Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Indonesia Terancam Rugi Rp2.000 Triliun Akibat Krisis Iklim

Indonesia Terancam Rugi Rp2.000 Triliun Akibat Krisis Iklim
ilustrasi bencana akibat krisis iklim (freepik.com/freepik)
Intinya Sih
  • Bappenas memperingatkan potensi kerugian akibat krisis iklim bisa mencapai Rp2.000 triliun pada 2029, setara dua pertiga APBN jika tidak segera ditangani.
  • Sebanyak 319 kabupaten/kota memiliki tingkat kerentanan iklim tinggi, dengan kawasan Pantura Jawa menyumbang 27 persen PDB nasional dan menghadapi risiko besar dari kenaikan muka laut.
  • Perubahan iklim berdampak luas hingga sosial, budaya, dan politik; masyarakat pesisir terancam kehilangan tempat tinggal serta pulau-pulau kecil berpotensi hilang, memengaruhi batas wilayah Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) memperingatkan potensi kerugian akibat perubahan iklim dapat mencapai Rp544 triliun per tahun.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengatakan angka tersebut akan mencapai lebih dari Rp2.000 triliun pada 2029 jika tidak ditangani. Menurut dia, besarnya kerugian tersebut setara dua pertiga anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

"Potensi kerugian mencapai Rp544 triliun atau lebih dari Rp2.000 triliun pada tahun 2029 kalau tidak diatasi. Ini berarti 2/3 dari APBN kita bisa habis hanya gara-gara kerentanan iklim yang harus kita atasi," kata dia di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Senin (13/7/2026).

1. Perubahan iklim mengancam 319 kabupaten/kota

IMG_2613.jpeg
Banjir rob yang masih menggenangi jalur Pantura Semarang Demak, Senin (23/6/2025). (IDN Times/Dhana Kencana)

Rachmat mengatakan, kenaikan muka air laut kini bukan lagi sekadar ancaman, melainkan telah menjadi kenyataan yang mengubah kondisi wilayah pesisir secara mendasar. Dia menyebut perubahan iklim berpotensi memicu kerugian sosial dan ekonomi dalam skala besar.

"Perubahan iklim berpotensi menimbulkan kerugian sosial ekonomi yang besar. Paling tidak terdapat 319 kabupaten/kota yang saat ini tingkat kerentanan iklimnya sangat tinggi," ujarnya.

2. Pantura menyumbang 27 persen PDB nasional

IMG_2630.jpeg
Sejumlah kendaraan menerjang banjir rob yang masih menggenangi jalur Pantura Semarang Demak, Senin (23/6/2025). (IDN Times/Dhana Kencana)

Rachmat menjelaskan, kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa penting bagi perekonomian nasional. Wilayah tersebut menyumbang 27 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, sementara 60 persen industri nasional berada di kawasan pesisir Jawa.

"Dan Jakarta sendiri diperkirakan bisa kehilangan setidaknya Rp186 juta setiap tahun akibat risiko banjir, kerusakan infrastruktur, bangunan, dan hilangnya lahan produktif," paparnya.

3. Dampaknya meluas hingga sosial dan budaya

Warga berusaha menerobos banjir di Desa Radda, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Selasa (14/7/2020). (ANTARA FOTO/Hariandi Hafid)
Warga berusaha menerobos banjir di Desa Radda, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Selasa (14/7/2020). (ANTARA FOTO/Hariandi Hafid)

Rachmat mengatakan perubahan iklim juga berdampak pada aspek sosial, budaya, dan politik. Dampak sosial ditandai dengan hilangnya sumber daya pesisir, sedangkan masyarakat pesisir juga berisiko kehilangan tempat tinggal sekaligus akar budayanya.

Di sisi lain, tenggelamnya pulau-pulau kecil dinilai berpotensi memengaruhi batas wilayah dan kedaulatan negara. Hilangnya pulau-pulau terluar dapat mengurangi wilayah Indonesia akibat kenaikan muka air laut.

"Dan ini berarti merugikan luas wilayah yang harusnya luas tapi jadi berkurang hanya karena satu pulau, dua pulau, tiga pulau di batas terluar itu hilang karena naiknya muka laut," kata dia.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Ilyas Listianto Mujib
EditorIlyas Listianto Mujib

Related Articles

See More