Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Alasan Kenapa Kondisi Finansial Kalangan Menengah Sulit Naik Level

6 Alasan Kenapa Kondisi Finansial Kalangan Menengah Sulit Naik Level
ilustrasi kelas menengah (unsplash.com/Samuel Toh)

Kamu pasti pernah mendengar ungkapan "miskin tetap miskin, kaya semakin kaya". Fenomena ini memang kerap kali menjadi kenyataan dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya di kalangan bawah, tetapi juga kalangan menengah yang sering merasa sulit untuk naik kelas.

Meski banyak yang sudah bekerja keras, menghemat, dan berusaha meningkatkan pendapatan, kenyataannya kondisi finansial mereka sering kali stagnan. Kenapa bisa begitu? Apa yang menyebabkan kalangan menengah sulit untuk mencapai tingkat finansial yang lebih baik?

Berikut ini akan dibahas enam alasan utama yang membuat kondisi finansial kalangan menengah sulit naik level. Mari kita simak bersama!

1. Masih minimnya literasi keuangan

ilustrasi sedang belajar (unsplash.com/Green Chameleon)
ilustrasi sedang belajar (unsplash.com/Green Chameleon)

Literasi keuangan adalah kemampuan untuk memahami dan mengelola keuangan pribadi dengan baik. Sayangnya, banyak orang di kalangan menengah yang belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang pengelolaan keuangan yang tepat. Mereka mungkin tahu cara menabung, tetapi tidak memahami cara berinvestasi yang efektif atau bagaimana membuat anggaran yang benar.

Akibat dari minimnya literasi keuangan, banyak yang terjebak dalam kebiasaan finansial yang kurang sehat. Misalnya, menghabiskan gaji untuk kebutuhan konsumtif daripada untuk investasi atau dana darurat. Ketidaktahuan inilah yang bikin mereka sulit untuk mengembangkan aset dan akhirnya terjebak dalam siklus finansial yang stagnan.

2. Keterbatasan akses terhadap modal

ilustrasi menghitung uang (unsplash.com/Alexander Grey)
ilustrasi menghitung uang (unsplash.com/Alexander Grey)

Seperti kita tahu, untuk bisa berinvestasi atau memulai usaha yang bisa meningkatkan penghasilan tentunya dibutuhkan modal yang cukup. Namun, gak semua orang di kalangan menengah memiliki akses yang mudah terhadap modal. Proses pengajuan pinjaman yang rumit serta syarat yang ketat sering kali menjadi hambatan.

Tanpa modal yang cukup, akhirnya mereka tidak bisa melakukan investasi skala besar yang sebenarnya bisa memberikan keuntungan besar. Akibatnya, peluang untuk meningkatkan kondisi finansial menjadi terbatas. Mereka pun lebih memilih untuk bermain aman dengan menabung, meskipun bunga tabungan sering kali tidak sebanding dengan inflasi.

3. Tingginya biaya kebutuhan sehari-hari

ilustrasi anak sekolah baca buku (pexels.com/RODNAE Productions)
ilustrasi anak sekolah baca buku (pexels.com/RODNAE Productions)

Kebutuhan sehari-hari seperti makanan, transportasi, dan pendidikan anak semakin hari semakin mahal. Kondisi ini yang kemudian membuat porsi penghasilan yang bisa disisihkan untuk investasi atau menabung menjadi sangat kecil.

Padahal, untuk bisa naik kelas secara finansial, dibutuhkan investasi yang cukup besar dan konsisten. Tingginya biaya hidup ini menjadi salah satu penghambat utama bagi kalangan menengah untuk meningkatkan kondisi keuangan mereka.

4. Kenaikan gaji yang tidak signifikan dibanding kenaikan inflasi

ilustrasi gaji (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
ilustrasi gaji (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Salah satu kenyataan pahit yang sering dialami oleh kalangan menengah, yakni kenaikan gaji yang tidak sebanding dengan kenaikan inflasi. Meskipun setiap tahun gaji mungkin naik, namun jika dibandingkan dengan kenaikan harga barang dan jasa, nilai kenaikannya sering kali tidak terasa. Hal ini membuat kalangan menengah kesulitan untuk meningkatkan kondisi finansial mereka karena kenaikan gaji tidak cukup untuk menutupi peningkatan biaya hidup.

5. Masih buruknya manajemen keuangan

ilustrasi KPR (unsplash.com/Tierra Mallorca)
ilustrasi KPR (unsplash.com/Tierra Mallorca)

Banyak orang di kalangan menengah belum menerapkan manajemen keuangan dengan baik. Hal ini ditandai dengan kecenderungan mereka menghabiskan uang tanpa perencanaan yang matang. Fenomena ini sering kali terlihat dari banyaknya utang atau cicilan yang mereka miliki.

Utang yang menumpuk dan cicilan yang harus dibayar setiap bulan membuat sebagian besar penghasilan habis begitu saja. Hal ini tentu akan menghambat kemampuan mereka untuk menabung atau berinvestasi yang pada akhirnya kesulitan untuk memperbaiki kondisi finansial.

6. Mindset yang takut akan risiko dan memilih zona nyaman

ilustrasi investasi (unsplash.com/MayoFi)
ilustrasi investasi (unsplash.com/MayoFi)

Mindset yang takut akan risiko membuat banyak orang di kalangan menengah enggan untuk mencoba hal baru yang berpotensi meningkatkan penghasilan mereka. Mereka lebih memilih berada di zona nyaman dengan pekerjaan tetap meskipun penghasilannya tidak besar.

Memilih zona nyaman memang terasa aman, tetapi hal ini sering kali membuat mereka tidak berkembang. Tanpa mencoba hal baru dan mengambil risiko, peluang untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar menjadi sangat terbatas. Mindset ini kemudian yang jadi penghambat utama dalam upaya untuk naik kelas secara finansial.

Mengatasi hambatan-hambatan ini memang gak mudah, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Dengan mencari solusi dari berbagai hambatan tadi, pelan tapi pasti kondisi finansialmu tentu akan meningkat. Memang gak instan, tetapi dengan usaha yang konsisten, naik kelas secara finansial kalangan menengah bukanlah hal yang mustahil.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
L A L A .
EditorL A L A .
Follow Us

Latest in Business

See More

IHSG Bangkit ke 7.200-an, Cek Saham-Saham yang Paling Cuan

08 Apr 2026, 16:32 WIBBusiness