Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Fenomena Keuangan yang Semakin Sering Dialami Gen Z

5 Fenomena Keuangan yang Semakin Sering Dialami Gen Z
ilustrasi seorang wanita dan uang (pexels.com/Kaboompics)
Intinya Sih
  • PayLater memudahkan belanja, tetapi transaksi berulang dapat menumpuk menjadi utang kmoneyonsumtif yang mengurangi ruang untuk menabung dan berinvestasi.

  • Tekanan mental, ketidakpastian ekonomi, dan media sosial memicu doom spending serta dysmorphia, sehingga keputusan keuangan kerap dipengaruhi emosi dan perbandingan sosial.

  • Kenaikan biaya hidup dan FOMO mendorong inflasi gaya hidup, membuat Gen Z sulit menabung meski perlu membangun dana darurat melalui konsistensi nominal kecil.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Generasi Z tumbuh di tengah perubahan ekonomi dan teknologi yang berlangsung sangat cepat. Kemudahan bertransaksi secara digital, maraknya media sosial, hingga munculnya berbagai instrumen investasi baru membuat cara mengelola keuangan generasi ini berbeda dibanding generasi sebelumnya. Akibatnya, muncul berbagai kebiasaan finansial yang kini semakin umum dijumpai.

Di sisi lain, Gen Z juga menghadapi tantangan seperti kenaikan biaya hidup, persaingan kerja, dan ketidakpastian ekonomi global. Kondisi tersebut memengaruhi cara mereka membelanjakan, menyimpan, maupun mengembangkan uang. Berikut lima fenomena keuangan yang semakin sering dialami oleh Gen Z.

1. Terjebak PayLater untuk memenuhi gaya hidup

5 Fenomena Keuangan yang Semakin Sering Dialami Gen Z
ilustrasi belanja online (pexels.com/Negative Space)

Layanan PayLater menawarkan kemudahan membeli barang tanpa harus membayar penuh di awal. Bagi banyak Gen Z, fitur ini terasa praktis karena cicilan bulanan terlihat ringan dan proses pengajuannya jauh lebih cepat dibanding pinjaman konvensional. Akibatnya, pembelian barang seperti pakaian, gadget, hingga kebutuhan hiburan sering dilakukan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap kondisi keuangan beberapa bulan ke depan.

Masalah muncul ketika transaksi dilakukan berulang pada berbagai platform. Tagihan yang awalnya tampak kecil dapat menumpuk menjadi beban bulanan yang cukup besar sehingga mengurangi ruang untuk menabung maupun berinvestasi. Jika tidak dikelola dengan baik, PayLater dapat mendorong kita menghabiskan pendapatan untuk membayar utang konsumtif daripada membangun kondisi finansial yang lebih sehat.

2. Doom spending saat kondisi mental terganggu

ilustrasi belanja
ilustrasi belanja (pexels.com/Max Fischer)

Doom spending adalah kebiasaan membeli barang sebagai pelarian dari stres dan kecemasan. Ketika kita merasa tertekan oleh pekerjaan, kondisi ekonomi, atau berita yang terus membanjiri media sosial, berbelanja sering dianggap sebagai cara cepat untuk memperoleh rasa senang. Sayangnya, efek tersebut biasanya hanya bertahan dalam waktu singkat.

Setelah dorongan emosional mereda, muncul penyesalan karena uang telah digunakan untuk barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena ini semakin sering dibahas karena banyak penelitian mengaitkannya dengan tekanan psikologis dan ketidakpastian ekonomi. Mengenali pemicu emosional sebelum berbelanja dapat membantu kita membuat keputusan yang lebih rasional dan menghindari pengeluaran yang tidak perlu.

3. Money dysmorphia yang memengaruhi cara mengelola uang

ilustrasi pria memegang uang
ilustrasi pria memegang uang (pexels.com/Karolina Grabowska)

Istilah money dysmorphia menggambarkan kondisi ketika kita memiliki persepsi yang kurang akurat terhadap keadaan finansial pribadi. Ada yang merasa dirinya selalu kekurangan uang meskipun memiliki tabungan yang cukup, sementara ada pula yang terlalu percaya diri terhadap kondisi keuangannya meski sebenarnya masih rentan. Pola pikir seperti ini dapat memengaruhi cara kita mengambil keputusan finansial.

Media sosial menjadi salah satu faktor yang memperkuat fenomena tersebut. Melihat pencapaian, penghasilan, atau gaya hidup orang lain setiap hari dapat membuat kita terus membandingkan kondisi diri sendiri. Akibatnya, rasa tidak aman terhadap uang semakin meningkat meski secara objektif kondisi keuangan sebenarnya masih baik. Karena itu, memahami kondisi finansial berdasarkan data dan anggaran pribadi jauh lebih penting daripada membandingkannya dengan kehidupan orang lain.

4. Inflasi gaya hidup karena takut ketinggalan tren

ilustrasi berbelanja
ilustrasi berbelanja (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Ketika pendapatan meningkat, pengeluaran sering ikut bertambah karena muncul keinginan untuk memiliki barang yang lebih mahal atau yang sedang populer. Fenomena ini dikenal sebagai inflasi gaya hidup dan banyak dipengaruhi oleh fear of missing out. Keinginan untuk tetap terlihat setara dengan lingkungan membuat kita lebih mudah membeli sesuatu yang sebenarnya belum menjadi kebutuhan.

Media sosial turut mempercepat munculnya perilaku tersebut karena tren baru dapat menyebar dalam hitungan jam. Mulai dari gadget, fashion, hingga tempat makan viral sering memunculkan dorongan untuk ikut mencoba agar tidak merasa tertinggal. Jika terus dilakukan, kenaikan penghasilan tidak akan diikuti dengan peningkatan tabungan karena sebagian besar tambahan pendapatan justru habis untuk konsumsi.

5. Sulit menabung akibat biaya hidup meningkat

ilustrasi menghitung struk belanja
ilustrasi menghitung struk belanja (pexels.com/Kaboompics)

Banyak Gen Z memiliki kesadaran untuk membangun dana darurat dan berinvestasi sejak usia muda. Namun, keinginan tersebut sering berbenturan dengan kenyataan bahwa biaya hidup terus meningkat. Pengeluaran untuk tempat tinggal, makanan, transportasi, kesehatan, hingga hiburan menghabiskan sebagian besar pendapatan sehingga hanya sedikit uang yang tersisa pada akhir bulan.

Kondisi tersebut membuat tujuan keuangan jangka panjang menjadi lebih sulit dicapai. Meski demikian, bukan berarti menabung harus menunggu penghasilan yang jauh lebih besar. Menyisihkan dana dalam jumlah kecil secara konsisten tetap menjadi langkah yang efektif untuk membangun kebiasaan finansial yang sehat. Seiring meningkatnya pendapatan di masa depan, kebiasaan tersebut akan lebih mudah dipertahankan dibanding memulai dari nol.

Perkembangan teknologi dan perubahan kondisi ekonomi membuat tantangan keuangan yang dihadapi Gen Z semakin beragam. Memahami berbagai fenomena di atas dapat membantu kita mengenali kebiasaan yang berpotensi merugikan kondisi finansial. Dengan literasi keuangan yang baik, setiap keputusan dapat diambil secara lebih bijak sehingga tujuan keuangan jangka panjang menjadi lebih mudah dicapai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More