Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Timur Tengah Memanas, Rupiah Ditutup Loyo ke Rp16.868 Per Dolar AS
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
  • Rupiah ditutup melemah ke Rp16.868 per dolar AS, turun 0,48 persen akibat tekanan global dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
  • Eskalasi konflik antara Iran dan Israel memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas regional serta potensi gangguan pasokan energi dunia.
  • Bank Indonesia menegaskan siap melakukan intervensi melalui transaksi NDF, spot, dan DNDF untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan, Senin (2/3/2026). Rupiah kini bertengger di level Rp16.868 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terkoreksi 81 poin setelah sebelumnya sempat merosot hingga 90 poin. Rupiah melemah 0,48 persen dari posisi penutupan sebelumnya di Rp16.787 per dolar AS.

Data menunjukkan rupiah dibuka pada level Rp16.812 dengan rentang harian berada di kisaran Rp16.808 hingga Rp16.883 per dolar AS. Sementara itu, sejak awal tahun, rupiah tercatat melemah sebesar 1,13 persen.

1. Eskalasi perang di Timur Tengah picu kekhawatiran

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan pasar sedang bereaksi terhadap ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Timur Tengah menyusul pembunuhan tokoh paling berpengaruh di Iran.

"Pembunuhan tokoh paling berpengaruh di Iran meningkatkan kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas dan potensi gangguan terhadap pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur energi global yang sangat penting," katanya.

Kondisi semakin mencekam setelah pasukan Israel meluncurkan gelombang serangan rudal dan pesawat ke infrastruktur pertahanan Teheran pada hari Minggu, yang dibalas Iran dengan serangan serupa ke wilayah Israel dan pangkalan AS di Teluk.

Serangan tersebut dilaporkan mengenai setidaknya tiga kapal tanker dan menewaskan seorang pelaut. Di sisi diplomasi, pembicaraan nuklir tidak langsung antara AS dan Iran di Jenewa berakhir tanpa kemajuan berarti pada Kamis lalu.

Presiden AS Donald Trump mengungkapkan ketidaksenangannya terhadap cara Iran bernegosiasi dan memberikan pernyataan samar mengenai kemungkinan perubahan rezim, sembari menekankan agar Teheran tidak memiliki senjata nuklir.

2. Bank Indonesia siap pasang badan lewat intervensi pasar

Menanggapi situasi tersebut, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) Bank Indonesia (BI) Erwin Gunawan Hutapea menyatakan BI terus memantau pergerakan pasar secara seksama.

Meningkatnya konflik Timur Tengah pascaserangan Israel-AS ke Iran telah mendorong sentimen risk off, yaitu kondisi di mana investor cenderung menghindari aset berisiko seperti rupiah dan beralih ke aset aman. BI akan melakukan intervensi, mencakup transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, serta transaksi spot (pembelian langsung) dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik untuk memastikan nilai tukar bergerak sesuai fundamentalnya.

"BI juga akan terus mengoptimalkan kebijakan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga," tuturnya.

3. Prediksi nilai tukar rupiah untuk perdagangan Selasa

Pergerakan rupiah dalam rentang 52 minggu terakhir atau sepanjang satu tahun berada di kisaran Rp16.079 sebagai posisi paling kuat hingga level terlemah Rp17.224 per dolar AS.

Untuk perdagangan Selasa (3/3/2026), mata uang rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan ditutup melemah. Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp16.860 hingga Rp16.910 per dolar AS.

Editorial Team