Jelang 100 Tahun RI-Jepang, Kredibilitas Kebijakan Kunci Investasi

- Perhimpunan Persahabatan Indonesia–Jepang (PPIJ) menggelar Indonesia–Japan Executive Dialogue 2.0 untuk memperkuat kemitraan investasi kedua negara menjelang 100 tahun hubungan bilateral pada 2058.
- Kepastian dan konsistensi kebijakan menjadi faktor kunci bagi investor jangka panjang seperti Jepang dalam mengambil keputusan investasi, menurut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
- Tantangan kemitraan Indonesia–Jepang ke depan adalah membangun kepercayaan jangka panjang agar investasi dapat bertahan dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi kedua negara, menurut Ketua Umum PPIJ Rachmat Gobel.
Jakarta, IDN Times - Perhimpunan Persahabatan Indonesia–Jepang (PPIJ) menggelar Indonesia–Japan Executive Dialogue 2.0. Ajang ini dihelat sebagai upaya memperkuat kemitraan investasi kedua negara menjelang 100 tahun hubungan bilateral Indonesia–Jepang pada 2058.
Forum yang digelar secara tertutup ini menyoroti pentingnya penguatan kredibilitas kebijakan domestik sebagai prasyarat utama menarik investasi Jepang yang berorientasi jangka panjang. Sejumlah isu fundamental dibahas, mulai dari disiplin fiskal, tata kelola ekonomi, hingga konsistensi kebijakan lintas pemerintahan.
1. Menkeu tekankan kepastian kebijakan bagi investor Jepang

]Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, kepastian dan konsistensi kebijakan menjadi faktor kunci bagi investor jangka panjang seperti Jepang dalam mengambil keputusan investasi.
“Yang terpenting bukan hanya potensi pertumbuhan, tetapi keyakinan bahwa kebijakan ekonomi dijalankan secara disiplin dan berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Purbaya, stabilitas kebijakan memberi sinyal kepercayaan yang menentukan keberlanjutan arus investasi asing.
2. Kebijakan fiskal disiapkan sebagai kerangka jangka panjang

Purbaya menjelaskan, kebijakan fiskal Indonesia dirancang sebagai kerangka jangka panjang, bukan sekadar respons jangka pendek terhadap dinamika ekonomi. Pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, perlindungan sosial, dan keberlanjutan fiskal.
Komitmen stabilitas fiskal ditegaskan melalui pengelolaan APBN yang disiplin. Rasio utang pemerintah dipertahankan di kisaran 38–39 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sementara defisit dijaga dalam batas aman untuk menopang stabilitas makroekonomi.
3. Tantangan kemitraan bukan sekadar investasi, tetapi kepercayaan

Ketua Umum PPIJ Rachmat Gobel menilai, tantangan kemitraan Indonesia–Jepang ke depan tidak berhenti pada upaya menarik investasi, melainkan membangun kepercayaan jangka panjang.
“Menuju 100 tahun hubungan bilateral, yang dibutuhkan adalah arsitektur kepercayaan agar investasi dapat bertahan dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi kedua negara,” kata Gobel.
Ia menyebut Indonesia–Japan Executive Dialogue sebagai bagian dari kontribusi PPIJ dalam memperkuat kemitraan strategis yang sejalan dengan agenda transformasi ekonomi nasional.
Dukungan sektor swasta terhadap forum ini antara lain datang dari Gobel Group, yang telah menjalin kemitraan industri dengan perusahaan Jepang sejak 1958. Kolaborasi tersebut mencakup pengembangan Indonesia International Automotive Proving Ground (IIAPG) bersama Toyota dan JOIN melalui skema KPBU, serta proyek Opus Park Sentul bersama Sumitomo Corporation dan Hankyu Hanshin Properties Corp.
4. Indonesia masuk empat besar negara paling menjanjikan bagi Jepang

Dari perspektif investor Jepang, Indonesia masih dipandang sebagai tujuan investasi strategis. JBIC Annual Survey FY2024 yang dirilis Juli 2025 menempatkan Indonesia di peringkat keempat negara paling menjanjikan bagi pengembangan bisnis perusahaan Jepang dalam jangka menengah.
Penilaian tersebut didukung oleh besarnya pasar domestik, stabilitas pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur dan digitalisasi, serta peluang investasi di sektor energi dan transisi ekonomi.
Namun, realisasi investasi Jepang di Indonesia pada 2024 tercatat sebesar 3,46 miliar dolar AS, turun dibandingkan tahun sebelumnya. Pemerintah menilai kondisi ini sebagai momentum untuk memperkuat kualitas investasi melalui kerja sama yang lebih bernilai tambah dan berorientasi jangka panjang.

















