Pasar saham global masih menghadapi ketidakpastian akibat ketegangan geopolitik dan kekhawatiran terhadap keberlanjutan tren investasi kecerdasan buatan (AI). Kondisi tersebut membuat investor perlu lebih cermat dalam memilih instrumen investasi, terutama jika menginginkan pemasukan yang relatif rutin. Salah satu strategi yang bisa dipertimbangkan adalah mengoleksi saham perusahaan yang rajin membagikan dividen.
Cari Cuan Stabil? Ini 3 Saham Dividen Pilihan Wall Street

Namun, kamu tetap perlu memperhatikan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan pembayaran dividen di tengah perubahan kondisi pasar. Menariknya, sejumlah analis Wall Street melihat ada tiga saham dividen yang memiliki prospek menjanjikan untuk diperhatikan investor.
Rekomendasi ini melibatkan perusahaan di sektor energi yang memiliki karakteristik bisnis dan tingkat imbal hasil dividen berbeda. Ketiganya adalah Chevron, Kinetik Holdings, dan Crescent Energy. Berikut tiga saham dividen pilihan Wall Street beserta prospeknya yang dipantau melalui TipRanks.
1. Chevron (CVX), perusahaan energi dengan rekam jejak dividen panjang

ilustrasi perusahaan minyak dan gas Chevron, energi, BBM, bensin, minyak bumi, SPBU (unsplash.com/Luis Ramirez) Chevron merupakan perusahaan energi terintegrasi yang bergerak di bidang eksplorasi, produksi, hingga pengolahan minyak dan gas. Perusahaan ini memiliki rekam jejak pembagian dividen yang cukup kuat karena telah meningkatkan pembayaran dividennya selama 39 tahun berturut-turut. Chevron menawarkan dividen kuartalan sebesar US$1,78 per saham atau sekitar Rp29.630 dengan asumsi kurs Rp16.645 per dolar AS. Jika dihitung secara tahunan, dividennya mencapai US$7,12 atau sekitar Rp118.510 per saham dengan dividend yield sebesar 3,14%.
Analis Goldman Sachs, Neil Mehta, mempertahankan rekomendasi buy untuk saham Chevron dengan target harga US$241 atau sekitar Rp4,01 juta per saham. Salah satu pertimbangannya adalah peluang pertumbuhan bisnis internasional perusahaan di sejumlah wilayah, seperti Amerika Latin, Timur Tengah, Afrika Barat, dan Mediterania Timur. Mehta juga menyoroti perkembangan operasional Chevron di Venezuela yang diperkirakan mampu meningkatkan produksi kotor lebih dari dua kali lipat menjadi hampir 600 ribu barel per hari pada 2031. Peningkatan tersebut ditargetkan melalui tiga proyek usaha patungan.
Selain itu, Chevron mencatatkan penemuan minyak dan kondensat gas di lepas pantai Angola. Perusahaan juga masih menunggu perkembangan komersial dari proyek West Qurna 2 dan Nasiriyah di Irak. Di sisi lain, Mehta memperkirakan Chevron bisa meningkatkan produktivitas dan efisiensi modal pada aset serpih domestiknya, terutama di Permian Basin. Penggunaan teknologi perawatan kimia canggih diproyeksikan meningkatkan tingkat perolehan minyak sekitar 10% pada sumur baru sekaligus menurunkan belanja modal per barel sekitar 25% secara tahunan.
Mehta memperkirakan Chevron akan membukukan laba per saham atau earnings per share (EPS) sebesar US$4,95 pada kuartal III 2026. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan konsensus analis sebesar US$4,89. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa perubahan waktu operasional dan volatilitas harga komoditas masih berpotensi menekan kinerja kuartalan. Mehta menilai margin pengolahan minyak di Amerika Serikat yang sehat serta pemanfaatan aset yang kuat dapat membantu mengimbangi tekanan tersebut.
2. Kinetik Holdings (KNTK), menawarkan dividend yield paling tinggi

