Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Purbaya Akan Aktifkan Bond Stabilization Fund untuk Stabilitas Pasar

Purbaya Akan Aktifkan Bond Stabilization Fund untuk Stabilitas Pasar
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam Bincang Bareng Media. (IDN Times/Triyan).
Intinya Sih
  • Kementerian Keuangan berencana mengaktifkan kembali Bond Stabilization Fund (BSF) untuk menjaga stabilitas pasar obligasi di tengah kenaikan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun hingga 6,32 persen.
  • Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pengaktifan BSF bukan tanda krisis, melainkan langkah menjaga likuiditas dan mencegah kepanikan investor melalui mekanisme buyback Surat Utang Negara (SUN).
  • Pemerintah belum merinci besaran dana buyback SUN, namun koordinasi dengan Bank Indonesia akan dilakukan agar BSF segera aktif menghadapi kondisi pasar yang bergerak cepat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berencana menghidupkan Bond Stabilization Fund (BSF) milik internal kementerian untuk menjaga stabilitas pasar obligasi, terutama di tengah kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun yang saat ini mencapai 6,32 persen. Yield tersebut meningkat dari sebelumnya 5,9 persen.

Kenaikan yield obligasi pemerintah berarti Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan menghadapi beban pembayaran bunga utang yang lebih berat.

“Saya punya Bond Stabilization Fund sendiri. Itu sebelumnya tidak pernah diaktifkan, jadi sekarang saya hidupkan,” kata Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam Bincang Bareng Media di Jakarta, Rabu (6/5/2026).

1. Aktifkan BSF bukan berarti krisis

Ilustrasi Obligasi/Surat Berharga (IDN Times/Aditya Pratama)
Ilustrasi Obligasi/Surat Berharga (IDN Times/Aditya Pratama)

Ia menegaskan, pengaktifan BSF ini bukan indikasi ekonomi Indonesia sedang krisis. Nantinya, BSF akan digunakan untuk membeli kembali Surat Utang Negara (SUN) guna menjaga likuiditas, menstabilkan yield, dan menggairahkan perdagangan obligasi. Dengan adanya dana ini, pemerintah dapat melakukan buyback obligasi dalam jumlah terbatas sehingga pasar tetap stabil dan investor tidak panik menjual.

“Dalam beberapa bulan terakhir, yield naik cukup cepat. Saat saya menyuntikkan likuiditas, yield sempat 5,9 persen, kemudian meningkat bertahap menjadi 6,1 hingga 6,7 persen. Jika yield naik, harga surat utang akan turun, yang menyebabkan investor mengalami capital loss,” tutur Purbaya.

2. Dampak kenaikan yield

Ilustrasi obligasi (IDN Times/Aditya Pratama)
Ilustrasi obligasi (IDN Times/Aditya Pratama)

Ia menambahkan, dampak kenaikan yield obligasi dapat memicu penjualan besar-besaran oleh investor asing sesuai aturan lembaga investasi yang mereka ikuti. Namun ia memastikan dana untuk buyback SUN berasal dari berbagai pos.

“Anggarannya berasal dari (berbagai pos). Nanti akan saya jelaskan," ucap Purbaya.

3. Belum dirinci anggaran untuk buyback SUN

ilustrasi obligasi (unsplash.com/Viacheslav Bublyk)
ilustrasi obligasi (unsplash.com/Viacheslav Bublyk)

Meski demikian, Purbaya enggan merinci besaran dana yang akan dialokasikan untuk buyback SUN demi menstabilkan obligasi dan rupiah.

“Belum tahu anggarannya, tapi kami akan koordinasi dengan Bank Indonesia,,” ungkapnya.

Pengaktifan BSF diperkirakan bisa dilakukan segera, bahkan diklaimnya bisa mulai berlaku besok, Kamis (7/5) guna menghadapi kondisi pasar yang memerlukan tindakan cepat. Pemerintah menegaskan, BSF ini berbeda dengan kerangka stabilisasi obligasi yang sebelumnya dimiliki KSSK dan Kementerian Keuangan karena bersifat lebih fleksibel dan langsung dikelola secara internal.

Sebagai informasi, BSF telah dikaji sejak era Menkeu Bambang Brodjonegoro, namun hingga kini instrumen ini belum pernah diaktifkan. Kebijakan tersebut awalnya dirancang untuk menghadapi kemungkinan terburuk dari bencana keuangan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Related Articles

See More