5 Cara buat Kelola Risiko Trading Kripto

- Pasar kripto, khususnya Bitcoin (BTC), tengah berada dalam tekanan setelah sempat menyentuh harga tertinggi sepanjang masa di kisaran 126.210 dolar AS pada Oktober 2025.
- Manajemen risiko penting saat pasar volatil,, dan trader perlu menganalisis kondisi pasar
Jakarta, IDN Times - Head of Product Marketing PT Pintu Kemana Saja (PINTU), Iskandar Mohammad menilai trading derivatif kripto bukan semata-mata soal mengejar cuan.
"Trading derivatif crypto tidak hanya soal mengejar potensi keuntungan, tapi juga tentang bagaimana seorang trader perlu mengontrol dan mengantisipasi risiko," kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (19/2/2026).
Menurut dia, berbagai fitur manajemen risiko yang tersedia di Pintu Futures dapat dimanfaatkan pengguna untuk membantu mengelola posisi secara lebih terukur.
1. Bitcoin terkoreksi hampir 50 persen dari ATH

Pihaknya menyoroti pasar kripto, khususnya Bitcoin (BTC), tengah berada dalam tekanan setelah sempat menyentuh harga tertinggi sepanjang masa di kisaran 126.210 dolar AS pada Oktober 2025. Harga BTC per 16 Februari 2026 berada di sekitar 68 ribu dolar AS atau turun hampir 50 persen dari puncaknya. Kondisi tersebut menunjukkan volatilitas yang masih tinggi.
Dalam situasi seperti ini, derivatif kerap menjadi pilihan sebagian trader karena memungkinkan pembukaan posisi saat harga diprediksi naik (long) maupun turun (short). Namun, risiko kerugian juga besar jika tidak dibarengi perhitungan matang.
2. Pentingnya manajemen risiko saat pasar volatil

Pertama, Iskandar menyarankan para pengguna PINTU menggunakan fitur pengaturan batas ambil untung (take profit) dan batas rugi (stop loss) menjadi langkah dasar yang perlu dipasang sejak awal membuka posisi.
Kedua, trader dapat menyesuaikan tingkat leverage sesuai profil risiko, mulai dari 1 kali hingga maksimal 25 kali. Ketiga, adanya fitur perlindungan harga (price protection) untuk membatasi dampak slippage ketika pasar bergerak ekstrem, yang toleransinya bisa diatur dalam persentase tertentu.
Keempat, tersedia pula initial margin buffer sebagai cadangan margin agar posisi tidak mudah terkena likuidasi saat harga berfluktuasi tajam. Kelima, stop order dapat digunakan untuk mengeksekusi transaksi otomatis ketika harga menyentuh level yang sudah ditentukan berdasarkan analisis teknikal.
Produk derivatif kripto milik PT Pintu Kemana Saja tersebut tercatat telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
3. Trader juga perlu menganalisis kondisi pasar

Volatilitas tinggi terlihat pada 6 Februari 2026, ketika harga BTC sempat turun ke level 60 ribu dolar AS. Mengutip data Coinglass, saat itu pasar kripto mengalami gelombang likuidasi hingga 4,85 miliar dolar AS.
Sentimen pasar pun memburuk, tercermin dari indeks fear & greed yang turun ke angka 6, menjadi level terendah di awal tahun ini. Iskandar mengingatkan, derivatif kripto tetap masuk kategori investasi berisiko tinggi dengan potensi imbal hasil tinggi.
"Selain terdapat fitur untuk manajemen risiko, menganalisis kondisi pasar dan menambah informasi juga sangat penting. Semua informasi mengenai kondisi pasar dan tips trading derivatif crypto kami berikan lewat platform edukasi Pintu Academy dan Pintu News," kata dia.


















