Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Selat Hormuz Memanas, Ini Rekam Jejak Krisis Harga Minyak Dunia
kapal di Selat Hormuz (MC2 Indra Beaufort, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Ketegangan di Selat Hormuz kembali mengguncang pasar energi global, memicu lonjakan harga minyak mentah akibat ancaman gangguan jalur pelayaran penting dan konflik antara AS-Israel dengan Iran.
  • Sejarah mencatat harga minyak dunia kerap melonjak karena faktor geopolitik, mulai dari embargo Arab 1973, Revolusi Iran 1979, hingga invasi Irak ke Kuwait pada 1990.
  • Produksi shale oil di AS sempat menekan harga global pada dekade terakhir, namun eskalasi konflik Timur Tengah kini kembali mendorong harga Brent dan Nymex melampaui 110 dolar AS per barel.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz kembali membayangi pasar energi global, memicu kekhawatiran akan meroketnya harga minyak mentah dunia.

Ancaman gangguan di jalur pelayaran paling krusial tersebut menjadi pengingat komoditas tersebut tetap rentan terhadap konflik. ​Sejarah mencatat pergerakan harga minyak selalu dipicu oleh peristiwa besar, mulai dari embargo Arab pada 1970-an, Perang Teluk, Resesi Besar 2008, hingga krisis 2020.

Sebagaimana dilansir Investopedia, data dari Macrotrends LLC menunjukkan meski negara-negara produsen berupaya menjaga stabilitas, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tetap sangat volatil.

1. Ambisi OPEC dan dominasi AS di era 1960-an

ilustrasi sumur minyak mentah (freepik.com)

Berdirinya Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada 1960 sejatinya bertujuan untuk menyatukan kebijakan perminyakan antarnegara anggota. Mereka berharap dapat menjamin harga yang adil dan stabil bagi produsen dengan cara mengatur volume produksi sesuai permintaan global.

Namun, pada dekade pertamanya, OPEC belum sepenuhnya menunjukkan kekuatannya sebagai kartel penetap harga. Saat itu, pasar minyak mentah dunia masih didominasi oleh perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat yang didukung oleh cadangan domestik melimpah, sehingga harga cenderung stabil hingga memasuki tahun 1970-an.

2. Konflik politik dan militer yang melambungkan harga

Ilustrasi kenaikan harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)

Ketidakstabilan mulai terasa saat faktor geopolitik ikut campur. Pada 1973, negara-negara Arab menghentikan ekspor minyak ke Amerika Serikat sebagai respons atas dukungan AS terhadap Israel dalam Perang Yom Kippur. Kebijakan tersebut memicu lonjakan harga dari sekitar 25,34 dolar AS menjadi 68 dolar AS per barel di awal 1974. Situasi semakin memanas saat Revolusi Iran pecah pada 1979.

Jatuhnya kekuasaan Shah Iran dan munculnya kepemimpinan Ayatollah Ruhollah Khomeini menyebabkan produksi minyak Iran merosot tajam. Dampaknya lebih parah dari embargo sebelumnya, di mana harga meroket dari 68 dolar AS menjadi lebih dari 150 dolar AS per barel pada April 1980.

Harga baru mulai melandai setelah Presiden Ronald Reagan menghapus kontrol harga dan alokasi minyak domestik AS pada 1981. Kebijakan deregulasi ini berhasil menekan harga hingga ke level 30 dolar AS per barel pada Maret 1986.

Gejolak sempat kembali terjadi saat Irak menginvasi Kuwait pada 1990 yang membuat harga melompat ke angka 90 dolar AS, sebelum akhirnya turun kembali setelah koalisi pimpinan AS berhasil memenangkan perang.

3. Krisis keuangan dan revolusi shale oil

Ilustrasi harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)

Memasuki 2008, pasar minyak mengalami guncangan hebat akibat serangkaian masalah produksi global. Sengketa nasionalisasi aset di Venezuela, gangguan ekspor di Irak, serta aksi mogok kerja dan serangan militan di Nigeria menjadi pemicu utamanya.

Harga minyak yang berada di level 144 dolar AS pada akhir 2007 terbang hingga menembus angka 200 dolar AS per barel pada pertengahan 2008. Namun, lonjakan itu tidak bertahan lama. Resesi ekonomi dan krisis keuangan global menyeret harga turun ke kisaran 60 dolar AS pada awal 2009.

Satu dekade terakhir ditandai dengan fenomena "Revolusi Shale" di AS. Berkat teknologi fracking, produksi minyak AS melonjak hingga 57 persen pada awal 2020. Kemajuan ini mengembalikan posisi AS sebagai produsen raksasa, bahkan sempat melampaui produksi sebagian besar anggota OPEC melalui Permian Basin.

Dampak pasokan melimpah ini pun terlihat jelas, di mana harga minyak yang sempat berada di level 106 dolar AS pada 2010 turun menjadi sekitar 63 dolar AS per barel pada Januari 2020.

4. Gejolak harga minyak imbas konflik Timur Tengah

ilustrasi Selat Hormuz (pexels.com/Lara Jameson)

Harga minyak global sempat melonjak melampaui 110 dolar AS per barel. Kondisi tersebut dipicu eskalasi perang antara AS-Israel melawan Iran yang mengancam kelancaran pengiriman energi di Selat Hormuz. Pada perdagangan Senin (9/3/2026), sebagaimana dilansir BBC, Brent crude tercatat naik hampir 24 persen ke level 114,74 dolar AS, sementara Nymex light sweet melonjak lebih dari 26 persen menjadi 114,78 dolar AS.

Meski sebelumnya analis memprediksi harga minyak baru akan menyentuh 100 dolar AS pada pekan ini, realitanya harga justru melambung 10 persen hanya dalam satu menit di awal perdagangan Asia. Kepanikan pasar dipicu oleh eskalasi konflik pada akhir pekan serta kerusakan infrastruktur energi di Iran dan kawasan Teluk. Padahal, pekan lalu pasar cenderung tenang meski ada risiko tertahannya jutaan barel minyak mentah dan gas alam cair (LNG) di Selat Hormuz.

Analis memperkirakan harga minyak berpotensi mencetak rekor baru di atas 150 dolar AS per barel jika penutupan Selat Hormuz berlanjut hingga akhir Maret. Adnan Mazarei dari Peterson Institute menilai lonjakan tersebut terjadi karena penghentian produksi di negara-negara Teluk dan tanda-tanda konflik yang berkepanjangan.

Editorial Team