Dari sisi global, Ibrahim mengatakan penguatan dolar AS turut dipengaruhi oleh pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole yang dinilai hawkish.
Sikap tersebut kembali meningkatkan ekspektasi pasar bahwa The Fed berpotensi menaikkan suku bunga paling cepat pada September. Ekspektasi itu turut mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor pendek.
Berdasarkan perangkat CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September sekitar 66 persen. Angka itu meningkat tajam dari sekitar 38 persen sebelum pidato Warsh.
"Fokus pasar hari ini adalah rilis data PMI Manufaktur dan JOLTS Job Openings dengan fokus utama minggu ini adalah data ketenagakerjaan utama AS data Nonfarm Payrolls yang akan dirilis pada hari Jumat," ujar Ibrahim.
PMI Manufaktur merupakan indikator yang menggambarkan aktivitas dan kondisi sektor manufaktur. Sementara JOLTS Job Openings mengukur jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia di AS.
Kemudian, perhatian pasar pada pekan ini akan tertuju pada data ketenagakerjaan utama AS, yakni Nonfarm Payrolls (NFP), yang dijadwalkan dirilis pada Jumat.