Samsung Cetak Rekor Laba Q3 dan Naikkan Dividen 12 Kali Lipat

- Samsung membukukan rekor Q3 2026: laba operasional 107,44 triliun won dan pendapatan 195,25 triliun won, terutama ditopang divisi semikonduktor serta permintaan memori AI.
- Pendapatan HBM4 naik lebih dari tiga kali lipat secara kuartalan; seluruh volume pasokan tahun depan telah habis terjual setelah kesepakatan dengan 10 pelanggan utama.
- Samsung menaikkan dividen Q3 menjadi 4.601 won per saham, tetapi saham turun 4,13 persen karena rincian imbal hasil lanjutan ditunda; divisi perangkat seluler mencatat rugi operasional.
Jakarta, IDN Times - Raksasa teknologi asal Korea Selatan, Samsung Electronics, mencatat rekor laba operasional dan pendapatan tertinggi sepanjang sejarah pada kuartal ketiga tahun 2026. Lonjakan kinerja tersebut didorong oleh performa divisi semikonduktor yang mengalami lonjakan permintaan cip memori untuk infrastruktur akal imitasi (AI).
Meski mengumumkan kenaikan dividen per saham kuartal ketiga lebih dari 12 kali lipat pada Kamis (29/10/2026), saham perusahaan justru melemah di pasar bursa. Respons para investor menunjukkan kekecewaan karena kepastian mengenai rincian rencana pengembalian nilai pemegang saham lanjutan ditunda hingga tahun depan.
1. Kinerja bisnis semikonduktor dongkrak laba operasional

ilustrasi cip semikonduktor (unsplash.com/Maxence Pira) Dilansir The Korea Times, laba operasional Samsung meroket 783,1 persen secara tahunan mencapai 107,44 triliun won atau setara Rp1.456,88 triliun (kurs Rp13,56). Angka tersebut melampaui ekspektasi pasar yang sebelumnya memproyeksikan laba sekitar 105,7 triliun won atau setara Rp1.433,29 triliun. Pendapatan perseroan turut melonjak 126,9 persen menjadi 195,25 triliun won atau setara Rp2.647,59 triliun, sementara laba bersih melesat 514,6 persen menjadi 75,14 triliun won atau setara Rp1.018,89 triliun.
Pencapaian rekor laba operasional dan pendapatan ini berhasil dipecahkan selama empat kuartal berturut-turut. Divisi Device Solutions yang memproduksi semikonduktor menyumbang porsi terbesar dengan mencatatkan laba operasional 106,5 triliun won atau setara Rp1.444,14 triliun dari total penjualan 147,1 triliun won atau setara Rp1.994,67 triliun. Keberhasilan ini ditopang oleh melonjaknya penjualan high-bandwidth memory 4 (HBM4) untuk kebutuhan infrastruktur AI.
2. Pasokan HBM4 habis terjual di tengah tingginya permintaan

ilustrasi pusat data (pexels.com/Brett Sayles) Samsung mencatat pendapatan HBM4 meningkat lebih dari tiga kali lipat dibanding tiga bulan sebelumnya dan menyumbang sekitar 60 persen dari total pendapatan HBM. Perusahaan juga telah menandatangani perjanjian pasokan jangka panjang dengan 10 pelanggan utama serta memperkirakan pasokan akan tetap ketat hingga tahun 2028. Target tahunan untuk mengamankan pangsa pasar HBM yang setara dengan pangsa pasar DRAM secara keseluruhan pun berhasil diraih pada kuartal ketiga.
Dilansir The Korea Times, manajemen perusahaan memastikan keberhasilan negosiasi pasokan cip memori tersebut. "Negosiasi untuk pasokan HBM tahun depan telah selesai pada target harga kami, dan seluruh volume telah habis terjual," ungkap pihak Samsung. Perusahaan menambahkan bahwa pelanggan utama terus meminta pasokan HBM tambahan. Selain HBM4, kinerja bisnis memori perseroan juga didorong oleh meningkatnya permintaan untuk server solid-state drives (SSD).
3. Dividen kuartal ketiga naik tetapi investor kecewa

ilustrasi pasar saham (pexels.com/Pixabay) Untuk mengatasi ketimpangan antara kinerja keuangan yang memecahkan rekor dan pergerakan harga saham yang lamban, Samsung menyetujui dividen kuartal ketiga senilai 30 triliun won atau setara Rp406,8 triliun. Dividen kuartalan ditetapkan sebesar 4.601 won atau setara Rp62.389 per saham untuk saham biasa dan saham preferen, yang akan dibayarkan pada 27 November 2026. Nilai dividen per saham tersebut melonjak lebih dari 12 kali lipat dibandingkan pembayaran sekitar 370 won atau setara Rp5.017 per saham pada kuartal pertama dan kedua.
Namun, saham Samsung Electronics justru ditutup melemah 4,13 persen ke level 232.000 won atau setara Rp3,15 juta per lembar saham pada Kamis (29/10/2026). Para pelaku pasar bereaksi kecewa karena rencana kenaikan dividen tersebut dinilai telah diantisipasi sebelumnya, sementara pengumuman rincian kebijakan imbal hasil pemegang saham tambahan justru ditunda hingga akhir Januari tahun depan. Total komitmen pengembalian nilai pemegang saham tahun ini tetap berada pada kisaran 90 triliun won hingga 110 triliun won atau setara Rp1.220,4 triliun hingga Rp1.491,6 triliun.
Dari alokasi dana tersebut, sekitar 55 triliun won hingga 75 triliun won atau setara Rp745,8 triliun hingga Rp1.017 triliun saat ini belum didistribusikan atau dikomitmenkan. Manajemen menyebutkan bahwa "jumlah dan metode spesifik akan diselesaikan dan diumumkan bersamaan dengan kebijakan imbal hasil pemegang saham berikutnya pada rapat dewan yang dijadwalkan pada akhir Januari tahun depan." Perseroan berencana mengembalikan sisa dana tersebut melalui dividen tunai serta pembelian kembali dan pembatalan saham dalam jumlah besar.
4. Divisi perangkat seluler alami rugi operasional

ilustrasi smartphone (pexels.com/Andrea Piacquadio) Kondisi berbeda dialami Device Experience Division yang mengelola produk smartphone dan peralatan rumah tangga, dengan membukukan rugi operasional 800 miliar won atau setara Rp10,84 triliun dari penjualan 52,1 triliun won atau setara Rp706,47 triliun. Secara khusus, bisnis Mobile Experience yang memproduksi smartphone mencatatkan kerugian operasional sebesar 600 miliar won atau setara Rp8,13 triliun. Kenaikan harga cip memori menjadi faktor utama yang menekan profitabilitas divisi perangkat konsumen tersebut.
Manajemen memperkirakan bahwa harga cip memori kemungkinan akan tetap tinggi dan kondisi bisnis akan menantang pada kuartal IV. Perusahaan berencana mengantisipasi tantangan tersebut dengan memperbaiki bauran produk dan menekan biaya operasional. Sementara itu, Samsung merencanakan belanja modal sebesar 84,4 triliun won atau setara Rp1.144,46 triliun pada 2026, dengan alokasi mencapai 76,8 triliun won atau setara Rp1.041,4 triliun untuk divisi semikonduktor.





