ilustrasi investasi, saham, dividen, passive income, penghasilan pasif (vecteezy.com/Akarapong Chairean) Jika kamu mencari saham dengan tingkat imbal hasil dividen lebih tinggi, Kinetik Holdings layak masuk daftar pengamatan. Perusahaan ini bergerak di sektor midstream, yaitu bisnis infrastruktur energi yang mencakup pengumpulan, pemrosesan, dan pengangkutan minyak serta gas alam. Kinetik memiliki kegiatan operasional yang terintegrasi dan berfokus di Delaware Basin. Pada Oktober 2026, perusahaan mengumumkan dividen sebesar US$0,81 atau sekitar Rp13.480 per saham yang dijadwalkan dibayarkan pada 30 Oktober 2026.
Secara tahunan, dividen Kinetik mencapai US$3,24 atau sekitar Rp53.920 per saham. Dengan dividend yield sebesar 5,82%, perusahaan ini menawarkan tingkat imbal hasil paling tinggi dibandingkan dua saham lainnya dalam daftar ini. Namun, dividend yield yang besar tetap perlu dilihat bersama kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas dan mempertahankan pembagian dividen. Jadi, kamu sebaiknya jangan hanya terpaku pada persentase imbal hasilnya, ya.
Analis Goldman Sachs, John Mackay, mempertahankan rekomendasi buy untuk saham Kinetik. Ia juga sedikit menaikkan target harga saham tersebut dari US$57 menjadi US$58 atau sekitar Rp964.000 per saham. Mackay memperkirakan Kinetik mampu membukukan EBITDA sebesar US$279 juta pada kuartal III 2026, lebih tinggi dibandingkan perkiraan konsensus analis sebesar US$270 juta. Meski demikian, angka tersebut masih sedikit di bawah EBITDA kuartal sebelumnya yang mencapai US$281 juta.
Menurut Mackay, kinerja Kinetik berpotensi terbantu oleh peningkatan volume gas setelah perusahaan mengalami pembatasan produksi yang cukup signifikan pada kuartal II. Peningkatan produksi dan margin komoditas yang relatif stabil juga diperkirakan mendukung hasil kuartalan. Akan tetapi, beberapa kontrak dengan margin lebih rendah serta melemahnya keuntungan pemasaran dari selisih harga Waha berpotensi menjadi tantangan.
Mackay juga menyoroti perkembangan infrastruktur pipa di Permian yang memungkinkan peningkatan volume pengangkutan gas. Ia menilai investor akan memperhatikan perkembangan volume Kinetik hingga akhir 2026 serta kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan bisnis dalam beberapa tahun mendatang. Dengan dividend yield yang relatif tinggi, Kinetik menarik untuk dipelajari lebih lanjut, meskipun kamu tetap perlu memperhatikan risiko operasional dan pergerakan harga komoditas.
3. Crescent Energy (CRGY), punya peluang pertumbuhan dari akuisisi

ilustrasi kilang minyak (pexels.com/Jan-Rune Smenes Reite) Pilihan berikutnya adalah Crescent Energy, perusahaan eksplorasi dan produksi minyak serta gas yang memiliki kegiatan operasional di Eagle Ford, Permian, dan Uinta Basin. Perusahaan ini menawarkan dividen kuartalan sebesar US$0,12 atau sekitar Rp1.997 per saham. Jika dihitung secara tahunan, jumlahnya mencapai US$0,48 atau sekitar Rp7.990 per saham. Dengan tingkat dividend yield sebesar 3,56%, Crescent Energy menawarkan imbal hasil di antara Chevron dan Kinetik Holdings.
Salah satu perkembangan bisnis yang menjadi perhatian analis adalah kesepakatan akuisisi aset Eagle Ford milik Devon Energy. Analis Evercore, Stephen Richardson, mempertahankan rekomendasi buy untuk saham Crescent Energy menjelang pengumuman kinerja kuartal III 2026. Namun, ia sedikit menurunkan target harga saham dari US$18 menjadi US$17 atau sekitar Rp283.000 per saham. Penyesuaian tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan potensi dilusi akibat penerbitan saham baru.
Richardson menilai akuisisi aset Eagle Ford merupakan langkah strategis yang berorientasi pada pertumbuhan. Transaksi dengan nilai pembelian bersih US$3,85 miliar atau sekitar Rp64,08 triliun tersebut diperkirakan menambah produksi bersih sekitar 68 ribu barel setara minyak per hari. Selain itu, akuisisi ini akan memberikan tambahan lebih dari 600 lokasi pengeboran kategori Tier 1 yang dinilai memiliki potensi pengembangan menarik.
Hal lain yang membuat Richardson optimistis adalah pengalaman Crescent dalam menciptakan sinergi dari transaksi akuisisi sebelumnya di kawasan Eagle Ford. Pengalaman tersebut dinilai dapat membantu perusahaan meningkatkan efisiensi operasional setelah mengambil alih aset Devon Energy. Bahkan, dampak finansial dari transaksi ini diperkirakan cukup positif karena berpotensi meningkatkan arus kas per saham sekitar 9% selama periode 2027 hingga 2029.
Richardson melihat langkah ekspansi tersebut dapat membantu Crescent membangun bisnis yang lebih tangguh dalam menghadapi berbagai kondisi pasar. Meski demikian, keberhasilan strategi akuisisi tetap bergantung pada kemampuan perusahaan mengintegrasikan aset baru dan merealisasikan efisiensi yang telah diproyeksikan. Artinya, investor perlu memperhatikan perkembangan kinerja operasional Crescent setelah proses akuisisi berjalan.
Ketiga saham dividen pilihan Wall Street menawarkan karakteristik investasi yang berbeda meskipun sama-sama bergerak di sektor energi. Chevron memiliki rekam jejak peningkatan dividen selama 39 tahun, Kinetik Holdings menawarkan dividend yield tertinggi sebesar 5,82%, sedangkan Crescent Energy memiliki peluang pertumbuhan melalui akuisisi aset baru.
Rekomendasi buy dari analis Wall Street dapat menjadi bahan pertimbangan awal sebelum kamu menentukan pilihan investasi. Namun, jangan lupa bahwa dividen dan potensi kenaikan harga saham gak pernah sepenuhnya bebas risiko, sehingga penting untuk memeriksa kondisi keuangan perusahaan, prospek bisnis, dan kesesuaian saham dengan tujuan investasimu.






















