Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Sejumlah Alasan Indonesia Sanggup Bangun PLTN

Ilustrasi PLTN.
Ilustrasi PLTN. (dok. ThorCon Power Indonesia)
Intinya sih...
  • Indonesia memiliki sumber daya alam nuklir
  • Nuklir merupakan energi masa depan dengan nilai ekonomis dan bersih
  • Tantangan pengembangan PLTN di Indonesia adalah penentuan lokasi, kesiapan infrastruktur, dan integrasi dengan kawasan industri
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Langkah Menteri Energi Sumber Daya Mineral sekaligus Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN), Bahlil Lahadalia, dalam mengembangkan energi nuklir nasional lewat pembangunan PLTN mendapatkan dukungan dari sejumlah pakar energi dari berbagai universitas di Indonesia. Para pakar menilai energi nuklir merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung target transisi menuju energi bersih.

"Maka, PLTN modular dalam bentuk SMR (Small Modular Reactor) itu truly energy security for the future adalah PLTN, tapi dalam bentuk yang small," ujar Pakar Energi Universitas Hasanuddin (Unhas), Muhammad Bachtiar Nappu, dalam keterangannya, Senin (16/02/2026).

1. Sumber daya alam melimpah

kin-shing-lai-K-0z4ks62-A-unsplash.jpg
ilustrasi uranium, salah satu unsur radioaktif (unsplash.com/Kin Shing Lai)

Menurut Bachtiar, Indonesia memiliki sumber daya uranium dan thorium yang menjadi bahan baku dasar nuklir. Daerah yang memiliki sumber daya itu juga tersebar di banyak daerah seperti di Bangka Belitung, Kalimantan, bahkan Mamuju.

Oleh karena itu, teknologi SMR lebih cocok bagi Indonesia sebagai negara kepulauan karena kapasitasnya lebih kecil dan fleksibel dibanding PLTN konvensional. Reaktor modular ini dapat dibangun bertahap sesuai kebutuhan daerah, terutama untuk memperkuat elektrifikasi wilayah terpencil.

"Lebih baik dibangun yang small ini daripada PLTN konvensional. Karena PLTN konvensional minimal kapasitasnya 1.000 MW. Tapi, kalau small, misalnya 50 MW," ujar Bachtiar.

2. Nuklir energi masa depan dengan nilai ekonomis

Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). (unsplash.com/Wim van 't Einde)
Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). (unsplash.com/Wim van 't Einde)

Setali tiga uang, Peneliti dari Laboratorium Rekayasa Termal dan Sistem Energi (RTSE) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ary Bachtiar Krishna Putra, mendorong agar pemerintah segera mengembangkan energi nuklir. Ary mengungkapkan sejumlah keunggulan teknis PLTN dibanding sumber energi konvensional.

"PLTN itu unggul dari sisi densitas energi. Dengan bahan bakar yang sangat kecil, kita bisa menghasilkan listrik dalam jumlah besar dan stabil," kata Ary.

Menurut Ary, dari sisi emisi, PLTN termasuk sumber energi bersih karena tidak menghasilkan karbon dioksida dalam proses pembangkitannya. Hal ini membuat nuklir relevan dengan target penurunan emisi nasional.

"Secara proses, nuklir itu bersih. Tidak ada emisi karbon, yang ada hanya panas untuk memutar turbin," ujarnya.

Ary menambahkan, tantangan utama pengembangan PLTN di Indonesia bukan pada teknologinya, melainkan penentuan lokasi, kesiapan infrastruktur, dan integrasi dengan kawasan industri. Oleh karena itu, Ary menyayangkan jika sampai saat ini masih ada isu negatif di masyarakat soal energi nuklir yang dinilai berbahaya bagi lingkungan.

"Teknologi sekarang jauh lebih aman dibanding masa lalu. Sistemnya makin otomatis, kontrolnya ketat, dan ketergantungan pada faktor manusia semakin kecil. Dengan teknologi terbaru, risiko itu bisa ditekan sangat rendah. Nuklir sering diserang lewat isu lingkungan, padahal kalau dibandingkan, pembangkit fosil justru jauh lebih mencemari," tutur dia.

3. Tantangan pengembangan PLTN di Indonesia

Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Foto: Pixabay

Sementara itu, Pakar Energi dari Sekolah Tinggi Teknologi Minyak dan Gas Bumi (STT Migas) Balikpapan, Andi Jumardi, menyebut nuklir adalah energi masa depan yang secara nilai sangat ekonomis.

"Apalagi untuk negara dengan populasi besar seperti Indonesia karena harganya relatif lebih murah dibanding energi fosil," ujar dia

Andi mengatakan, Indonesia sangat mampu mengembangkan energi nuklir karena memiliki sumber daya manusia yang kompeten. Dia pun menjelaskan, industri nuklir saat ini sudah sangat modern.

Oleh karena itu, dia menampik kekhawatiran yang masih jadi perbincangan publik terkait efek negatif dari nuklir tersebut.

"Kalau dari riset yang pernah saya lakukan, dari sisi sumber daya manusia, kita sangat kompeten untuk pengembangan energi nuklir. Kita juga punya cadangan uranium di Kalimantan Barat. Kasus Fukushima itu force majeure karena bencana alam yang luar biasa. Dari situ, teknologi terus berkembang untuk mengantisipasi risiko serupa di masa depan," tutur Andi.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Satria Permana
EditorSatria Permana
Follow Us

Latest in Business

See More

47 Anak Usaha Pupuk Mau Dipangkas, hanya Sisakan Setengahnya

16 Feb 2026, 18:11 WIBBusiness