Trump Umumkan 3 Proyek Perdana Jepang Senilai Rp607 Triliun di AS

- Proyek-proyek baru yang diumumkan Trump adalah Pembangkit Listrik Tenaga Gas di Ohio, Terminal Minyak Mentah di Texas, dan Fasilitas Manufaktur Berlian Industri Sintetis di Georgia.
- Fokus investasi AS-Jepang pada sektor-sektor penting seperti energi, mineral penting, semikonduktor, dan AI untuk memajukan kepentingan keamanan nasional dan tujuan ekonomi Washington-Tokyo.
- Kesepakatan saling menguntungkan antara Washington-Tokyo dengan Tokyo menjanjikan investasi besar sebagai imbalan pengurangan tarif Washington terhadap mobil dan produk Jepang lainnya.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, pada Selasa (17/2/2026) mengumumkan rangkaian pertama proyek investasi dan pinjaman Jepang. Berdasarkan kesepakatan perdagangan yang dicapai pada Juli tahun lalu, Jepang berkomitmen untuk berinvestasi sebesar 550 miliar dolar AS (sekitar Rp9.286 triliun) di Amerika Serikat hingga akhir masa jabatan kedua Trump pada Januari 2029.
Perdana Menteri (PM) Jepang, Sanae Takaichi, mengonfirmasi proyek-proyek tersebut sebagai bagian dari 'Inisiatif Investasi Strategis' kedua negara. Untuk tahap awal, investasi ini bernilai sekitar 36 miliar dolar AS (Rp607,5 triliun), dilansir NHK News.
1. Apa saja tiga proyek baru tersebut?
Departemen Perdagangan AS telah memberikan detail lebih lanjut mengenai ketiga proyek tersebut, yaitu:
Pembangkit Listrik Tenaga Gas di Ohio
Nilai investasi untuk proyek ini diperkirakan sekitar 33,3 miliar dolar AS (Rp562,1 triliun). Nantinya, akan dioperasikan oleh SB Energy (SoftBank Group Corp), Hitachi Ltd, Toshiba Corp, dan Mitsubishi Electric Corp. Infrastruktur gas alam ini digadang-gadang akan menjadi pembangkit listrik gas terbesar di AS, guna memasok energi untuk pusat data kecerdasan buatan (AI) dengan kapasitas 9,2 gigawatt. Proyek ini juga untuk memperkuat dominasi energi AS, serta mendukung keamanan ekonomi AS-Jepang.
Terminal Minyak Mentah di Texas
Proyek ini bernilai investasi 2,1 miliar dolar AS (Rp35,4 triliun). Operator atau perusahaan terkait, yakni Sentinel Midstream, Mitsui OSK Lines, dan Nippon Steel. Fasilitas minyak lepas pantai ini diproyeksikan menangani kapasitas ekspor senilai 20 miliar dolar AS (Rp337,7 triliun) hingga 30 miliar dolar AS (Rp506,5 triliun) per tahun. Dampak dari proyek ini untuk memperluas ekspor minyak mentah AS, memperkuat posisi AS sebagai eksportir energi global, dan meningkatkan infrastruktur energi strategis.
Fasilitas Manufaktur Berlian Industri Sintetis di Georgia
Nilai proyek sekitar 600 juta dolar AS (Rp10,1 triliun). Operator terkait adalah Element Six (De Beers Group) dan Asahi Diamond Industrial Co. Pabrik ini untuk memproduksi material pada semikonduktor, otomotif, dan penerbangan, yang bertujuan untuk mengakhiri ketergantungan pada impor, khususnya China.
2. Fokus investasi AS-Jepang pada sektor-sektor penting

Komitmen Negeri Sakura mencakup investasi langsung, pinjaman, dan jaminan pinjaman dari lembaga keuangan yang didukung pemerintah Jepang. Terkait mekanisme pendanaan, setelah proyek dipilih oleh komite investasi yang dipimpin oleh AS, Jepang memiliki waktu 45 hari kerja untuk memulai pendanaan setelah proyek disetujui.
Kedua negara menyatakan bahwa investasi tersebut akan difokuskan pada sektor-sektor strategis, seperti energi, mineral penting, semikonduktor, dan AI. Langkah ini untuk memajukan kepentingan keamanan nasional dan tujuan ekonomi Washington-Tokyo.
3. Kesepakatan saling menguntungkan antara Washington-Tokyo

Proyek ini juga merupakan hasil negosiasi tarif yang dipimpin oleh Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick dan Menteri Ekonomi Jepang Ryosei Akazawa, di mana Tokyo menjanjikan investasi besar sebagai imbalan pengurangan tarif Washington terhadap mobil dan produk Jepang lainnya.
Lutnick menyatakan ketiga proyek tersebut sebagai langkah awal konkret. Sementara itu, Akazawa menyebut kesepakatan ini sebagai situasi saling menguntungkan. Sebab, AS memperoleh aset industri strategis, dan Jepang mendapatkan peluang bisnis bagi perusahaan besar maupun pemasok kecil dalam rantai pasokan.
"Proyek-proyek tersebut diharapkan dapat meningkatkan bisnis bagi perusahaan-perusahaan Jepang yang menyediakan peralatan terkait," kata Akazawa.
PM Takaichi dijadwalkan bertemu dengan Donald Trump di Gedung Putih pada 19 Maret mendatang. Kedua pemimpin akan meresmikan peluncuran proyek-proyek investasi tersebut, Kyodo News melaporkan.


















