Usai BI Rate Naik ke 5,5 Persen, Inflow SRBI dan SBN Rp19 Triliun

- Kenaikan BI-Rate ke 5,5 persen mendorong inflow asing sekitar Rp19 triliun ke SRBI dan SBN, menunjukkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap aset domestik.
- Bank Indonesia memperkuat stabilitas rupiah lewat kebijakan suku bunga, insentif hedging swap, akses repo perbankan, dan operasi moneter di pasar rupiah serta valas.
- BI menjalin kerja sama dengan PBOC dan HKMA untuk memperkuat ketahanan eksternal melalui BCSA dan LCT guna mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) menyatakan, kenaikan suku bunga acuan (BI-Rate) menjadi 5,5 persen mulai direspons positif oleh investor asing. Hal ini tercermin dari meningkatnya aliran modal masuk (capital inflow) ke sejumlah instrumen keuangan domestik serta penguatan nilai tukar rupiah.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan, minat investor global terlihat dari aliran dana asing ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN).
"Pada 10 Juni 2026, aliran masuk dana asing ke SRBI tercatat mencapai Rp15,11 triliun. Sementara pada 11 Juni 2026, investor asing membukukan pembelian neto SBN sebesar Rp3,91 triliun. Dengan demikian, total inflow pada kedua instrumen tersebut mencapai sekitar Rp19 triliun," jelasnya.
1. Penerbitan perdana obligasi internasional Danantara yang mencatatkan permintaan hingga Rp26,9 triliun

Selain itu, tingginya minat investor juga tercermin dari penerbitan perdana obligasi internasional Danantara yang mencatatkan permintaan hingga Rp26,9 triliun.
"Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik," ucap Destry.
2. Langkah BI stabilkan rupiah

Menurut Destry, perkembangan tersebut menunjukkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan BI.
Selain menaikkan BI-Rate menjadi 5,5 persen, bank sentral juga memperkuat struktur suku bunga SRBI, memberikan insentif hedging swap bagi investor asing, membuka akses repo untuk mendukung likuiditas perbankan, serta meningkatkan intensitas operasi moneter di pasar rupiah dan valuta asing.
"Langkah-langkah tersebut juga didukung oleh sinergi yang erat antara Bank Indonesia dan pemerintah," katanya.
3. BI memperkuat ketahanan eksternal melalui kerja sama dengan People's Bank of China (PBOC) dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA)

Pada perdagangan Jumat (12/6), rupiah ditutup menguat 128 poin atau 0,71 persen ke level Rp17.860 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp17.988 per dolar AS.
Di sisi lain, BI juga memperkuat ketahanan eksternal melalui kerja sama dengan People's Bank of China (PBOC) dan Hongkong Monetary Authority (HKMA).
Kerja sama tersebut mencakup penguatan sinergi stabilitas keuangan regional, penguatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA), serta perluasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT).
"Langkah tersebut akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," jelasnya.
Destry menilai, penguatan kerja sama tersebut akan membantu mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka panjang.
"Langkah tersebut akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," jelasnya.




![[QUIZ] Tebak Pekerjaan Karakter Spongebob, Bisa Betul Semua?](https://image.idntimes.com/post/20260426/untitled_ed317754-35d8-4cfe-9cfd-5824b065d8cf.png)













