Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Saat Energi Jadi Kunci untuk Mewujudkan Tren Teknologi Masa Depan RI

Saat Energi Jadi Kunci untuk Mewujudkan Tren Teknologi Masa Depan RI
Data Center Technology (pixabay.com/MightyFineBros
Intinya Sih
  • Riset Antares Ventures menyoroti bahwa lonjakan kebutuhan listrik akibat AI dan gaya hidup digital menuntut jaringan listrik yang stabil, pintar, serta penggunaan microgrids mandiri di Indonesia.
  • Inovasi sistem pendingin tanpa air seperti Liquid Cooling dinilai penting untuk menjaga efisiensi data center di iklim tropis tanpa menguras cadangan air bersih nasional.
  • Asia, termasuk Indonesia, kini menjadi pusat transisi energi bersih global dengan dominasi sumber terbarukan, menjadikan industri lokal lebih ramah lingkungan dan berdaya saing tinggi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Ekonomi digital Indonesia menjadi lahan penuh potensi yang disoroti berbagai pihak, baik di dalam maupun luar negeri. Perkembangan ekonomi digital di Indonesia sangat mengandalkan kecanggihan teknologi, begitu juga persoalan energi.

Riset terbaru dari Antares Ventures bertajuk "Beyond Carbon & Silicon" mengungkap, Indonesia harus segera berbenah. Bukan hanya dari sisi energi, terutama soal penambahan jaringan listrik, tapi soal bagaimana teknologi tingkat tinggi (Deep Tech) bisa menyelamatkan ekonomi kita di tengah krisis energi global.

Riset itu menyoroti tiga tren teknologi masa depan Indonesia, yang perlu disikapi dengan pembenahan dari sisi pasokan energi. Simak ulasannya.

1. Listrik tak sekadar menyala, tapi harus stabil dan pintar

Ilustrasi Solar Panel (Unsplash.com/chelseadeeyo)
Ilustrasi Solar Panel (Unsplash.com/chelseadeeyo)

Riset itu menyatakan, kebutuhan listrik di Indonesia bakal meledak karena menjamurnya Data Centeruntuk teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dan gaya hidup digital.

Riset ini menyebutkan bahwa nilai utama bukan lagi soal seberapa banyak listrik yang tersedia, tapi seberapa stabil dan berkualitas daya tersebut untuk mendukung perangkat canggih masyarakat.

Indonesia diprediksi bakal lebih banyak menggunakan Microgrids atau jaringan listrik skala kecil yang lebih mandiri dan tahan banting, agar aktivitas industri maupun digital tak mudah terganggu.

2. Teknologi pendingin tanpa mengandalkan air jadi solusi di tengah cuaca tropis

Hutan Kalimantan (IDN Times/Aldila Muharma)
Hutan Kalimantan (IDN Times/Aldila Muharma)

Meningkatnya kebutuhan infrastruktur pusat data atau data center akan mendorong kebutuhan sistem pendinginan atau cooling system. Akan tetapi, pendinginan (cooling) bakal jadi salah satu konsumen energi terbesar di masa depan, ditambah dengan Indonesia memiliki iklim tropis.

Yang menjadi catatan, sistem pendingin konvensional biasanya membutuhkan air dalam jumlah besar. Oleh sebab itu, riset Antares menyoroti pentingnya inovasi "Cooling Without Water".

Teknologi seperti Liquid Cooling (pendinginan menggunakan cairan khusus langsung ke mesin) bakal jadi kunci supaya pusat data dan pabrik-pabrik di Indonesia tetap bisa beroperasi maksimal tanpa harus menghabiskan cadangan air bersih kita. Jadi, teknologi tetap jalan, lingkungan tetap aman.

3. Era "Electro-Continent": Asia (dan Indonesia) jadi kiblat energi bersih

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang kuartal I 2025. (dok. Pertamina)
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang kuartal I 2025. (dok. Pertamina)

Indonesia sedang dalam masa transisi besar dari energi fosil ke energi bersih. Tahukah kamu kalau Asia saat ini menyumbang sekitar 70 persen dari pembangunan energi bersih global? Bahkan, lebih dari 90 persen penambahan kapasitas daya baru di Asia sekarang berasal dari sumber terbarukan.

Artinya, produk-produk yang kita pakai nanti, mulai dari baterai kendaraan listrik sampai gawai (gadget), bakal diproduksi dengan proses yang lebih ramah lingkungan. Indonesia tak cuma jadi penonton, tapi pusat pengolahan industri maju yang berbasis energi listrik bersih ini.

Riset Antares menekankan, masa depan infrastruktur di Indonesia bukan lagi soal seberapa banyak uang atau modal yang dimiliki, tapi seberapa canggih teknologi yang digunakan untuk mengatasi keterbatasan alam.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Related Articles

See More