Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Cerita Eks Driver Grab Sukses Kembangkan Usaha Kuliner Baso Aci Mastyo

Cerita Eks Driver Grab Sukses Kembangkan Usaha Kuliner Baso Aci Mastyo
Nuryadi, pemilik Baso Aci Mastyo, yang memulai perjalanan sebagai Mitra Pengemudi Grab dan kini berkembang sebagai mitra yang “naik kelas”, mengembangkan usaha kuliner dari rumah dengan memanfaatkan ekosistem Grab. (Dok/Istimewa).
Intinya Sih
  • Nuryadi, mantan driver Grab, sukses membangun usaha kuliner Baso Aci Mastyo sejak 2020 setelah melihat peluang besar di bisnis makanan online.
  • Ia mengandalkan strategi digitalisasi penuh, memanfaatkan promosi dan fitur platform untuk memperluas jangkauan pelanggan dari lokasi yang sulit dijangkau.
  • Sekitar 90 persen transaksi Baso Aci Mastyo berasal dari pesanan online, menunjukkan efektivitas strategi digital yang diterapkan Mas Nur bersama dukungan keluarga dan komunitas merchant.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Berawal dari profesinya sebagai mitra pengemudi Grab, Nuryadi kini sukses mengembangkan usaha kuliner Baso Aci Mastyo yang mengandalkan penjualan berbasis digital. Usaha ini dijalankan dari rumah, dan perjalanannya ini menunjukkan bagaimana pengalaman di lapangan, pemanfaatan platform digital, serta dukungan komunitas dapat membuka peluang bagi mitra untuk berkembang dan “naik kelas” menjadi pelaku usaha.

Pria yang akrab disapa Mas Nur ini memulai perjalanannya sebagai driver pada 2019. Dari aktivitas mengantarkan pesanan pelanggan setiap hari, ia melihat peluang besar di bisnis makanan online yang terus tumbuh.

“Dulu, waktu masih menjadi driver, saya terbiasa menunggu orderan masuk. Namun ketika mulai memiliki usaha sendiri, saya harus berpikir setiap hari bagaimana caranya agar usaha tetap berjalan dan terus berkembang,” ujarnya saat menceritakan pengalamannya, dikutip, Rabu (8/4/2026).

1. Tahun 2020 mulai merintis usaha Baso Aci Mastyo

Screenshot 2026-04-08 152120.jpg
Nuryadi, pemilik Baso Aci Mastyo, yang memulai perjalanan sebagai Mitra Pengemudi Grab dan kini berkembang sebagai mitra yang “naik kelas”, mengembangkan usaha kuliner dari rumah dengan memanfaatkan ekosistem Grab. (Dok/Istimewa).

Peluang tersebut mendorong Mas Nur mencoba peruntungan di bisnis kuliner. Ia memulai usaha pertamanya melalui Salad Buah Arjuna, memanfaatkan tren makanan berbahan buah yang saat itu tengah populer di platform pesan-antar.

Namun, pandemi COVID-19 mengubah tren pasar. Permintaan terhadap salad buah menurun, sehingga Mas Nur beralih mencari produk lain yang lebih diminati konsumen. Dari pengamatannya, menu seperti seblak dan baso aci mulai naik daun. Pada 2020, ia pun merintis usaha Baso Aci Mastyo, yang namanya diambil dari anak pertamanya.

2. Manfaatkan secara optimal penjualan secara digital

Screenshot 2026-04-08 152135.jpg
Nuryadi, pemilik Baso Aci Mastyo, yang memulai perjalanan sebagai Mitra Pengemudi Grab dan kini berkembang sebagai mitra yang “naik kelas”, mengembangkan usaha kuliner dari rumah dengan memanfaatkan ekosistem Grab. (Dok/Istimewa).

Ia hanya menempuh pendidikan hingga tingkat SMK karena keterbatasan ekonomi keluarga. Pengalaman tersebut kemudian mendorongnya untuk terus berusaha memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anaknya.

Lokasi usahanya yang berada di gang sempit membuatnya sulit mengandalkan pelanggan yang datang langsung. Karena itu, ia menilai digitalisasi sangat penting untuk memasarkan produknya sekaligus memperluas jangkauan pembeli.

“Kalau hanya mengandalkan pelanggan sekitar, tentu sangat terbatas. Tanpa digitalisasi, ‘kolam usaha’ kita juga jadi jauh lebih kecil,” ungkapnya.

3. Mayoritas transaksi bakso berasal dari pesanan online

Ilustrasi digital marketer (freepik.com/rawpixel.com)
Ilustrasi digital marketer (freepik.com/rawpixel.com)

Ia pun aktif memanfaatkan berbagai fitur di platform, termasuk layanan promosi dan GrabAds untuk meningkatkan visibilitas produk. Selain itu, strategi subsidi ongkos kirim juga diterapkan untuk menarik pelanggan dari lokasi yang lebih jauh.

Mas Nur mengaku kerap memberikan promo gratis ongkir sekitar Rp15.000 hingga Rp20.000 dengan minimum pembelian Rp150 ribu guna menjaga daya tarik pembelian.

"Strategi tersebut mulai membuahkan hasil. Saat ini, Baso Aci Mastyo mampu menjual sekitar 70 hingga 80 porsi per hari, dengan sekitar 90 persen transaksi berasal dari pesanan online," jelasnya.

4. Andalkan strategi penjualan digital

Screenshot 2026-04-08 152135.jpg
Nuryadi, pemilik Baso Aci Mastyo, yang memulai perjalanan sebagai Mitra Pengemudi Grab dan kini berkembang sebagai mitra yang “naik kelas”, mengembangkan usaha kuliner dari rumah dengan memanfaatkan ekosistem Grab. (Dok/Istimewa).

Perkembangan usaha ini bahkan sempat mendorong Mas Nur membuka dua cabang di Gandul dan Pintu Air. Namun, perubahan kondisi pasar selama pandemi membuat sebagian cabang tersebut harus ditutup. Kini, ia memfokuskan operasional pada satu outlet utama sambil tetap mengandalkan strategi penjualan digital.

Dalam menjalankan usaha, Mas Nur dibantu oleh istri, adik, serta beberapa karyawan yang mengelola operasional harian. Selain dukungan keluarga, komunitas merchant Grab juga menjadi bagian penting dalam perjalanannya. Melalui komunitas tersebut, para pelaku usaha saling berbagi pengalaman dan strategi untuk mengembangkan bisnis.

“Di komunitas ini kami sering saling membantu dan berbagi pengalaman. Ketika ada yang mengalami kesulitan, teman-teman lain turut memberikan dukungan. Saya merasa usaha ini tidak akan berkembang sejauh ini tanpa dukungan komunitas,” tuturnya.

Sejalan dengan perjalanan usahanya, Mas Nur selalu memegang prinsip amanah dan kejujuran. Menurutnya, dalam bisnis online, pelanggan memang tidak melihat langsung proses pembuatan makanan, tetapi integritas tetap menjadi hal utama.

Menurutnya dalam membangun Baso Aci Mastyo juga mengajarkannya bahwa untuk bisa “naik kelas”, seseorang harus berani mengambil keputusan dan tidak takut mencoba hal baru. Dalam setiap usaha pasti ada risiko, namun keberanian untuk memulai dan terus mencari peluang adalah kunci utama.

“Kalau ingin memulai usaha, mulai saja dulu. Jangan terlalu takut. Bisnis yang tidak pernah berjalan adalah bisnis yang tidak pernah dimulai,” ujarnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More