Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bos BEI Bantah Pidato Prabowo Pengaruhi Pergerakan IHSG

Bos BEI Bantah Pidato Prabowo Pengaruhi Pergerakan IHSG
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
Intinya Sih
  • Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan pidato Presiden Prabowo tidak berpengaruh langsung terhadap fluktuasi IHSG karena pergerakan pasar dipicu banyak faktor ekonomi lain.
  • Jeffrey menjelaskan keputusan investasi investor, termasuk asing, kini lebih didasari pertimbangan rasional ekonomi dibanding faktor politik seperti yang terjadi pada era 1980-an.
  • BEI menilai tekanan terhadap pasar dan aksi jual asing lebih disebabkan ketidakpastian global, seperti tarif resiprokal AS serta konflik geopolitik di Timur Tengah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pada akhir Juni 2026 lalu, viral di media sosial jadwal pidato Presiden Prabowo Subianto selama Juli 2026. Jadwal pidato itu dijadikan sebagai ancang-ancang bagi investor ritel, karena disebut-sebut mempengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setiap kali Prabowo berpidato.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik membantah pidato Prabowo menjadi faktor fluktuasi IHSG.

“Harusnya sih enggak ya, karena pada saat yang bersamaan juga ada faktor-faktor lain yang sebenarnya muncul di situ. Tapi kalau itu dikait-kaitkan, ya saya kira tidak terlalu pas,” kata Jeffrey di gedung BEI, Jakarta Selatan, Senin (13/7/2026).

1. Pergerakan IHSG dipengaruhi keputusan rasional

Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)
Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

Menurut Jeffrey, pergerakan IHSG tak bisa dikaitkan hanya pada satu atau dua fakto. Dia mengatakan, investor biasanya menetapkan keputusan investasi secara rasional mempertimbangkan kondisi ekonomi.

“Karena di setiap keputusan investasi tentu ada rasional ekonomi di situ, dan tidak bisa dikaitkan hanya kepada satu-dua faktor,” ujar Jeffrey.

2. Soal investor asing ramai-ramai cabut selama Prabowo menjadi Presiden

Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)
Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

BEI juga membantah faktor terjadinya arus modal keluar dari investor asing disebabkan oleh sentimen investor  asing terhadap pemerintahan saat ini. Dia mengatakan, faktor politik menjadi pertimbangan utama pada 1980-an. Kini, faktor politik bukan jadi pertimbangan utama.

“Kalau kami melihat dari waktu ke waktu korelasi antara politik dengan keputusan investasi itu semakin berkurang. Kalau kita bicara di tahun 80-an korelasi antara aktivitas politik dengan pergerakan pasar itu korelasinya masih tinggi, dan itu juga terjadi di banyak negara yang ekonomi dan demokrasinya maju,” ucap Jeffrey.

Adapun pada 2025, investor asing melakukan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp17,34 triliun. Sejak awal 2026 sampai 10 Juli 2026, investor asing mencatatkan net sell Rp76,16 triliun.

3. Adanya ketidakpastian yang dihadapi Indonesia

Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)
Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

Jeffrey mengatakan, sentimen negatif investor asing dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi yang dihadapi Indonesia karena faktor eksternal. Pertama, penerapan tarif resiprokal oleh Amerika Serikat (AS), dan kedua konflik geopolitik di Timur Tengah.

“Jadi kalau kami mengaitkan lebih mengaitkan ke situ bahwa terjadinya eskalasi, kemudian de-eskalasi, kemudian pengumuman dari Bank Sentral Amerika, pengumuman dari pemerintah Amerika. Jadi dinamika-dinamika itu justru yang berdampak lebih langsung kepada pergerakan di pasar ketimbang hal-hal lain yang tadi disampaikan,” ujar Jeffrey.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati

Related Articles

See More