Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
S&P Global Pertahankan Peringkat Kredit RI, Bagaimana Dampaknya ke Rupiah?
ilustrasi rupiah (unsplash.com/Mufid Majnun)
  • S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB jangka panjang dan A-2 jangka pendek dengan outlook stabil, memicu penguatan IHSG meski rupiah masih melemah.
  • Analis menilai dampak ke pasar modal dan rupiah terbatas karena investor fokus pada arus modal, tekanan eksternal, serta konsistensi kebijakan domestik yang tetap jadi perhatian utama.
  • S&P menyoroti pentingnya disiplin fiskal dan peningkatan penerimaan negara dari ekspor SDA melalui kebijakan ekspor satu pintu agar sentimen investor dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. S&P Global menyatakan untuk peringkat jangka panjang tetap stabil.

Kabar itu direspons baik oleh pasar, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melambung di penutupan, dengan penguatan 113,48 poin atau 1,92 persen ke level 6.037,84.

Meski begitu Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), Andry Asmoro menilai dampak ke pasar modal akan terbatas, begitu juga ke rupiah.

“Karena perhatian investor masih tertuju pada capital flow, tekanan sektor eksternal, dan konsistensi implementasi kebijakan domestik,” kata Andry dalam keterangan resmi, Senin (13/7/2026).

Adapun kurs rupiah masih menunjukkan pelemahan 44 poin atau 0,24 persen ke Rp18.109 per dolar AS sore tadi.

1. Kabar baik untuk pasar obligasi

Ilustrasi Obligasi/Surat Berharga (IDN Times/Aditya Pratama)

Andry menilai, pengumuman terbaru S&P Global Ratings menjadi kabar baik bagi pasar obligasi.

“Positif untuk pasar obligasi, karena mempertahankan status investment grade mengurangi risiko perubahan persepsi investasi investor global,” tutur Andry.

2. Disiplin fiskal harus dijaga

ilustrasi APBN (IDN Times/Aditya Pratama)

S&P Global Ratings mempertahankan peringkat Indonesia karena menilai pelemahan indikator fiskal dan eksternal yang terjadi hanya bersifat sementara, dan akan berbalik membaik seiring kenaikan harga komoditas serta laju perubahan kebijakan yang lebih stabil.

“Kami meyakini upaya pemerintah untuk memusatkan manajemen serta mengurangi kebocoran di sektor sumber daya alam dan mineral pada akhirnya dapat meningkatkan penerimaan negara dan pendapatan ekspor, terutama jika implementasi kebijakan membaik,” tulis S&P Global dikutip dari keterangan resmi di situsnya.

Selain itu, outlook stabil dari S&P Global Ratings juga mencerminkan ekspektasi lembaga tersebut bahwa pemerintah akan menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tak melebihi 3 persen. Menurut Andry, catatan itu makin menekankan, disiplin fiskal harus terus dijaga.

“Selama disiplin fiskal tetap terjaga, risiko penurunan rating relatif rendah. Namun dalam jangka pendek, arah rupiah, CDS Indonesia, foreign portfolio flow, dan current account akan menjadi indikator yang dapat menentukan pergerakan rating ke depan,” ujar Andry.

3. S&P Global Ratings soroti upaya tingkatkan penerimaan negara dari ekspor SDA

Ilustrasi Ekspor (IDN Times/Aditya Pratama)

Dalam laporannya, S&P Global Ratings menyoroti upaya pemerintah untuk meningkatkan penerimaan negara, terutama dari ekspor komoditas sumber daya alam (SDA). Lembaga itu memang menggarisbawahi kebijakan pemerintah mengimplementasikan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI.

Akan tetapi, S&P Global Ratings menekankan, program itu harus dijalankan dengan naik karena jika tidak ada dampak berkepanjangan pada sentimen investor, yang pada akhirnya mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

“Namun, hal itu bukan skenario dasar kami karena kami menilai pemerintah telah menunjukkan fleksibilitas dalam implementasi kebijakan sebagai respons terhadap masukan negatif dari pelaku industri,” tulis S&P Global.

Curated For You

Editorial Team

Related Article