ilustrasi ular tangga (Unsplash/VD Photography)
Di tengah dominasi smartphone dan berbagai hiburan digital, permainan papan atau board game justru disebut mengalami peningkatan popularitas dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini juga terlihat di Indonesia melalui kemunculan board game café, komunitas tabletop gaming, hingga meningkatnya ketertarikan terhadap permainan fisik yang mengandalkan interaksi langsung.
Ada alasan mengapa aktivitas tanpa layar kembali terasa menarik. Sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa interaksi tatap muka memiliki peran penting dalam membangun rasa terhubung dengan orang lain.
Karena itu, aktivitas sederhana seperti duduk bersama, bermain, mengobrol, dan tertawa tanpa distraksi digital bisa menjadi pengalaman yang semakin bernilai di tengah keseharian yang dipenuhi layar.
Tidak diperlukan baterai, koneksi internet, maupun layar untuk memainkannya. Konsep ini sekaligus menawarkan alternatif aktivitas bersama yang sederhana di tengah rutinitas keluarga yang semakin dekat dengan perangkat digital.
Bagi masyarakat Indonesia, ular tangga bukan sekadar permainan masa kecil. Permainan ini telah menjadi bagian dari memori kolektif dan dikenal lintas generasi.
Mulai dari anak-anak hingga orang tua, permainan ular tangga relatif mudah dipahami dan tidak membutuhkan perangkat khusus. Karena itu, permainan ini dapat menjadi medium yang mempertemukan anggota keluarga dari berbagai usia. Nilai nostalgia tersebut kemudian dimanfaatkan dalam inovasi kemasan Energen.