Uang Primer Mei 2026 Capai Rp2.214,6 T, Tumbuh Melambat Dibanding April

- Likuiditas ekonomi Mei 2026 tetap kuat, dengan Uang Primer (M0) Adjusted tumbuh 14,2 persen yoy meski sedikit melambat dari bulan sebelumnya.
- Kinerja intermediasi perbankan positif, penyaluran kredit naik 9,98 persen yoy hingga Rp8.755 triliun, didorong pertumbuhan kredit investasi dan korporasi.
- Dana pihak ketiga tumbuh 11,39 persen yoy menjadi Rp10.077 triliun, sementara rasio likuiditas dan permodalan perbankan masih berada di level aman.
Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian pada Mei 2026 tetap menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Hal ini tercermin dari laju Uang Primer (M0) Adjusted mencapai Rp2.214,6 triliun atau tumbuh 14,2 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Pertumbuhan tersebut sedikit melambat dibandingkan April 2026 yang tercatat 14,3 persen (yoy). Meski demikian, laju pertumbuhan uang primer masih berada pada level yang tinggi dan mencerminkan kondisi likuiditas yang tetap memadai di dalam negeri.
1. Giro Bank di BI melaju 17,4 persen, uang primer Mei 2026 tetap tumbuh solid

BI menjelaskan, peningkatan M0 Adjusted terutama ditopang oleh pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia (adjusted) sebesar 17,4 persen (yoy) dan uang kartal yang diedarkan sebesar 15,8 persen (yoy).
"Berdasarkan faktor yang memengaruhinya, pertumbuhan M0 Adjusted telah mempertimbangkan dampak pemberian insentif likuiditas (pengendalian moneter adjusted)," tegasnya.
2. Kinerja intermediasi perbankan masih positif

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan kinerja intermediasi perbankan masih menunjukkan tren positif dengan profil risiko yang tetap terjaga. Hingga April 2026, penyaluran kredit tumbuh 9,98 persen secara tahunan menjadi Rp8.755 triliun.
Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan Maret 2026 yang tercatat sebesar 9,49 persen yoy. Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 19,48 persen yoy. Sementara dari sisi segmen debitur, kredit korporasi menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan mencapai 15,51 persen yoy.
"Di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), penyaluran kredit mulai menunjukkan perbaikan. Kredit UMKM tumbuh 0,16 persen yoy pada April 2026, sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 0,12 persen yoy pada Maret 2026," tuturnya.
3. Penghimpunan dana DPK tumbuh 11,39 persen

Ditinjau berdasarkan kelompok bank, kredit yang disalurkan bank-bank BUMN mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 14,35 persen yoy. Di sisi penghimpunan dana, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 11,39 persen yoy menjadi Rp10.077 triliun. Meski masih tumbuh dua digit, laju pertumbuhan DPK melambat dibandingkan Maret 2026 yang mencapai 13,55 persen yoy.
Secara rinci, pertumbuhan giro tercatat sebesar 16,99 persen yoy, deposito 8,65 persen yoy, dan tabungan 9,00 persen yoy. Likuiditas industri perbankan juga tetap berada pada level yang memadai. Rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) tercatat sebesar 111,13 persen pada April 2026, turun dari 122,55 persen pada Maret 2026.
"Sementara itu, rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) berada di level 25,39 persen, dibandingkan 27,85 persen pada bulan sebelumnya. Meski menurun, kedua rasio tersebut masih jauh di atas ambang batas yang ditetapkan regulator, masing-masing sebesar 50 persen untuk AL/NCD dan 10 persen untuk AL/DPK," tuturnya.
Adapun Liquidity Coverage Ratio (LCR) tercatat sebesar 192,37 persen, mencerminkan kemampuan perbankan yang kuat dalam memenuhi kebutuhan likuiditas jangka pendek. Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) bruto tercatat sebesar 2,17 persen, sedikit meningkat dibandingkan 2,14 persen pada Maret 2026. Sementara itu, NPL net berada di level 0,84 persen, naik tipis dari 0,83 persen pada bulan sebelumnya.
Meski demikian, risiko kredit secara umum masih terkendali. Hal ini tercermin dari rasio loan at risk (LAR) yang membaik menjadi 8,82 persen pada April 2026, dari 8,94 persen pada Maret 2026. Di sisi profitabilitas, return on assets (ROA) industri perbankan tercatat sebesar 2,46 persen, relatif stabil dibandingkan posisi Maret 2026 yang sebesar 2,47 persen.
Sementara itu, setelah memperhitungkan pembagian dividen, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) tercatat sebesar 23,97 persen. Angka tersebut memang turun dibandingkan 25,09 persen pada Maret 2026, namun masih menunjukkan tingkat permodalan yang kuat untuk menopang ekspansi bisnis sekaligus menjadi bantalan dalam menghadapi berbagai risiko.

















