Jakarta, IDN Times - Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz kembali membayangi pasar energi global, memicu kekhawatiran akan meroketnya harga minyak mentah dunia.
Ancaman gangguan di jalur pelayaran paling krusial tersebut menjadi pengingat komoditas tersebut tetap rentan terhadap konflik. Sejarah mencatat pergerakan harga minyak selalu dipicu oleh peristiwa besar, mulai dari embargo Arab pada 1970-an, Perang Teluk, Resesi Besar 2008, hingga krisis 2020.
Sebagaimana dilansir Investopedia, data dari Macrotrends LLC menunjukkan meski negara-negara produsen berupaya menjaga stabilitas, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tetap sangat volatil.
