Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

DEN Prediksi Konflik AS dan Iran Masih Bertahan 3 Bulan Lagi

DEN Prediksi Konflik AS dan Iran Masih Bertahan 3 Bulan Lagi
Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mochammad Firman Hidayat. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
Intinya Sih
  • DEN memprediksi ketegangan antara AS dan Iran masih akan berlangsung 2–3 bulan ke depan, memasuki fase pertarungan daya tahan di tengah blokade ekonomi yang menekan Iran.
  • Blokade AS membuat Iran kehilangan potensi ekspor minyak hingga 500 juta dolar AS per hari, menguji kapasitas penyimpanan dan stabilitas ekonominya yang bisa memicu negosiasi baru.
  • Dari sisi domestik, pemerintahan Donald Trump menghadapi tekanan politik menjelang pemilu sela akibat kenaikan harga bensin, sementara Indonesia dinilai tetap mampu menjaga stabilitas fiskal menghadapi gejolak global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Firman Hidayat menyatakan ketegangan geopolitik global diperkirakan masih akan berlangsung dalam 2 hingga 3 bulan ke depan.

Menurut Firman, situasi saat ini telah memasuki fase battle of endurance atau pertarungan daya tahan antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Dia menyoroti sejauh mana Iran mampu bertahan menghadapi blokade yang dilakukan oleh AS.

"Melihat view kita sih kayaknya ini mungkin masih akan bertahan 2-3 bulan lagi gitu kan," kata dia kepada IDN Times di IDN HQ, Jakarta, Rabu (6/5/2026).

1. Kapasitas penyimpanan minyak dan perekonomian Iran diuji

ilustrasi kilang minyak
ilustrasi kilang minyak (pexels.com/ Erik Mclean)

Akibat blokade oleh AS, Iran kehilangan potensi penerimaan ekspor minyak sebesar 500 juta dolar AS per hari. DEN juga memantau dampak tertahannya ekspor minyak terhadap kapasitas penyimpanan di dalam negeri Iran.

Jika kapasitas penyimpanan tersebut telah penuh, produksi minyak mau tidak mau harus dihentikan. Hanya saja, pertaruhannya proses untuk memulai kembali produksi setelah dihentikan tidaklah mudah dan membutuhkan waktu.

Gangguan terhadap sektor produksi tersebut dinilai akan memengaruhi kondisi ekonomi Iran dan berpotensi menjadi titik penentu bagi negara tersebut untuk membuka ruang negosiasi dengan AS.

"Tapi ya kalau kita sih lihat kan 47 tahun mereka kena embargo mereka masih bisa survive ya. Itu satu dari aspek Iran," ujar dia.

2. Trump juga dihadapkan politik domestik dan pemilu sela

Donald Trump sedang berada di Gedung Putih.
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Dari sudut pandang Amerika Serikat, Firman menyoroti tantangan yang dihadapi oleh pemerintahan Presiden Donald Trump menjelang pemilihan sela (midterm elections).

Kenaikan harga bensin di Amerika Serikat dinilai memberikan dampak yang cukup besar terhadap tingkat kepuasan publik (approval rating), yang berpotensi memengaruhi perolehan kursi Partai Demokrat di Senat dan DPR.

Mengingat pemilihan tersebut akan diselenggarakan pada bulan November, Firman memperkirakan pemerintah AS memiliki waktu setidaknya sampai Agustus untuk melakukan perubahan kebijakan guna mengamankan perolehan suara.

"Kita sih sebenarnya view-nya Agustus lah paling lambat dia harus ubah kalau dia mau menang di midterm election setidaknya di Senat-nya ya. Jadi mana nih yang bertahan lebih lama (antara AS dan Iran)," paparnya.

3. Indonesia diyakini tahan guncangan geopolitik

ilustrasi ekonomi
ilustrasi ekonomi (vecteezy.com/witsanu singkaew)

Terkait kemampuan Indonesia menghadapi gejolak tiga bulan ke depan, Dia menegaskan kondisi dalam negeri masih aman. DEN telah mengkaji berbagai skenario harga minyak, termasuk pada kisaran 90 hingga 100 dolar AS per barel.

"Kita melihat sih sebenarnya APBN masih punya fleksibilitas, masih punya ruang gitu ya untuk menjaga defisit tetap di bawah 3 persen," kata Firman.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Related Articles

See More