Jakarta, IDN Times - Ekonom dan dosen Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai pelemahan rupiah merupakan gejala yang perlu dikendalikan melalui kombinasi kebijakan moneter jangka pendek dan pembenahan faktor fundamental ekonomi.
Menurut dia, langkah yang dilakukan Bank Indonesia (BI) saat ini sudah berada di jalur yang tepat, mulai dari operasi pasar melalui jual beli rupiah, penyerapan likuiditas lewat instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Sekuritas Valuta Asing Bank Indonesia (SVBI), hingga kenaikan suku bunga acuan.
Namun, dia menilai efektivitas kebijakan tersebut berkurang karena adanya penambahan likuiditas dari sisi fiskal. Salah satunya melalui penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) senilai Rp200 triliun di bank-bank Himbara.
Wijayanto juga menilai kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dilakukan terlambat. Menurut dia, dampak kenaikan suku bunga terhadap penguatan rupiah juga terbatas karena muncul sentimen negatif.
"Dampak dari kenaikan Bl rate terhadap nilai tukar rupiah minim, karena: (1) pada saat bersamaan pemerintah mengumumkan dibentuknya Badan Ekspor yang mendapat sentiment negatif, (2) selama ini pelaku pasar sudah bermain di SRBI dengan bunga 6,8 persen, sehingga BI Rate kurang nendang," katanya dikutip Selasa (2/6/2026).
Selain itu, dia menilai rencana penerapan Bond Stabilization Fund (BSF) senilai Rp2 triliun per hari untuk menjaga stabilitas harga Surat Berharga Negara (SBN) tidak akan berjalan efektif, terutama karena nilai intervensinya diumumkan secara terbuka.
