Selat Hormuz Memanas, Rupiah Terkapar Lawan Dolar AS Sore Ini

- Rupiah ditutup melemah ke Rp16.886 per dolar AS akibat tekanan global dan gejolak geopolitik di Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran pasokan energi.
- Blokade Iran di Selat Hormuz membuat pasar cemas, sementara investor menanti rilis data inflasi AS Februari sebagai petunjuk arah kebijakan suku bunga.
- Rupiah diperkirakan masih fluktuatif dan berpotensi lanjut melemah pada perdagangan Kamis, bergerak di kisaran Rp16.880 hingga Rp16.910 per dolar AS.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (11/3/2026). Mata uang Garuda tertekan ke level Rp16.886 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 23 poin atau 0,14 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp16.863 per dolar AS. Meski sempat menunjukkan perlawanan dengan menguat 12 poin di awal sesi, rupiah akhirnya menyerah.
1. Blokade Selat Hormuz picu kekhawatiran pasokan energi
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan pasar saat ini tengah terguncang oleh gangguan besar di sektor energi. Hal itu terjadi setelah Iran mulai memblokir Selat Hormuz sebagai bentuk balasan atas serangan yang dilancarkan AS dan Israel.
"Teheran mengatakan akan terus menyerang kapal-kapal di selat tersebut hingga penghentian permusuhan terhadap Republik Islam," kata Ibrahim.
Situasi kian pelik karena Iran menolak klaim Presiden AS, Donald Trump, yang menyebut perang akan segera berakhir. Iran bersikeras, menjadi pihak yang akan menentukan kapan konflik tersebut usai.
Mengingat Selat Hormuz adalah urat nadi pengiriman minyak dan gas utama untuk Asia, gangguan yang berkepanjangan ini dikhawatirkan membawa dampak buruk bagi ekonomi negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi, termasuk Indonesia.
2. Investor pantau data inflasi AS
Fokus pelaku pasar juga tertuju pada rilis data inflasi atau Consumer Price Index (CPI) AS Februari yang dijadwalkan keluar Rabu (11/3/2026). Data ini sangat krusial karena menjadi petunjuk mengenai arah suku bunga di negara ekonomi terbesar di dunia tersebut.
Inflasi utama diperkirakan stabil di angka 2,4 persen secara tahunan. Sementara, inflasi inti yang tidak menghitung harga pangan dan energi diprediksi bertahan di level 2,5 persen.
"Meskipun angka tersebut kemungkinan tidak akan mencerminkan lonjakan harga energi setelah perang Iran, angka tersebut tetap akan dipantau secara cermat untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut tentang pengeluaran konsumen dan kesehatan ekonomi secara keseluruhan," ujarnya.
Rilis data inflasi tersebut menyusul laporan ketenagakerjaan atau data penggajian AS Februari yang ternyata jauh lebih lemah dari perkiraan, sehingga memicu kekhawatiran ekonomi AS sedang mengalami pendinginan.
3. Rupiah diprediksi lanjut melemah pada Kamis
Jika menilik data sejak awal tahun (year-to-date/ytd), rupiah mencatatkan pelemahan sebesar 1,24 persen. Sementara itu, dalam satu tahun terakhir atau 52 minggu, rupiah bergerak di rentang Rp16.079 hingga Rp17.224 per dolar AS.
Untuk perdagangan Kamis (12/3/2026), rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan ditutup melemah. Rupiah diperkirakan akan bergerak di rentang antara Rp16.880 hingga Rp16.910 per dolar AS.
















