Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bank Mandiri Cetak Laba Rp45,5 Triliun di Kuartal III-2026
Gedung Bank Mandiri. (dok. Bank Mandiri)
  • Bank Mandiri membukukan laba bersih konsolidasi Rp45,5 triliun hingga kuartal III-2026, tumbuh 20,7 persen secara tahunan.

  • Kredit bank only mencapai Rp1.605,8 triliun, naik 16 persen; DPK tumbuh 17,7 persen menjadi Rp1.750,2 triliun dan aset meningkat 20,1 persen.

  • Pendapatan bunga mencapai Rp97,3 triliun, sementara NPL bruto membaik menjadi 0,98 persen; CAR bank only tercatat 18,48 persen.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) membukukan laba bersih konsolidasi Rp45,5 triliun hingga kuartal III-2026. Laba tumbuh 20,7 persen dibandingkan kuartal III-2025 atau secara year on year (yoy).

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini mengatakan, pihaknya berupaya memperkuat layanan untuk memenuhi kebutuhan transaksi nasabah, sekaligus menjaga operasional perusahaan makin efisien.

“Kombinasi ini yang terus kami perkuat agar pertumbuhan laba tetap terjaga,” kata Novita dikutip Minggu, (1/11/2026).

Peningkatan produktivitas tersebut turut tercermin pada cost to income ratio (CIR) bank only yang membaik menjadi 36,1 persen, dari 43 persen setahun sebelumnya. Sementara itu, return on equity(ROE) mencapai 23,6 persen dan return on assets (ROA) sebesar 2,99 persen.

1. Kredit Bank Mandiri tumbuh 16 persen

Livin' by Mandiri. (dok. Bank Mandiri)

Novita menyampaikan, dari sisi intermediasi, kredit Bank Mandiri secara bank only mencapai Rp1.605,8 triliun per September 2026, tumbuh 16 persen (yoy).

Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp1.750,2 triliun tumbuh 17,7 persen (yoy), turut mendukung intermediasi yang tetap kuat.

Sementara itu, total aset hingga akhir kuartal III-2026 tercatat Rp2.404,1 triliun, meningkat 20,1 persen (yoy).

Novita mengatakan, pertumbuhan bisnis Bank Mandiri telah menjangkau berbagai sektor dalam ekosistem perekonomian nasional, mulai dari pemerintah dan BUMN, sektor usaha penopang ekonomi, hingga UMKM dan masyarakat.

Dukungan tersebut diwujudkan melalui pembiayaan pembangunan dan layanan publik, penguatan daya saing pelaku usaha, serta penyaluran kredit usaha mikro non-subsidi yang telah menjangkau 37 provinsi.

2. Pendapatan bunga tembus Rp97,3 triliun

ilustrasi Bank Mandiri (IDN Times/Besse Fadhilah)

Novita menjelaskan, pertumbuhan kredit dan peningkatan transaksi nasabah turut memperkuat pendapatan perseroan. Hingga September 2026, pendapatan bunga tumbuh 7,08 persen secara tahunan menjadi Rp97,3 triliun, sementara pendapatan nonbunga meningkat 13,8 persen menjadi Rp29,4 triliun.

Pendapatan bunga bersih juga tumbuh 6,2 persen menjadi Rp61,2 triliun, sehingga total pendapatan bank only meningkat 8,54 persen menjadi Rp90,6 triliun. Penguatan pendapatan tersebut diikuti penurunan biaya operasional sebesar 9,03 persen menjadi Rp32,7 triliun.

“Pendapatan kami terus tumbuh seiring pertumbuhan kredit dan meningkatnya transaksi nasabah. Kami melihat fee-based income menjadi penopang penting untuk menjaga pertumbuhan laba. Semakin aktif nasabah bertransaksi, semakin besar pendapatan berulang yang bisa kami bangun,” ujarnya.

3. NPL membaik jadi 0,98 persen

Bank Mandiri kembali ditunjuk PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai Bank Pembayaran dan Bank Administrator Rekening Dana Nasabah (RDN) untuk pasar modal. (Dok. Mandiri)

Sejalan dengan penguatan profitabilitas, Direktur Risk Management Bank Mandiri, Danis Subyantoro menjelaskan, kualitas aset tetap menjadi perhatian dalam setiap ekspansi kredit.

Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) bruto bank only membaik menjadi 0,98 persen per September 2026, dari 1,03 persen setahun sebelumnya.

Ketahanan portofolio juga didukung NPL coverage ratio bank only sebesar 243 persen, dengan cost of credit sebesar 0,55 persen.

Pada saat yang sama, rasio kredit dalam perhatian khusus (special mention loan/SML) bank only turun menjadi 2,88 persen, dari 3,35 persen setahun sebelumnya.

Pada segmen korporasi, NPL tercatat 0,30 persen, sementara NPL kredit ekosistem turunan berada pada 0,90 persen.

“Pertumbuhan kredit perlu disertai penilaian risiko dan pemantauan kualitas aset yang disiplin. Dengan pengelolaan tersebut, kami menjaga kualitas portofolio agar Bank Mandiri dapat terus mendukung kebutuhan pembiayaan masyarakat dan dunia usaha,” ujar Danis.

Pertumbuhan bisnis tersebut turut didukung permodalan yang terjaga, dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) bank only sebesar 18,48 persen per September 2026. Posisi ini memberikan ruang bagi Bank Mandiri untuk melanjutkan pengembangan bisnis dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.

Ke depan, Bank Mandiri akan terus memperkuat pertumbuhan bisnis melalui perluasan pembiayaan berbasis ekosistem, peningkatan transaksi nasabah, serta pengembangan layanan digital dan bullion.

Novita mengatakan, langkah tersebut dijalankan dengan tetap menjaga kualitas aset, efisiensi, dan kecukupan modal agar pertumbuhan bisnis dapat memberikan kontribusi yang berkelanjutan bagi perekonomian nasional.

“Fokus kami bukan hanya menjaga pertumbuhan bisnis, tetapi juga memastikan setiap ekspansi memberikan nilai tambah bagi nasabah, pelaku usaha, dan pemegang saham,” ujar Novita.

Curated For You

Editorial Team

Related Article