Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)
Pengumuman proyek ini muncul saat dunia menghadapi krisis pasokan energi akibat konflik bersenjata di kawasan Teluk. Ketegangan bermula ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Iran kemudian melakukan serangan balasan terhadap negara-negara Arab tetangga yang menjadi lokasi basis militer AS. Situasi itu menyebabkan gangguan besar pada lalu lintas kapal di Selat Hormuz sehingga harga minyak mentah dan gas melonjak serta pasokan energi menjadi terbatas di berbagai negara.
India yang sangat bergantung pada impor minyak dari Asia Barat kemudian menerapkan langkah darurat melalui Undang-Undang Komoditas Esensial. Pemerintah memerintahkan seluruh kilang minyak meningkatkan produksi Gas Petroleum Cair (LPG) dan memprioritaskan pasokan untuk rumah tangga serta sektor penting lainnya.
Dilansir dari The Wire, sebelumnya pemerintah AS pernah memberlakukan tarif impor hingga 50 persen terhadap barang-barang India untuk menekan New Delhi mengurangi pembelian minyak Rusia. Tarif tersebut kemudian dipangkas menjadi 18 persen pada Februari 2026 setelah India menyatakan akan secara bertahap menghentikan impor minyak Rusia serta berjanji membeli produk energi dan teknologi AS senilai 500 miliar dolar AS (sekitar Rp8,4 kuadriliun).
Kebijakan tersebut membuat kilang-kilang di India, termasuk Reliance, beralih ke pasokan minyak dari Teluk yang lebih mahal sejak akhir 2025. Kondisi itu membuat negara tersebut semakin rentan terhadap lonjakan harga ketika konflik dengan Iran pecah.
Pada awal bulan ini, AS juga memberikan pengecualian khusus selama 30 hari kepada India agar dapat mengimpor sekitar 20 juta barel minyak Rusia yang sempat tertahan akibat gangguan di Selat Hormuz.
Duta Besar AS untuk India Sergio Gor menulis di platform X bahwa India telah menjadi mitra penting dalam menjaga stabilitas harga minyak global. Ia juga menyebut Washington memahami bahwa pembelian minyak Rusia yang masih berlangsung merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas tersebut. Ia menyatakan kerja sama antara AS dan India diperlukan untuk menjaga stabilitas pasar energi bagi warga kedua negara.
Selain itu, Menteri Luar Negeri India S Jaishankar menggelar pembicaraan telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi. Dalam percakapan itu, pihak Iran menyatakan masyarakat internasional perlu meminta pertanggungjawaban AS atas pembatasan pengiriman yang terjadi di Selat Hormuz.