Penguatan Bitcoin kali ini terjadi ketika pasar aset berisiko secara umum mulai membaik. Arus dana ke ETF Bitcoin spot Amerika Serikat kembali menguat, sementara penurunan harga minyak dan imbal hasil obligasi Treasury AS ikut memperbaiki sentimen pasar. Selain itu, kenaikan BTC memicu likuidasi posisi short yang semakin memperbesar tekanan beli di pasar kripto.
Bitcoin Tembus Level Tertinggi sejak Januari, Apa yang Mendorongnya?

- Bitcoin sempat mencapai US$87.396, level tertinggi sejak Januari 2026, sebelum kembali sekitar US$83.000 setelah pulih dari tekanan mendekati US$75.000 pada awal September.
- Arus masuk ETF Bitcoin spot AS menguat, termasuk US$617,6 juta pada 21 September, sementara likuidasi posisi short bernilai ratusan juta dolar mempercepat tekanan beli.
- Sentimen aset berisiko membaik akibat turunnya harga minyak dan yield Treasury AS, diperkuat penembusan resistance US$82.000–US$83.000 serta kembalinya BTC di atas rata-rata 50 minggu.
Harga Bitcoin kembali mencuri perhatian setelah BTC menembus 87 ribu dolar AS dan mencapai level tertinggi sejak Januari 2026. Bitcoin sempat menyentuh sekitar 87.396 dolar AS sebelum kini kembali di kisaran 83 ribu dolar AS. Kenaikan tersebut menjadi bagian dari pemulihan setelah harga BTC sebelumnya sempat tertekan hingga mendekati 75 ribu dolar AS pada awal September.
1. ETF Bitcoin spot kembali menarik dana investor

ilustrasi Bitcoin (magnific.com/freepik) Salah satu faktor yang mendukung kenaikan Bitcoin adalah kembalinya arus dana ke ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat. Produk investasi tersebut mencatat arus masuk bersih yang cukup besar pada perdagangan terbaru, termasuk sekitar 617,6 juta dolar AS pada 21 September 2026 setelah sebelumnya juga menerima sekitar 433 juta dolar AS pada 18 September. Arus dana tersebut menunjukkan kembali adanya permintaan terhadap Bitcoin melalui instrumen investasi yang diperdagangkan di pasar tradisional.
Permintaan melalui ETF menjadi penting karena pembelian tersebut dapat memberikan tekanan beli langsung terhadap aset yang menjadi acuannya. Ketika aliran dana masuk meningkat bersamaan dengan kenaikan harga, kondisi tersebut dapat memperkuat momentum yang sudah terbentuk di pasar. Namun, keberlanjutan reli tetap bergantung pada apakah arus dana tersebut dapat bertahan setelah kenaikan harga berlangsung.
2. Posisi short yang tertekan mempercepat kenaikan BTC

ilustrasi market cryptocurrency (pexels.com/Tima Miroshnichenko) Kenaikan Bitcoin juga diperkuat oleh likuidasi posisi short atau taruhan bahwa harga akan turun. Ketika BTC berhasil melewati sejumlah level harga penting, sebagian trader yang mengambil posisi short terpaksa membeli kembali Bitcoin untuk menutup posisi mereka. Aktivitas tersebut menciptakan tambahan permintaan dan dapat membuat kenaikan harga berlangsung lebih cepat dalam waktu singkat.
Besarnya likuidasi menunjukkan bahwa pergerakan tersebut tidak hanya berasal dari pembelian investor di pasar spot. Data yang dikutip sejumlah laporan menunjukkan ratusan juta dolar posisi bearish terlikuidasi ketika Bitcoin bergerak melewati 85 ribu dolar AS dan 87 ribu dolar AS. Kondisi seperti ini dapat memperbesar volatilitas karena perubahan harga kecil dapat memicu penutupan posisi leverage dalam jumlah besar.
3. Tekanan harga minyak dan yield AS sedikit lebih ringan

ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Kaboompics) Kondisi makroekonomi juga ikut memberikan ruang bagi aset berisiko seperti Bitcoin untuk menguat. Harga minyak dunia mengalami penurunan selama beberapa sesi terakhir, sementara imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun kembali bergerak di bawah level 5 persen. Penurunan kedua indikator tersebut dapat mengurangi sebagian tekanan yang sebelumnya membebani aset berisiko.
Pergerakan Bitcoin juga berlangsung bersamaan dengan penguatan saham teknologi dan Nasdaq. Korelasi tersebut membuat sentimen risk-on di pasar saham ikut memberikan dukungan terhadap aset kripto. Meski demikian, kondisi makro belum sepenuhnya bebas dari risiko karena inflasi, kebijakan suku bunga, harga energi, dan imbal hasil obligasi masih dapat berubah dengan cepat.
4. BTC menembus resistance dan memperkuat momentum

ilustrasi Bitcoin (unsplash.com/Amjith S) Dari sisi teknikal, Bitcoin berhasil melewati area resistance yang sebelumnya menjadi penghalang kenaikan. BTC bergerak menembus kisaran 82 ribu dolar AS–83 ribu dolar AS sebelum melanjutkan kenaikan menuju 87 ribu dolar AS, sehingga struktur harga jangka pendek menjadi lebih kuat. Bitcoin juga kembali berada di atas rata-rata pergerakan 50 minggu setelah sebelumnya cukup lama berada di bawah level tersebut.
Penembusan level tersebut juga dapat memengaruhi perilaku trader yang sebelumnya menunggu konfirmasi kenaikan. Ketika resistance berhasil ditembus, sebagian pelaku pasar dapat meningkatkan posisi karena menganggap momentum mulai berubah. Namun, kenaikan yang terlalu cepat juga meningkatkan risiko aksi ambil untung, terutama jika arus dana baru tidak mampu mengimbangi posisi leverage yang semakin besar.
Kenaikan Bitcoin hingga di atas 87 ribu dolar AS terjadi karena beberapa faktor yang muncul secara bersamaan, bukan hanya satu pemicu. Arus masuk ETF Bitcoin spot, likuidasi posisi short, membaiknya sentimen terhadap aset berisiko, serta penembusan resistance semuanya ikut mendukung pergerakan tersebut. Pergerakan berikutnya tetap akan dipengaruhi oleh arus dana ETF, kondisi makroekonomi, dan kemampuan Bitcoin mempertahankan level harga yang baru ditembus.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















