Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Alasan Kenapa Gaji Naik tapi Daya Beli Turun? Cek, Yuk!
ilustrasi kenapa gaji naik tapi daya beli turun (pexels.com/Defrino Maasy)
  • Inflasi dapat membuat kenaikan harga kebutuhan melampaui atau menyamai kenaikan gaji, sehingga upah riil dan kemampuan belanja melemah.
  • Kenaikan pendapatan sering diikuti gaya hidup lebih mahal, potongan pajak serta iuran lebih besar, dan bertambahnya kebutuhan seperti cicilan atau dukungan keluarga.
  • Suku bunga pinjaman, utang konsumtif paylater, serta minimnya dana darurat dan investasi dapat menggerus tambahan gaji untuk tagihan dan pengeluaran tak terduga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Apakah kamu merasa kalau nominal di slip gaji sudah bertambah, tapi isi dompet malah makin cepat ludes sebelum akhir bulan? Fenomena ini sering bikin overthinking, apalagi pas lagi buka aplikasi m-banking di minggu kedua. Kamu pasti bertanya-tanya dan kebingungan, sebenarnya kenapa gaji naik tapi daya beli turun? Rasanya kayak kerja keras bagai kuda selama ini cuma numpang lewat di rekening tanpa sisa yang berarti.

Kalau kebingungan finansial ini gak segera kamu sadari dan atasi, kamu bakal terus terjebak dalam siklus kehabisan uang alias hidup paycheck to paycheck. Gak cuma bikin stres pikiran dan mengganggu kestabilan mental health, kamu juga akan kesulitan buat menabung dana darurat atau merencanakan masa depan. Pada akhirnya, kamu berisiko menumpuk utang pinjaman hanya untuk menutupi kebutuhan sehari-hari yang rasanya makin mencekik dompetmu.


1. Ancaman inflasi diam-diam

ilustrasi menghitung pengeluaran lebih banyak karena inflasi (pexels.com/Karolina Kaboompics)

Inflasi menjadi musuh tak kasat mata yang sering bikin nilai uang kamu merosot tanpa permisi. Bayangkan saja, harga barang kebutuhan pokok seperti beras, telur, hingga ongkos transportasi terus merangkak naik setiap tahunnya.

Kenaikan harga ini seringkali lebih tinggi atau setidaknya seimbang dengan persentase kenaikan gaji tahunan yang kamu terima. Jadi, secara matematis nominal uangmu memang terlihat lebih banyak, tapi kemampuan uang tersebut buat beli barang nyatanya sudah melemah, lho.

Bisa dibilang upah riil kamu sebenarnya mandek atau malah minus kalau dipotong inflasi. Contoh gampangnya, dulu bawa uang seratus ribu ke minimarket sudah bisa dapat banyak jajanan, sekarang dapet dua atau tiga macam saja sudah untung. Makanya, jangan langsung foya-foya dulu mentang-mentang dapat email persetujuan naik gaji dari HRD, ya. 


2. Gaya hidup yang ikut naik

ilustrasi orang yang self-reward dengan belanja (pexels.com/Gustavo Fring)

Ada satu hukum tak tertulis di dunia pekerja yang bernama lifestyle inflation, di mana pengeluaranmu otomatis naik seiring dengan bertambahnya pendapatan. Dulu waktu gaji masih UMR pas-pasan, kamu masih bisa nyaman ngopi di warkop atau bawa bekal dari rumah.

Begitu gaji sudah dua digit, tiba-tiba standar ngopi berubah jadi wajib di kafe kekinian yang kopinya seharga makan siang tiga hari. Hal inilah yang jadi penyebab utama kenapa rasanya uang selalu kurang meski pemasukan udah lumayan, guys.

Memang memberikan reward ke diri sendiri setelah capek kerja itu boleh dan sah-sah saja, kok. Namun, kalau setiap hari kamu self-reward pakai alasan healing, yang ada malah rekening kamu yang butuh dirawat inap.

Ingat ya, upgrade gaji itu seharusnya dipakai buat upgrade aset dan tabungan, bukan cuma untuk menaikan gengsi di media sosial. Jadi, kurang-kurang checkout keranjang belanjaan online yang isinya barang-barang lucu tapi gak penting, biar dompetmu bisa sedikit bernapas lega.


3. Pajak dan potongan ekstra

ilustrasi jenis pajak PPh 21 (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Banyak yang cuma fokus pada angka gaji kotor alias gross salary yang tertulis di kontrak kerja yang baru. Padahal, semakin tinggi gajimu, otomatis potongan Pajak Penghasilan (PPh 21) yang harus kamu tanggung juga akan masuk ke persentase yang lebih besar, lho.

Selain pajak, biasanya ada juga penyesuaian potongan BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, hingga iuran pensiun yang nominalnya ikut merangkak naik. Alhasil, selisih gaji bersih yang masuk ke rekening atau take home pay jadinya gak sebesar ekspektasi awal kamu.

Hal inilah yang sering bikin kaget pas slip gaji bulan pertama dengan rate baru akhirnya rilis di sistem HR. Kamu sudah keburu bikin daftar belanja panjang lebar, eh, ternyata uang yang cair gak sesuai bayangan karena terpotong ini itu secara progresif. Nasihat terbaik untuk kamu adalah selalu hitung simulasi take home pay secara realistis sebelum mengubah standar hidup bulanan, ya.


4. Keinginan yang bercampur dengan kebutuhan

ilustrasi menentukan daftar kebutuhan (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, kebutuhan hidup sebagai orang dewasa pastinya semakin kompleks dan beragam. Kamu mungkin mulai harus bayar cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), mencicil kendaraan, atau bahkan membantu keuangan orang tua alias menjadi generasi sandwich.

