ilustrasi investasi, pasar saham (freepik.com/rawpixel.com)
Pertemuan berikutnya untuk menentukan kebijakan suku bunga dijadwalkan pada 15-16 September. Sebelumnya, The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5-3,75 persen pada Juli, sekaligus mencatat keputusan tersebut sebagai yang kelima secara berturut-turut tanpa perubahan. Dengan inflasi yang masih tinggi dan pasar tenaga kerja yang kuat, keputusan September menjadi sesuatu yang patut kamu perhatikan.
Menariknya, indeks saham AS justru bergerak turun setelah data pekerjaan yang kuat meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga. Trump menyebut reaksi tersebut sebagai sesuatu yang gak masuk akal karena menurutnya data pekerjaan yang bagus seharusnya membuat pasar saham naik. Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa kabar ekonomi yang terlihat positif bagi masyarakat belum tentu dianggap positif oleh pasar saham jika berpotensi membuat kebijakan moneter menjadi lebih ketat.
Situasi ekonomi AS saat ini memang cukup rumit karena ada dua kekuatan yang saling berlawanan. Di satu sisi, Trump ingin suku bunga dipangkas agar biaya pinjaman lebih rendah dan posisi AS lebih kompetitif, tapi di sisi lain inflasi masih berada di atas target dan pasar tenaga kerja menunjukkan ketahanan yang kuat. Kondisi tersebut membuat pasar justru mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada September.
Bagi masyarakat yang mengikuti perkembangan ekonomi global, keputusan The Fed nanti layak diperhatikan karena bisa memengaruhi pasar saham, biaya pinjaman, nilai aset, hingga sentimen ekonomi secara lebih luas. Apalagi, data inflasi berikutnya akan menjadi salah satu faktor penting yang dapat menentukan apakah ekspektasi kenaikan suku bunga semakin kuat atau kembali berubah.