Peringkat Skill Komputasi Dunia 2026, Indonesia Tertinggal dari Asia

- PISA 2025 yang dipublikasikan OECD pada September 2026 menempatkan Indonesia di peringkat 63 dari 85 sistem pendidikan, dengan skor 427 untuk pemecahan masalah komputasional siswa usia 15 tahun.
- Asia mendominasi peringkat teratas: Makau mencetak 572 poin, disusul Singapura 563 dan wilayah China 560; selisih skor Indonesia dengan Makau mencapai 145 poin.
- Akses internet luas tidak otomatis meningkatkan keterampilan komputasional; pembelajaran terarah yang melatih logika, matematika, analisis pola, dan pemecahan masalah tetap menjadi faktor penting.
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat kemampuan berpikir logis dan memecahkan masalah semakin dibutuhkan di dunia kerja. Kamu mungkin mengira keterampilan komputasi hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan komputer atau menguasai bahasa pemrograman. Padahal, kemampuan ini juga mencakup cara menganalisis masalah, menyusun langkah penyelesaian, dan berpikir secara sistematis, lho.
Hasil penilaian internasional terbaru menunjukkan bahwa sejumlah negara dan wilayah di Asia unggul dalam kemampuan tersebut. Sementara itu, Indonesia masih berada di kelompok bawah dalam pemeringkatan global yang melibatkan 85 sistem pendidikan. Lantas, bagaimana posisi Indonesia dan apa yang membuat negara-negara Asia mampu meraih skor tinggi?
1. Indonesia berada di peringkat ke-63 dunia

ilustrasi pelajar, anak SMA, sekolah, Indonesia, belajar, ujian (pexels.com/Airlangga Jati) Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 yang dipublikasikan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada September 2026, Indonesia memperoleh skor rata-rata 427 poin untuk kemampuan pemecahan masalah komputasional. Hasil tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-63 dari 85 negara dan wilayah yang berpartisipasi dalam penilaian.
Posisi ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam aspek tersebut masih tertinggal dibandingkan banyak sistem pendidikan lainnya. Namun, skor tersebut bukan berarti bahwa hanya 427 persen atau 42,7 persen siswa Indonesia yang menguasai komputer, lho.
Penilaian PISA ini berfokus pada kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam menggunakan penalaran logis, membuat model, dan memahami pemikiran algoritmik untuk menyelesaikan masalah. Artinya, kemampuan yang diuji bukan sekadar berkaitan dengan seberapa sering siswa menggunakan perangkat digital dalam kehidupan sehari-hari.
Seseorang bisa terbiasa menggunakan ponsel dan komputer, tapi belum tentu mampu menyusun langkah penyelesaian masalah secara efektif. Karena itu, hasil penilaian ini dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat sejauh mana pendidikan membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir komputasional.
2. Negara Asia mendominasi peringkat teratas

ilustrasi pelajar sekolah di Jepang (unsplash.com/Egor Myznik) Kawasan Asia menunjukkan performa kuat dalam pemeringkatan kemampuan komputasi dunia 2026. Makau, wilayah administratif khusus China, menempati posisi pertama dengan skor 572 poin, disusul Singapura dengan 563 poin dan wilayah Beijing, Shanghai, Jiangsu, serta Zhejiang di China dengan 560 poin. Jepang berada di peringkat keempat dengan 557 poin, sementara Chinese Taipei meraih 551 poin dan Hong Kong memperoleh 545 poin.
Delapan dari sepuluh posisi teratas ditempati sistem pendidikan di Asia, memperlihatkan kuatnya performa kawasan ini dalam penilaian tersebut. Dominasi Asia juga terlihat dari posisi Korea Selatan yang memperoleh 538 poin dan menempati peringkat kedelapan.
Australia dan Selandia Baru melengkapi sepuluh besar dengan masing-masing 532 dan 531 poin. Sementara itu, Estonia menjadi negara Eropa dengan peringkat tertinggi, yakni posisi ketujuh dengan 541 poin.
Jika dibandingkan dengan Indonesia, selisih skor Makau mencapai 145 poin, sedangkan Singapura unggul 136 poin. Perbedaan ini memperlihatkan adanya kesenjangan kemampuan pemecahan masalah komputasional yang cukup besar antara siswa Indonesia dan kelompok teratas.
3. Kemampuan matematika ikut mendukung keterampilan komputasi

