level Rp18.147 per dolar AS pada perdagangan Jumat (30/10/2026).

  • Pasar keuangan bergejolak karena laporan pembahasan opsi militer AS terhadap Iran dan perhatian terhadap data ekonomi AS.

  • Rupiah diperkirakan fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada Senin dan pekan depan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah tercatat melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat (30/10/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp18.147 per dolar AS.

Posisi tersebut melemah 10 poin atau 0,06 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.137 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat bergerak di rentang Rp18.103 hingga Rp18.174 per dolar AS setelah dibuka di level Rp18.133 per dolar AS.

  1. 1. Isu kemungkinan operasi militer AS terhadap Iran bikin pasar bergejolak

    Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menilai pasar keuangan kembali bergejolak setelah muncul laporan mengenai pembahasan opsi militer Amerika Serikat terhadap Iran di Gedung Putih.

    Laporan The Wall Street Journal menyebut, Kepala Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, memberikan penjelasan kepada Presiden Donald Trump mengenai sejumlah opsi militer terhadap Iran pada Kamis (29/10/2026). Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan sejumlah pejabat senior lainnya.

    "Menurut laporan tersebut, pertemuan itu membahas blokade yang terus dilakukan oleh AS serta kemungkinan dimulainya kembali operasi tempur berskala besar," ujar Ibrahim.

  2. 2. Data inflasi dan pertumbuhan ekonomi AS jadi perhatian

    Selain perkembangan geopolitik, Ibrahim juga menyoroti data ekonomi AS, terutama inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

    Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) inti, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, tercatat naik 0,3 persen secara bulanan. Secara tahunan, inflasi inti meningkat menjadi 3,1 persen dari tiga persen pada Agustus 2026. Angka tersebut sesuai dengan perkiraan pasar.

    Sementara itu, Produk Domestik Bruto (PDB) AS pada kuartal III tercatat tumbuh 3,4 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi daripada perkiraan sebesar 3,2 persen dan meningkat dibandingkan dengan capaian kuartal sebelumnya sebesar 2,2 persen.

    "Hal tersebut memperkuat ekspektasi akan adanya kenaikan suku bunga pada bulan Desember, CME FedWatch Tool bahkan menunjukkan probabilitas kenaikan sebesar 83 persen," tutur Ibrahim.

  3. 3. Rupiah diperkirakan bergerak melemah pekan depan

    Pada penutupan perdagangan Jumat, rupiah melemah 10 poin. Padahal, dalam perdagangan intraday, rupiah sempat menguat hingga 35 poin sebelum kembali tertekan.

    Untuk perdagangan Senin (2/11/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Nilai tukar rupiah diperkirakan berada di rentang Rp18.140 hingga Rp18.190 per dolar AS. Sementara itu, untuk perdagangan pekan depan, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp18.000 hingga Rp18.320 per dolar AS.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More