Bitcoin Tembus 86 Ribu Dolar, Musim Dingin Kripto Berakhir?

- Bitcoin menembus 86.349,90 dolar AS, naik sekitar 5,8–6 persen dalam 24 jam, didorong likuidasi posisi short senilai 710 juta dolar AS.
- Penguatan pasar berisiko, turunnya minyak dan imbal hasil obligasi AS, serta kenaikan saham terkait kripto menopang reli Bitcoin yang kembali melewati rata-rata harga beli ETF spot AS.
- CIO Bitwise Matt Hougan menilai crypto winter telah berakhir berkat fundamental dan keterlibatan institusi, sementara regulasi AS dinilai tetap mendukung industri meski Clarity Act diblokir.
Jakarta, IDN Times – Pasar kripto menguat tajam setelah Bitcoin menembus level 86 ribu dolar AS pada Senin (21/9/2026), titik tertingginya sejak akhir Januari.
Data CoinMetrics yang dilansir CNBC mencatat Bitcoin sempat mencapai 86.349,90 dolar AS (setara Rp1,51 miliar) dan diperdagangkan di level 85.863,40 dolar AS (setara Rp1,50 miliar). Aset kripto terbesar ini membukukan kenaikan sekitar 5,8 persen hingga 6 persen dalam 24 jam terakhir.
Kenaikan tersebut memicu likuidasi besar-besaran pada pasar berjangka yang ikut mempercepat reli harga. Dilansir Geo News, posisi jual pendek menyumbang 96 persen pembelian paksa dari total likuidasi senilai 710 juta dolar AS (setara Rp12,44 triliun) dari sekitar 135 ribu pedagang. Selain itu, posisi senilai lebih dari 300 juta dolar AS (setara Rp5,26 triliun) terlikuidasi hanya dalam kurun waktu satu jam.
Table of Content
1. Pasar berisiko menguat menopang Bitcoin

ilustrasi mata uang digital (pexels.com/Worldspectrum) Dari sisi makro, penguatan aset berisiko berlangsung seiring penurunan harga minyak mentah Brent selama empat sesi beruntun di tengah negosiasi diplomatik AS dan Iran. Pergerakan itu membawa imbal hasil obligasi 10 tahun pemerintah AS turun di bawah 5 persen, sekaligus mengurangi tekanan terhadap pasar kripto. Kondisi ini terjadi saat investor bersiap menghadapi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Trump-Xi pekan ini.
Sentimen positif tersebut juga merambah pasar saham dan memperkuat posisi teknikal Bitcoin. Saham MicroStrategy melonjak 9 persen seiring pembelian Bitcoin yang berlanjut, Securitise naik 8 persen, dan Coinbase menguat 5,6 persen. Sementara itu, Indeks NASDAQ-100 bertambah 2 persen hingga berhasil melewati level 30 ribu.
Pasangan BTC/USD juga menembus rata-rata harga beli investor Dana yang Diperdagangkan di Bursa (ETF) spot AS di level 82.225 dolar AS (setara Rp1,44 miliar) untuk pertama kalinya sejak Januari. Analis BTIG menyebut level 75 ribu dolar AS (setara Rp1,32 miliar) menjadi batas krusial yang perlu dipertahankan pembeli. Hal ini bertujuan agar harga dapat menembus 82 ribu dolar AS (setara Rp1,44 miliar) menuju target 90 ribu dolar AS (setara Rp1,58 miliar).
2. Musim semi kripto menggantikan musim dingin

ilustrasi mata uang digital (pexels.com/Roger Brown) Pergerakan besar tersebut memunculkan spekulasi bahwa musim dingin kripto (crypto winter) telah berakhir setelah Bitcoin menyentuh rekor di atas 126 ribu dolar AS (setara Rp2,21 miliar) pada Oktober 2025. Chief Investment Officer (CIO) Bitwise, Matt Hougan, menilai fase penurunan itu telah selesai seiring meningkatnya transaksi rantai blok dan keterlibatan lembaga besar seperti BlackRock.
“Saya rasa ini sudah berakhir, ini adalah musim semi kripto, bunga crocus bermekaran,” kata Hougan kepada CNBC.
Hougan memperkirakan harga akan mengejar ketertinggalan menjelang akhir tahun dan optimistis aset tersebut tidak berada di bawah rekor tertingginya jika kembali dilihat tahun depan. Menurutnya, industri sempat mengalami penurunan harga secara siklis meskipun terjadi peningkatan fundamental secara sekuler.
3. Regulasi kripto AS tetap mendukung industri

ilustrasi undang-undang AS (pexels.com/Tara Winstead) Reli pasar berlangsung meski Senat AS memblokir RUU Clarity Act, yakni rancangan regulasi yang membagi pengawasan industri antara SEC dan CFTC. Kepastian hukum pasar kripto sebelumnya telah ditopang pengesahan Genius Act pada tahun lalu.
Hougan menyebut kegagalan RUU tersebut membuat pengawasan sementara tetap berada di tangan pimpinan lembaga yang menjabat saat ini. Kondisi tersebut dinilai tetap memberikan keuntungan bagi perkembangan industri kripto di AS.
“Ini adalah SEC paling pro-kripto dalam sejarah AS; ini adalah CFTC paling pro-kripto dalam sejarah AS. Jadi ironisnya, dengan tidak adanya Clarity yang disahkan, kita justru mungkin memiliki regulasi yang lebih kuat yang pro-kripto,” katanya.
Hougan juga menyebut aliran modal mulai kembali berputar menuju pasar kripto. Ia menambahkan bahwa lonjakan saham kecerdasan buatan sebelumnya sempat menyedot perhatian investor. Kini, dana tersebut mulai beralih kembali ke kripto seiring meredanya tren pertumbuhan sektor teknologi tersebut.



