ilustrasi belajar matematika (pexels.com/Monstera Production) Salah satu hal yang menarik dari pemeringkatan ini adalah keterkaitan antara kemampuan matematika dan pemecahan masalah komputasional. Sistem pendidikan Asia Timur juga menunjukkan performa kuat dalam penilaian matematika internasional.
Kemampuan memahami pola, melakukan penalaran, dan menyusun strategi penyelesaian soal dapat mendukung keterampilan komputasional. Meski begitu, hasil pemeringkatan ini gak membuktikan bahwa kemampuan matematika menjadi satu-satunya penyebab negara-negara tersebut unggul.
Desain kurikulum, ekspektasi akademik, dan investasi berkelanjutan dalam pendidikan teknis juga dapat membantu menjelaskan pola tersebut. Analisis Brookings mengenai perkembangan teknologi China turut menyoroti peran budaya akademik dan pengembangan talenta di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika atau STEM.
Faktor-faktor tersebut memberikan gambaran bahwa keterampilan komputasi membutuhkan proses pembelajaran yang terarah dan berkelanjutan. Namun, belum tepat untuk menyimpulkan bahwa satu kebijakan pendidikan tertentu secara langsung menghasilkan skor komputasi yang lebih tinggi.
4. Akses internet luas belum menjamin kemampuan komputasi tinggi

ilustrasi jaringan internet (magnific.com/creativeart) Kamu mungkin berpikir bahwa negara dengan akses internet yang luas otomatis memiliki siswa dengan keterampilan komputasi lebih baik. Kenyataannya, ketersediaan internet dan kemampuan memecahkan masalah komputasional merupakan dua hal yang berbeda.
Uni Emirat Arab, misalnya, memiliki penetrasi internet lebih dari 99 persen, tapi memperoleh skor 476 poin dalam penilaian ini. Angka tersebut masih berada di bawah rata-rata OECD sebesar 500 poin.
Temuan ini memperlihatkan bahwa akses terhadap teknologi perlu diimbangi dengan pemanfaatan yang mendukung proses belajar. Penggunaan perangkat digital secara berlebihan juga tidak selalu membantu siswa memahami materi pelajaran dengan lebih baik.
OECD mencatat bahwa penggunaan teknologi pendidikan dalam kadar moderat berkaitan dengan performa akademik yang lebih kuat, sedangkan penggunaan berlebihan dan gangguan digital berkaitan dengan hasil yang lebih lemah. Dengan demikian, kualitas pembelajaran tetap memegang peranan penting di tengah semakin mudahnya akses terhadap perangkat dan internet.
5. Indonesia perlu memperkuat kemampuan berpikir komputasional

ilustrasi pelajar sekolah, Indonesia, lab komputer, guru (pexels.com/Haidar Azmi) Posisi Indonesia di peringkat ke-63 dapat menjadi pengingat bahwa pengembangan keterampilan digital perlu melampaui kemampuan mengoperasikan perangkat. Siswa perlu mendapat kesempatan untuk berlatih menganalisis persoalan, mengenali pola, menyusun langkah penyelesaian, dan mengevaluasi hasilnya.
Kemampuan tersebut relevan ketika mereka menghadapi persoalan matematika, mengerjakan proyek sekolah, maupun mempersiapkan diri memasuki dunia kerja yang semakin banyak menggunakan teknologi. Penguatan literasi membaca dan matematika juga penting karena keduanya membantu siswa memahami persoalan sebelum menentukan solusi.
Di sisi lain, hasil PISA gak seharusnya dijadikan satu-satunya tolok ukur kualitas pendidikan suatu negara. Penilaian ini menggambarkan performa rata-rata peserta didik dalam aspek tertentu, bukan seluruh kemampuan mereka atau potensi setiap individu.
Meski begitu, hasilnya dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah, sekolah, guru, dan orangtua untuk mengevaluasi pendekatan pembelajaran. Fokusnya bukan sekadar meningkatkan penggunaan komputer di kelas, melainkan memastikan teknologi benar-benar membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan sistematis.
Pada akhirnya, pemeringkatan kemampuan komputasi dunia 2026 menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara Asia yang unggul. Akses internet dan perangkat digital memang penting, tapi keduanya perlu diimbangi dengan pembelajaran yang melatih logika, matematika, dan pemecahan masalah. Semakin kuat kemampuan tersebut dibangun sejak usia sekolah, semakin besar peluang generasi muda Indonesia untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja.






















