Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Rupiah Melemah ke Rp16.755 Ditekan Sikap The Fed dan IHSG

ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (29/1/2026). Rupiah ditutup di level Rp16.755 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 33 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.722 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat tertekan lebih dalam hingga melemah 85 poin.

1. Sikap The Fed tekan rupiah

Pelemahan rupiah dipengaruhi sikap kebijakan moneter Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Dalam pernyataan terbarunya, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50–3,75 persen melalui pemungutan suara 10-2.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan, dua gubernur The Fed, yakni Stephen Miran dan Christopher Waller memilih pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin. Namun, mayoritas pembuat kebijakan menilai suku bunga masih perlu ditahan.

Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan kebijakan moneter tetap bergantung pada data ekonomi dan akan ditentukan dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya. Powell juga menyampaikan pasar tenaga kerja AS saat ini relatif stabil, sementara inflasi masih berada di level yang cukup tinggi.

"Powell mengatakan bahwa mengenai kebijakan moneter The Fed tetap bergantung pada data dengan pendekatan pertemuan demi pertemuan," ujarnya.

Menurut Powell, inflasi inti yang diukur melalui indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) diperkirakan mendekati 3 persen, dengan tekanan harga diproyeksikan mencapai puncaknya sekitar pertengahan tahun.

2. Tekanan pasar saham dan risiko arus modal keluar

Selain faktor global, sentimen dalam negeri turut membebani rupiah. Analis Goldman Sachs Group Inc menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight dan memperingatkan potensi arus keluar dana asing jika status pasar Indonesia diturunkan.

Bank investasi asal Wall Street tersebut menyebutkan, kekhawatiran dari MSCI Inc terkait kelayakan investasi dapat memicu arus keluar lebih dari 13 miliar dolar AS jika Indonesia diklasifikasikan ulang menjadi pasar frontier.

Dalam skenario ekstrem, dana pasif yang mengikuti indeks MSCI diperkirakan bisa melepas saham hingga 7,8 miliar dolar AS.

Goldman Sachs juga menyoroti posisi manajer dana aktif regional yang masih overweight di Indonesia. Tekanan pasar, risiko penurunan likuiditas, serta kemungkinan perubahan status pasar dinilai dapat mendorong penyesuaian portofolio, termasuk memicu aksi spekulatif dari hedge fund.

"Intinya, kekhawatiran terkait rendahnya free float jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan telah muncul sebagai titik masalah bagi saham Indonesia," ujarnya.

3. Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah

Ibrahim menyampaikan, pada perdagangan Kamis sore rupiah akhirnya ditutup melemah 33 poin di level Rp16.755 per dolar AS, meski sebelumnya sempat tertekan hingga 85 poin.

Untuk perdagangan Jumat (30/1/2026), dia memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berlangsung fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp16.750 hingga Rp16.780 per dolar AS.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dheri Agriesta
EditorDheri Agriesta
Follow Us

Latest in Business

See More

Pemerintah Belum Putuskan Pengelolaan Tambang Eks Astra ke Perminas

29 Jan 2026, 17:42 WIBBusiness