Kebutuhan-kebutuhan baru yang sifatnya wajib ini langsung memakan porsi besar dari tambahan gaji yang baru saja kamu dapatkan. Kalau gak pinter-pinter atur prioritas, gaji sebesar apa pun pasti akan selalu terasa kurang untuk menutup semuanya.

Di sinilah pentingnya mempunyai ketegasan sama diri sendiri untuk memisahkan mana yang benar-benar kebutuhan krusial dan mana yang cuma lapar mata. Contohnya, lebih baik kamu fokus lunasi cicilan yang berbunga tinggi daripada memaksakan ganti gadget seri terbaru setiap tahun rilis.

Percayalah, perasaan aman karena gak dikejar-kejar tagihan itu jauh lebih nikmat daripada dapat validasi sesaat dari teman nongkrong. Yuk, mulai rajin mencatat cash flow harianmu supaya setiap lembar rupiah yang kamu hasilkan punya tujuan yang jelas dan gak menguap gitu saja.


5. Kenaikan harga suku bunga

ilustrasi KPR rumah semakin naik mengikuti suku bunga acuan (pexels.com/Thirdman)

Faktor eksternal lain yang sering gak disadari oleh para pekerja muda adalah gejolak suku bunga acuan dari bank sentral. Ketika suku bunga acuan mengalami kenaikan, suku bunga pinjaman seperti KPR atau Kredit Tanpa Agunan (KTA) biasanya akan ikut melambung.

Bagi kamu yang memiliki cicilan berjenis floating rate, angka angsuran bulanan yang harus kamu bayarkan secara otomatis akan membengkak signifikan. Akibatnya, porsi gaji yang seharusnya bisa kamu pakai buat belanja kebutuhan sehari-hari malah tergerus untuk membayar bunga pinjaman yang makin mahal.

Fenomena ini kerap membuatmu merasa gaji yang naik seolah gak pernah ada bekasnya sama sekali di rekening. Bayangkan saja, kenaikan gaji sebesar Rp500 ribu bisa langsung ludes hanya untuk menutup kenaikan cicilan rumah di bulan yang sama.

Solusinya, coba tinjau ulang semua portofolio utang kamu dan pertimbangkan untuk melakukan take over kredit jika ada penawaran bunga yang lebih kompetitif. Jangan ragu buat berkonsultasi dengan pihak bank agar keuanganmu gak makin tekor akibat tergerus suku bunga yang melesat tinggi, ya.


6. Jebakan utang konsumtif

ilustrasi menghitung utang yang dimiliki bersama dengan pasangan (pexels.com/Mikhail Nilov)

Kemudahan akses ke layanan keuangan digital seperti paylater dan pinjaman online bagaikan pisau bermata dua buat anak muda zaman sekarang. Fitur ini memang sangat praktis buat membeli barang idaman saat tanggal tua atau sedang butuh barang mendesak secara cepat.

Kendati demikian, akumulasi bunga harian dan denda keterlambatan dari tagihan konsumtif ini kerap luput dari kalkulasi bulanan kamu. Ketika kenaikan gaji tiba, sebagian besar dana baru tersebut akhirnya cuma terpakai buat menutupi tumpukan tagihan paylater dari bulan-bulan sebelumnya.

Siklus gali lubang tutup lubang ini jadi salah satu penyebab paling mematikan yang merusak daya beli masyarakat urban saat ini. Kamu merasa sudah berpenghasilan lebih besar, padahal hakikatnya kamu hanya sedang membayar barang-barang masa lalu yang nilainya terus menyusut.

Cobalah untuk membatasi atau bahkan menghapus sementara aplikasi pinjaman konsumtif dari ponsel pintarmu demi kesehatan finansial jangka panjang, ya. Gantilah kebiasaan mencicil barang konsumtif dengan gaya hidup frugal yang lebih berfokus pada akumulasi dana tunai secara sehat.


7. Dana darurat yang terbengkalai

ilustrasi menyiapkan dana darurat (pexels.com/Ahsanjaya)

Kurangnya alokasi untuk dana darurat dan instrumen investasi yang tepat membuat uang kasmu rentan tergerus oleh laju inflasi bulanan. Banyak pekerja yang membiarkan sisa gaji mereka mengendap begitu saja di rekening tabungan biasa dengan suku bunga yang sangat minim. Padahal, nilai uang kas yang didiamkan tanpa diputar di instrumen investasi terukur akan terdevaluasi secara perlahan seiring berjalannya waktu.

Selain itu, tanpa adanya dana darurat yang memadai, setiap ada pengeluaran tak terduga kamu pasti akan terpaksa memotong anggaran kebutuhan pokok harian. Hal inilah yang menyebabkan kamu merasa daya belimu terus merosot padahal angka di dalam kontrak kerja selalu naik secara berkala, lho.

Mumpung gaji baru saja disesuaikan naik, alokasikan setidaknya sepuluh hingga dua puluh persen dari kenaikan tersebut langsung ke instrumen reksa dana pasar uang atau emas. Jangan biarkan uangmu mengendap dingin di rekening utama yang gatal ingin dipakai belanja setiap kali melihat promo tanggal kembar. Dengan memutar uang pada instrumen yang tepat, daya beli kamu akan tetap terjaga kuat di tengah gempuran kenaikan harga barang di pasar, kan.

Sekarang kamu sudah paham apa alasan sebenarnya kenapa gaji naik tapi daya beli turun? Intinya, kombinasi antara inflasi, lifestyle inflation, potongan pajak, hingga pengelolaan utang konsumtif yang kurang bijak jadi biang kerok utama masalah ini, lho. Tetap semangat dan mulailah lebih bijak mengelola keuanganmu dari sekarang, ya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article