Rupiah Menguat ke Rp17.653 per Dolar AS usai BI Naikkan BI Rate

- Rupiah ditutup menguat ke level Rp17.653,5 per dolar AS, naik 52 poin atau 0,29 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
- Penguatan rupiah dipicu keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen serta langkah pemerintah memangkas anggaran belanja.
- Kenaikan BI Rate dinilai sebagai sinyal kuat komitmen bank sentral menjaga stabilitas nilai tukar dan menekan inflasi di tengah ketidakpastian global.
Jakarta, IDN Times - Mata uang Garuda akhirnya berhasil menguat pada penutupan perdagangan, Rabu (20/5/2026) pada level Rp17.653,5 per dolar AS.
Berdasarkan Bloomberg, rupiah menguat hingga 52 poin atau 0,29 persen dibandingkan penutupan kemarin.
Sentimen penguatan rupiah ini berasal dari keputusan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis point.
1. Rupiah menguat paling besar
Mayoritas mata uang di Asia bergerak menguat, namun rupiah tercatat menguat paling besar hingga 52 poin
Rinciannya:
Yuan China menguat 0,01 poin
Pesso Filipina menguat 0,03 poin
Dolar Taiwan menguat 0,01 poin
2. BI naikkan suku bunga acuan, pasar bergerak positif
Pengamat Pasar Uang Lukman Leong menyampaikan penguatan rupiah didorong sentimen positif investor terhadap langkah pemerintah memangkas sejumlah anggaran belanja, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), guna menjaga kredibilitas fiskal di tengah tekanan global.
"Selain itu, keputusan mengejutkan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen turut menopang pergerakan rupiah," tegasnya.
3. Pasar nilai BI berkomitmen jaga stabilitas rupiah dengan naikkan suku bunga acuan
Pelaku pasar menilai kenaikan suku bunga agresif tersebut menunjukkan komitmen kuat bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan tekanan inflasi di tengah tingginya ketidakpastian global.
Sebelumnya, Perry Warjiyo menyatakan kenaikan BI Rate dilakukan sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah akibat meningkatnya gejolak global, termasuk dampak perang di Timur Tengah.
Di sisi lain, indeks dolar AS masih bergerak menguat seiring tingginya permintaan aset safe haven dan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.














