ilustrasi menghitung zakat (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
Biar gak bingung, kamu harus tahu kalau kedua jenis zakat ini mempunyai fungsi yang berbeda meskipun tujuannya sama-sama baik. Zakat konsumtif itu sifatnya darurat dan mendesak, seperti memberikan bantuan beras atau uang tunai buat orang yang memang lagi lapar atau sakit. Sedangkan zakat produktif itu lebih ke arah investasi masa depan yang hasilnya gak bisa langsung kelihatan dalam hitungan jam atau hari.
Gak ada yang lebih unggul karena keduanya saling melengkapi dalam ekosistem tolong-menolong di tengah masyarakat kita saat ini. Kalau ada orang yang lagi kelaparan, ya jangan dikasih mesin jahit dulu, tapi berikan makan lewat zakat konsumtif biar dia sehat dulu. Nah, kalau dia sudah sehat dan kuat, baru dikasih zakat produktif biar dia gak lapar lagi di kemudian hari dan bisa mandiri, ya. Ini rincian perbedaan keduanya:
Tujuan utama zakat konsumtif adalah untuk survival atau bertahan hidup dalam jangka pendek agar kebutuhan pokok segera terpenuhi saat itu juga. Ini penting untuk menangani krisis seperti bencana alam atau kemiskinan ekstrem yang bikin orang gak bisa makan hari itu. Kamu gak mau, kan, ada saudara kamu yang sampai kelaparan cuma karena terlalu fokus memikirkan rencana bisnis jangka panjang tanpa melihat perut yang kosong.
Di sisi lain, tujuan zakat produktif adalah kemandirian ekonomi supaya si penerima gak selamanya jadi mustahik atau orang yang dibantu. Kamu pasti ingin suatu saat nanti mereka sukses dan berubah jadi muzakki atau orang yang malah gantian bayar zakat buat bantu orang lain. Jadi, target akhirnya adalah memutus rantai kemiskinan biar jumlah orang susah di sekitar kamu makin berkurang setiap tahunnya dengan cara yang cerdas.
Penerima zakat konsumtif biasanya adalah orang-orang yang memang sudah gak mampu lagi buat bekerja, seperti lansia sebatang kara atau penyandang disabilitas berat. Mereka butuh uluran tangan kamu untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka sehari-hari tanpa ada tuntutan buat menghasilkan sesuatu sebagai timbal baliknya. Memberi mereka adalah bentuk empati terdalam sebagai sesama manusia yang harus saling peduli dan hidup berdampingan dengan damai.
Nah, kalau zakat produktif itu targetnya adalah orang-orang yang masih punya tenaga, kemauan, dan waktu buat berusaha tapi gak punya modal. Mereka ini biasanya para pengangguran usia produktif atau ibu rumah tangga yang ingin membantu ekonomi keluarga lewat jualan kecil-kecilan dari rumah. Dengan memberikan modal ke mereka, kamu lagi membantu orang yang beneran mau usaha tapi cuma butuh sedikit dorongan awal aja buat melangkah.
Wujud zakat konsumtif paling sering dilihat dalam bentuk paket sembako, makanan siap saji, atau santunan uang tunai untuk biaya sekolah. Semuanya merupakan barang yang langsung habis pakai dan manfaatnya dirasakan seketika itu juga oleh si penerima tanpa perlu menunggu lama. Ini beneran membantu untuk mengurangi beban pikiran mereka yang lagi pusing memikirkan besok mau makan apa atau bayar kontrakan pakai uang dari mana.
Sedangkan bentuk zakat produktif bisa berupa modal usaha, peralatan kerja, atau bahkan program pelatihan skill yang bersertifikat resmi. Kadang bentuknya gak cuma barang fisik, tapi juga pendampingan bisnis biar usaha yang dijalankan gak gampang bangkrut di tengah jalan karena kurang ilmu. Jadi, bantuan yang dikasih itu beneran dipikirkan matang-matang biar bisa jadi aset berharga buat masa depan mereka yang jauh lebih cerah dan stabil.