Jakarta, IDN Times - Nilai tukar rupiah terus mengalami depresiasi. Pada penutupan perdagangan Selasa (2/6/2026), kurs rupiah melemah 34 poin atau 0,19 persen ke Rp17.839 per dolar AS.
Berdasarkan analisis Pramadina Public Policy Institute yang ditulis oleh Wijayanto Samirin selaku ekonom dan dosen Universitas Paramadina, sejak awal 2025 sampai Mei 2026, rupiah mengalami depresiasi hingga 9 persen.
Bahkan, pada Jumat (29/5/2026) lalu, kurs rupiah sempat menyentuh level terendah sepanjang masa, yakni Rp17.905 per dolar AS.
Depresiasi rupiah memberikan dampak negatif bagi pemerintah, dunia usaha, dan juga masyarakat. Berikut pembahasannya berdasarkan analisis Pramadina Public Policy Institute.
